Tags

, , ,

Kehadiran Yu Winah di teras sore ini agak mengagetkan. La wong biasanya Yu Winah baru berkenan hadir jika saya yang mengundang, la sore ini kok ujug-ujug Yu Winah sudah ndeprok di teras depan tanpa saya panggil. Saya yang baru saja bangun dari siesta, tentu saja agak bingung.

“Nek ndak salah saya ndak manggil Yu Winah toh ya?” Saking bingungnya saya cuma bisa kukur-kukur kepala.

Mboten kok Pak Besar. Niki saya dipanggil sama Kang Wasis itu. Barusan masuk ke dalam mau ambil piring kataya.” Yu Winah agak melegakan saya. Maklum, saya sudah mulai agak lupa. Terkadang ya membawa perkara yang rada tidak mengenakkan kalau pas lupa. Ya takutnya kali ini saya yang lupa lagi kalau sudah memanggil Yu Winah mampir.

“Weh.. kok tumben ? Ndak biasa-biasanya Mister Wasis berani mengundang Yu Winah.” Batin saya..

Seolah bisa membaca kebingungan saya, Yu Winah bercerita. “Kang Wasis barusan dapat hadiah doorprice dari sabun colek katanya Pak. Jadi saya kecipratan rejeki dipayoni dagangan saya.”

“Ealaaahh… begitu toh ceritanya.. Pantesan…” Saya sumringah setelah bisa membaca jalan cerita kejadian ini.

“Ya namanya urip itu kan Cakra Manggilingan ya Pak Besar. Biasanya Pak Besar yang maringi rejeki buat saya, sekarang giliran Kang Wasis yang maringi. Ngalkahmdulillah ya Pak Besar.”

“Hehehehe.. iya Yu.. Ngalkamdulillah..”

Mister Wasis keluar sambil membawa piring 2 buah. Sepertinya serius betul mau memborong dagangan Yu Winah. Saya beranjak menjauh. Biar tidak mengganggu gustonya Mister Wasis memborong jajan pasarnya Yu Winah. Saya perhatikan saja dari dekat garasi.

“Yu, ini piringnya ya. Loenpianya lima, sate ndok gemaknya lima, nasi kuningnya dua bungkus, tahu isinya lima, selat Solonya tiga. Trus jangan lupa acar sama lomboknya ya.”

“Weh. Akeh tenan tukunanmu Kang ? Ngalkamdulillah.. Maturnuwun.” Yu Winah tampak agak tidak percaya juga dengan pesanan Mister Wasis yang cukup banyak kali ini.

“Hehehehe.. sekali-kali saya ya pengen maem enak ya Yu.”

Saya mendekat lagi ke arah Yu Winah dan Mister Wasis. “Eh.. sajaknya kowe sedang banyak duit toh Sis ?”

Agak kaget juga Mister Wasis melihat saya datang. Sambil agak kikuk Mister Wasis juga menawari saya. “Hehehehe.. cuma baru bejo sedikit kok Ndoro. Cuma dapet bonus dorprais dari sabun colek. Lumayan bisa buat jajan-jajan. Ndoro purun nopo ? Sekarang saya sek mbayari. Mau Loenpia ? Semar Mendem ? Selat Solo ? Pilih saja loh Ndoro.. ”

“Hahahah.. kowe kok rodo kemaki toh ? Ya wis, tak tompo tawaranmu. Yu.. Semua sek ditawarkan si Wasis ini saya ambil ya. Masing-masing tiga ya.”

“Eh.. kok banyak gitu Ndoro..” Mendadak wajah Mister Wasis pucet.

“Hahahaha.. kowe digojeki Ndoromu kuwi Kang. Ya jelas ndak mungkin nek Pak Besar pesen sebanyak itu. La wong ini Selat Solonya saja sudah habis. Semar Mendem dan Loenpianya cuma tinggal satu. Hahahah.. elik tenan rupamu Kaanngg.” Yu Winah tertawa terkekeh-kekeh melihat Mister Wasis yang langsung pucat pasi.

“Duh.. Ndoro kok tegel toh nggarapi saya.. Sudah mau copot loh jantung saya nek harus mbayari semuanya tadi.”

“Ha salahmen kowe yo rodo kemaki. Hahaha.. Guyon wae ya Sis. Guyon wae…” Saya terkekeh-kekeh saja melihat Mister Wasis yang ndak enak hati.

“Yu.. saya ambil Loenpianya satu saja ya. Biar Mister Wasis ndak jadi semaput.” Yu Winah yang masih terkekeh dengan segera saja sigap memasukkan pesanan saya ke dalam plastik bening seperti biasanya.

“Eh membahas Cakra Manggilingan seperti katamu tadi. Kok sepertinya agak berat juga bahasane toh Yu ?” Saya sengaja memancing cerita dari Yu Winah yang terkadang juga penuh kebijakan lokal. Menyenangkan bahwa orang-orang seperti Yu Winah ini masih tetap berpegang pada kebijakan lokal dalam menjalani hidupnya.

“Ha ya ndak berat toh Pak Besar. Biasa saja. La wong Cakra Manggilingan itu lak ya sebiasa-biasanya kehidupan. Siapa saja pasti akan mengalami. Sekali-kali di bawah, sekali-kali ya di atas. Yang di bawah jangan patah semangat. Yang di atas ya jangan kemaki. Karena roda pasti berputar. Semua bisa terjadi. Tidak ada yang abadi. Ha rak cuma begitu toh Pak Besar.”

“Semuanya bisa terjadi ya Yu. Tapi njuk kapan ya Cakra Manggilinganku muternya ya?” Mister Wasis menyela.

“La rak sekarang ini sedang muter toh Kang ? Biasanya Pak Besar yang manggil saya kesini. Sekarang gantian kowe sek ngundang saya kesini. Lak itu Cakra Manggilingan toh?”

“Maksudku sek luwih gede Yu. Kapan saya bisa jadi Ndoro.. Gitu..”

“Njuk terus kapan saya jadi bawahanmu gitu ? Ha nek itu sih kudu ngenteni Cakra Manggilingannya sendal ini dulu pindah ke batukmu dulu. Sontoloyo..” Saya pura-pura sudah siap nyawat sendal ke arah Mister Wasis yang kini terpucat-pucat lagi.

“Ha ya ndak yang sampai segitunya Ndoro. Mana berani saya.. Ampun Ndorooo..” Mister Wasis langsung kabur ke dalam.

Saya dan Yu Winah terkekeh-kekeh lagi. Rasanya menyenangkan ketika kita diingatkan lagi, menyadari bahwa Dia tidak tidur. Dia masih dengan kuasaNya terus menggulirkan roda kehidupan. Cakra Manggilingan kalau orang Jawa bilang.