Tags

, , , , ,

“Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Seandainya Bung Karno tahu protesnya Mister Wasis sekarang, tentu Beliau akan mengganti kata-kata tempe dalam pidatonya yang termasyur itu. Seiring dengan semakin tipis dan kecilnya ukuran tempe, maka seiring itu pulanya Mister Wasis makin ngomyang-ngomyang.

Wedian tenan ini Ndoro. Mosok tempe saja di tetaki begini. Jadi sangsoyo tipis dan kecil. Ini jan-jane ada gegeran apa je Ndoro ?” Mister Wasis protes keras sepulangnya dari mengantarkan istrinya ke pasar Kolombo yang biasanya menjadi sumber suplai bahan segar di dapur.

“Loh mosok kowe ndak tahu toh Sis ? Apa ndak mbaca koran po nek sekarang kedelai impor itu langka. Padahal tempe-tempemu itu pakainya kedelai impor ? La nek sekarang dolar itu baru mahal, ya dele-delemu itu ya makin mahal juga. Mau ndak mau lak yo mesti disikapi oleh pembuat tempe itu. Nek ndak bisa naik harga, ya kudu ditetaki ukuran e. Lak yo begitu logikanya toh? ”

“Heyeh, mosok toh Ndoro ? Kok ampuh tenan itu tempe-tempe saja bisa pakai kedelai impor. Padahal lak yo mung tempe dele ?”

“Woo.. jangan salah yo. Walaupun cuma dele, tapi dele itu komoditas penting loh. Wong komoditas terbesar dari negerinya Kangmas Obama itu Dele dan Jagung loh. Lak yo berarti penting tenan toh Dele itu ?”

“Weaalah.. Kok jebulnya dele itu ndak baen-baen ya posisinya ? Lah trus kok kita ndak nandur dele sek banyak saja toh Ndoro ? La wong jelas-jelas kita perlu dele banyak buat bikin tempe dan tahu. Iya toh ? La itu warteg-warteg dan angkringan lak mesti perlu tempe dan tahu ? Wong tempe itu jatah lawuhnya kawulo alit. Eh Ndoro juga dink.”

Mister Wasis terdiam sebentar. Njuk melanjutkan lagi ngomyangnya.

“Eh tapi ya angel yo Ndoro. Sawah sek buat nandur dele lak ya mesti wis akeh sek dadi perumahan. Banyak sek sudah jadi hotel. Jadi Mol. Wah.. cilaka yo kita Ndoro ? Nek sawah e entek, njuk nandur delenya dimana ?” Saya diamkan saja Mister Wasis merajut terus alur berpikirnya. La wong biasanya nalarnya Mister Wasis ini suka jalan sak enak udel e  dewe. Lak nanti mesti mencungul lagi ide ajaibnya.

“Napa mungkin ini sudah cakra manggilingan ya Ndoro ? Dulu tempe dele datang njuk menyebabkan tempe koro, tempe gembus dan tempe benguk minggir. Ndak payu. Sekarang ini mesti konspirasi koro, benguk dan gembus supaya bisa naik pamor lagi. Jadi payu lagi. Wah.. mesti ini… Konspirasi ya Ndoro ? Konspirasi!!” Njuk Mister Wasis mengepalkan tangan ke atas. Sajak yak-yak o menemukan teori brilian.

“Halah ngarang wae kowe. Ini bukan bab cakra manggilingan. Tapi memang tata kelola komoditas kita lak yo waton-sewatonnya. Kedaulatan pangan kita memang sedang diambang kawah candradimuka. Jadi nek ada hal-hal yang tak terduga seperti ini, ketahanan pangan kita ndak punya jaring pengaman.”

Ha terus pripun Ndoro ?”

“Ha ya mbuh juga. Kita tunggu saja langkahnya Presidenmu itu mau gimana.”

“Presiden saya lak yo Presidennya Ndoro juga toh?”

“Ya wis.. Presiden kita semua wis ya keno.” Saya ngeloyor masuk ke kamar sambil melamun.. Dulu mbah Harto bisa swasembada pangan pas tahun 1984. La sekarang 30 tahun kemudian kok kita malah mundur.. Hopo tumooonn ?? Denn.. iki piye deenn ? Presideenn ??