Tags

, , ,

Ba’da Ashar ini seperti biasa adalah masanya untuk ngelaras rasa. Menikmati waktu berlalu dengan pelan. Dan biasanya Mister Wasis menemani sesi ngelaras rasa ini sambil mengupdate informasi sorenya alias membaca koran atau majalah. Terkadang sambil mengisi TTS yang lebih sering nanyanya daripada ngisi sendirinya. Ah ya ndak papa.. toh saya hargai juga usahanya untuk tetap belajar.

Cuma kok agak tumben rasanya sore ini. Mister Wasis milih untuk ikutan ngelaras rasa. Leyeh-leyeh pula. Mister Wasis sebenarnya termasuk orang yang rajin. Jarang sekali saya melihatnya diam ongkang-ongkang kaki. Gatel katanya kalau ndak ngapa-ngapain. Jadi kalau sekarang saya melihatnya sedang anteng dan leyeh-leyeh kok rasanya rada ajaib. Sekalipun momennya ya memang pas untuk leyeh-leyeh, tapi kok rasanya tetep jadi aneh.

Kok tumben kowe leyeh-leyeh. Sajaknya sedang selo betul. Piye ? Enak toh ?

“Hehehe.. jebul sekali-sekali leyeh-leyeh itu ya enak yo Ndoro..”

“Ha ya sebagai orang Jogja, memang selo itu harusnya mendarah daging. Jangan kemempengen kalau bekerja. Ya bagus kalau mempeng kerja, tapi ya mbok ada waktu selonya juga. Supaya imbang..”

“Loh kok bisa ya Jogja njuk selalu diidentikkan dengan selo toh Ndoro ?”

“Ha ya memang Jogja itu kan kota orang-orang selo. Coba mbok kamu perhatikan kae. Tempat makan khas Jogja itu apa ?”

“Maksud Ndoro itu Angkringan ?”

Pinter kowe. Ha ya angkringan itu lak simbol keseloan orang Jogja. Bener ndak ?”

“Oh iya Ndoro. Mudeng saya. Beda nggih sama Warteg sek tempat maem khasnya Tegal itu. Nek Warteg itu kan semua serba cak-cek bat-bet. Sigap, tangkas, trengginas. Semua serba cepat.” Mister Wasis gayanya sok mikir sebentar. Mesti mencari ide buat premis berikutnya ini.

“Beda betul ya sama nuansanya Angkringan. Alon-alon. Serba selo. Pokok e kudu mat dan selaras, baru bisa menikmati. ”

“Nah itu dia maksudku. Pinter tenan kowe.” Hidung Mister Wasis kembang-kempis.. Jumawa.

Wis rasah kegeden roso gitu. Ngerti ndak kowe kenapa namanya Angkringan? ”

“Halah Ndoro ngenyek ini. Ha ya tahuuu.. Angkringan itu kan dari asal kata nangkring. Alias lenggahan yang penak. Jegangan nek perlu.”

“Ha ya nek cuma bab itu ya banyak yang tahu. Tapi kowe reti ndak nek Angkringan itu ndak cuma perkara duduknya saja. Tapi juga perkara bagaimana menikmati rosonya. Mawi rosonya itu loh. Kudu lenggahan mawi khidmat. Alon-alon. Diresapi pelannya. Supaya semuanya bisa diterima dengan baik. Makane tehnya juga kudunya pakai gulo batu. Supaya dinikmatinya juga pelan-pelan, sambil nunggu gulanya ajur.” Mister Wasis manggut-manggut.

“Jadi walaupun sama-sama tempat makan, angkringan dan warteg punya cara yang beda untuk merasakan mat dan ngelarasnya. Rak begitu toh Ndoro ?”

Correct! Pinter kowe.” Mongkok juga hati saya nek melihat kecerdasan Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini. Puas bolehnya mencekoki setiap hari dengan informasi-informasi cerdas dari koran dan majalah berkelas.

Ha ya kan sek ngajari Ndoro.” Mister Wasis ganti memuji. Dan gantian saya sek kembang kempis hidungnya… Jumawa…

“Wis si Commando dipanasi sana. Nanti habis Maghrib kita ke Angkringan Lek Hardi Wetan Geronimo. Kok saya jadi kangen teh Nasgitelnya.”

“Siap Ndoro!” Mister Wasis bergegas menyiapkan kendaraan dinas saya dengan gustonya.