Tags

, , , ,

Seminggu setelah liburan Ba’da, maka seluruh komponen kitchen cabinet di komplek perumahan ini pun sudah mulai lengkap lagi. Kembali pulang ke rumah ndoronya satu persatu. Reriungan ini kembali lengkap. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, reriungan batur-batur ini pun memerlukan kumpul-kumpul Syawalan demi kemaslahatan bersama. Saling memaafkan dan saling bertukar informasi tentang desa tempat tinggal mereka. Termasuk bertukar cerita siapa yang akan pindah kerja, atau informasi keluarga di desa yang ingin mencari kerja di kota. Dus pula tahun ini acara Syawalan pun dilaksanakan seminggu setelah Ba’da. Bahkan tahun ini mereka mengundang lulusan dari PBB alias Persatuan Batur-Batur ini yang sudah melalang buana ke luar negeri. Mister Karyo akan menjadi motivator untuk acara Syawalan Persatuan Batur-Batur ini. Demi mengangkat semangat dan motivasi para Batur ini agar mempunyai kehidupan yang lebih baik. Atas alasan ini, maka Mister Wasis makin semangat untuk ikut syawalan PBB tahun ini. Tak lupa diajaknya istrinya tercinta.

“Bune, jangan lupa nanti malam ada Syawalan PBB loh. Dandan sek ayu. Arep ktemu Mas Karyo kae loh. ”

“Iya Pakne..” Nyai Wasis yang masih sibuk mencuci piring ya cuma bisa mengiyakan suaminya.

Maka sore itupun, dua orang sejoli ini sudah pamitan kepada saya. Dan saya pun cuma mengangguk pelan. Mister Wasis berjanji akan pulang jam 9 malam setelah acaranya selesai. Saya ingatkan untuk membawa kunci pintu gerbang dan pintu depan, karena biasanya jam 9 saya sudah mapan pula di dipan. Setelah acara pamitan sore itu, saya tidak tahu lagi ceritanya sampai pagi tiba.

Mister Wasis tampak termenung pagi itu. Tapi tidak termenung yang repot dan bersedih durja. Cuma termenung kebanyakan mikir. Ya sebelas dua belas dengan pose patung Le Penseur yang kondang dari Paris itu.

“Heh.. kenapa e pagi-pagi kok sudah mikir negoro ? Sajak berat betul sanggananmu ?”

“Heheheh.. Gara-gara motivasi dari Mas Karyo semalam pas Syawalan itu loh Ndoro. Saya njuk jadi mikir abot.”

“Heyeh.. mikir apa je ? Tumben-tumben kowe mikirke omongan motivator. Wong biasanya sek di tivi-tivi itu malah mbok paido toh ? Kok yang kali ini berbeda ?”

“Ha ya jelas beda Ndoro. Mas Karyo itu lak berangkatnya sama seperti saya. Cuma batur. Tapi sekarang sudah bisa mbaturi. Sudah bisa punya batur maksudnya. Bisa mblebar-bleber ke luar negeri juga loh Ndoro. Ya mirip-mirip dengan Ndoro dan Bu Alit itu.”

“Ha njuk kamu kepengen juga ?”

“Kepengen sih ya kepengen Ndoro. Tapi kok rasane ada yang ndak pas ya ?”

“Ndak pas piye ?”

“Ya ndak pas di hati saya saja. Nek mas Karyo kan memang diniati untuk bisa keluar negeri sejak awal dia kerja. La wong dulu saya inget betul, setiap kali ngumpul-ngumpul itu dia selalu cerita kalau dia barusan belajar bahasa Enggres, barusan nonton filem Perances, barusan diajari sama Ndoronya tebel mener.”

“Ha njuk kamu ngiri gara-gara saya ndak ngajari kamu ngomong coro Enggres ? Ndak ngajak kamu nonton pilem Perances dan ndak diajari tebel mener ?”

“Ha bukan itu Ndoro. Justru saya itu bersyukur karena saya bekerja disini. Disini saya bisa ketemu banyak orang pinter-pinter kolega Ndoro itu. Bisa baca berita dari koran mana saja yang saya mau. Kadang-kadang juga boleh makan setik yang kuahnya ndledek-ndledek. Itu juga masih terkadang masih diajaki jajan bareng rombongan jeep hitam. La nek mas Karyo itu kerjanya rekoso tenan je Ndoro. Semua habis-habisan sampai teler badannya. Ha nek menurut Mas Karyo, nek kerja sama Ndoro sek Bule itu ya memang kudu total. Kudu habis-habisan. Biar diajak keluar negeri gitu.”

“La njuk kamu ndak pengen po ke luar negeri ? Enak loh… Bisa ngerasakne salju sek adem kae. Bisa icip-icip buah stroberi sek asli. Ndak pengen po ?”

“Hahahaha.. saya sudah sak dremo kok Ndoro. Yang begini sama Ndoro saja saya sudah cukup. Ndak pengen sek macem-macem nek saya Ndoro. Malah ndak ono sek kecekel, iso edan saya. Sek penting kan malah ikhlas nerimo tur bersyukur. Lak begitu toh Ndoro ?”

“Bersyukur memang kudu. Ikhlas itu ya harus. Tapi punya mimpi ki ya perlu dipertimbangkan loh Sis.”

“Ha ya saya juga punya mimpi kok Ndoro. Saya pengen batine adem ayem tentrem saja.”

“Weh.. kowe ora seru ah Sis. Jebul podo wae. Motivator apapun tetep mbok paido.”

“Bukan di paido Ndoro. Tapi ya coba disawang-sawang. Pas ato ndak dengan kondisi saya. La wong urip itu kan ya mung wang Sinawang. Buat temen-temen saya, mungkin uripnya Mas Karyo itu enak betul. Ha nek buat Mas Karyo, mungkin uripnya Ndoro Bulenya itu yang baru bisa disebut enak. La tapi siapa tahu, buat Ndoro Bulenya Mas Karyo itu malah urip saya yang serba apa anane ini malah yang lebih nikmat. Begitu ndak Ndoro ?”

“Kadang aku gumun kok karo kowe kie Sis. Gek-gek kowe kie Pandito sek medun gunung.”

“Heyeh.. Ndoro kie ngeceeee… Di Srandakan itu ndak ada gununggg.. Jelas mesti salah nek ngira saya ini Pandito sek turun gunung.”

“Ha ya Pandito sek mencungul seko segoro nek gitu.”

“Ha ya malah mirip iwak duyung Ndoro…

Dan kami berdua tertawa terbahak-bahak. Hemm.. Hidup memang selalu Wang Sinawang.. Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau. Dan betapa beruntungnya saya punya Prime Minister Kitchen Cabinet yang sudah sewasis ini bolehnya merenung dan menjalani hidup. Bukankah demikian ?