Tags

, , , , , , ,

Semuanya karena koneksi dan relasi. Orang sering bilang efek dari silaturahmi. Efek dari reriungan di Kampus yang luar biasa besarnya dan banyak menghasilkan orang-orang hebat dengan ilmu yang mumpuni. Demikianlah saya kemudian bisa berkenalan dengan ekonom-ekonom Indonesia kelas dunia. Dari Mister Wan Abud yang sangat patriotis sekalipun prejengannya lebih mirip juragan minyak dari Arab. Dan Kangmas Mangkusubroto yang sangat rendah hatinya sehingga memilih untuk tinggal di selatan Jogjakarta yang lebih dekat dengan masyarakat desa dibandingkan hidup di dekat kampus yang kini semakin nguto.

Kangmas Mangkusubroto ini salah satu dedengkotnya ekonomi Pancasila. Sedemikian getolnya beliau berkoar-koar tentang indahnya ekonomi Pancasila sampai jarang bolehnya menempati rumahnya, yang halamannya sak hohah itu, di bilangan Imogiri sana, karena harus sering blabar-bleber¬†keliling Indonesia mengisi seminar Ekonomi Pancasila. Walhasil, rumahnya yang magrong-magrong itu lebih sering dipakai untuk bengkel, studio dan konser musik kecil-kecilan oleh anak dan teman sejawatnya yang memang demen sekali sebal-sebul Saxophone dan musik Jazz. “Lebih baik begitu toh Dik, daripada sepi malah dadi omah suwung.” Demikian Kangmas Mangkusubroto selalu ngendikan tentang kondisi rumahnya.

Maka menjadi suatu hal yang cukup luar biasa dan ndingaren ketika mobil BMW Kangmas Mangkusubroto ini mampir di depan rumah. BMW yang bukan keluaran terbaru, padahal beliau mampu beli jika mau. Bahkan mungkin jika ditilik dari STNKnya, ini mobil sudah jatahnya mendapatkan STNK seumur hidup, tapi masih terawat bagus. Suara mesinnya juga masih halus, sehalus dengkuran kucing.

Mendengar suara mobil BMWnya yang sangat familier ini, segera saja saya menyambut Kangmas Mangkusubroto. “Ealah Kangmas, kok ndingaren datang ke rumah saya di tengah kuto. Sudah bosan ngomah di Imogiri nopo ?”

“Hush. Sembarangan wae kowe. La wong ini cuma sekedar menyambung silaturahmi. Sisan mau kondangan nanti malam di Grha Sabha Pramana itu. Ha ya sisan mampir toh? Kebetulan juga aku pas dapet pelem salah mongso di tetangga desa. La aku kan ingat betul nek kowe penggemar pelem sejati. Mesti sekarang sedang sakaw-sakawnya karena pelem sedang sulit diperoleh.”

“Ealah Kangmas.. Kok sampai segitunya toh ? Saya sampai terharu..” Saya menerima sekantung kresek mangga yang saya duga dari harumnya ini jenis Pelem Golek. Wuih.. pelem yang endemik Indonesia dan agak sulit dicari.

“Ini berapa kilo Kangmas ? Kok banyak betul bolehnya beli ?” Tangan saya berusaha menimbang-nimbang pelem yang diberikan, sambil saya persilakan Mister Mangkusubroto masuk ke dalam dan jumeneng di ruang tamu.

“Heyeh.. mana ada satuan kilo kalo di ndeso sana toh Besar ? Disana itu hitungannya ya jinah. Persepuluhan. La ini dapet sak jinah saja. Wong namanya juga pelem salah mongso.”

“Lah kok ini sebelas toh Kangmas ? Bukan sepuluh je.” Saya coba menghitung satu persatu.

“La ya itu versi ekonomi Jawa. Javanese Economic. Sak jinah itu kan sebenarnya artinya sepuluh. Tapi nek kowe beli di desa, dalam satuan jinah, mesti dapetnya sebelas. Soalnya yang satu itu sebagai bentuk apresiasi dan jaga-jaga. Just in case, jika ada barang yang cacat dalam sepuluh yang lain. Orang Jawa itu itung-itungannya ya Pancasilais. Mendahulukan kepentingan pembeli. Walaupun sebenarnya harganya ya sudah diperhitungkan.”

“Heloh.. begitu toh Kangmas ? Saya malah baru tahu.” Saya jadi malu sendiri diceramahi ekonomi ala pedesaan yang saya tidak tahu.

“Lah kowe kie Dosen Ilmu Budaya kok malah baru tahu toh ? ”

“Duh saya jadi isin sendiri ini. Sebagai dosen kok ya malah kelewatan untuk yang beginian. Eh ngunjuk ya Kangmas ? Kopi atau teh ? Nek kopi kebetulan baru ada kopi Temanggung yang masih fresh. Nek teh ya ada teh Tambi yang barusan datang juga.”

“Eh ada kopi Temanggung ya ? Nek gitu ngopi sajalah. Pas sepertinya sore-sore seperti ini ngopi. Kebetulan juga sudah lama ndak nyeruput kopi Temanggung. Biasanya cuma dapet kopi encer di hotel.” Kangmas Mangkusubroto terkekeh.

“Ha ya karang kopi hotel itu lak ya cuma waton dicuweri banyu toh Kangmas. Nek mau yang enak ya kudu ke coffee shop. Lak ya begitu toh hukum ekonominya ? Nek mau yang premium, ya bayarnya juga premium ?”

“Hahaha…. asem tenan kowe Besar. Mbales nih ye ?”

“Guyon saja kok Kangmas. Hahahaha.”

“Wassiiisss… Tolong buatkan 2 cangkir kopi Temanggung yaa ? French Pressed please? Thank youuu..

“Yes Sirr!! Right away Sir!!” Teriak Mister Wasis dari Kitchen area.

Maka sore hari ini rasanya menyenangkan betul. Kopi dan sahabat. Bonus cemilan Pelem golek. Nikmat mana lagi yang kau dustakan ? Ngalkamdulillaaahhh….