Tags

, , , ,

Kalau istilah gerombolan itu berasosiasi negatif karena kecenderungannya gerombolan itu kan ya selalu meresahkan dan tujuannya tidak jelas. Nah, kalau pasukan itu biasanya asosiasinya positif. Minimal tujuannya berkumpulnya jelas. Semoga demikianlah dengan pasukan ini. Sekalipun secara bentuknya tidak terlalu jelas karena isinya cuma empat orang tuwek-muwek. Ya tapi paling tidak, pasukan ini punya tujuan yang jelas. Melestarikan pustaka kuliner Jogjakarta. Terutama golongan warung kecil dan kaki lima yang jarang didokumentasikan dengan betul. Ndilalahnya, pasukan jeep hitam ini ya anggotanya rada priyayi yang ngaku-aku terpelajar. Maka tak heran jika kami mempunyai buku hitam berisikan daftar warung kaki lima yang punya masakan jos gandos, lengkap dengan alamat, foto, daftar harga, analisa kelebihan dan kelemahannya ala SWOT. Wo napa ndak hebat itu ? Kendaraan operasional kami pun tak kalah nggegirisi. Jeep hitam yang sering jadi kendaraan operasional pasukan. Boleh sangar toh ? Modal buat bergerilya muter-muter warung dan kaki lima di seantero Jogjakarta vale pustaka kuliner.

Kami menyebut diri sebagai Pasukan Tiga Jaman, bukan karena kami ini anggotanya sudah tuwek dan pernah mengalami tiga jaman, sejak mulai jaman penjajahan Belanda saja. Tapi karena kami berempat ini sepakat untuk mendatabasekan kuliner Jogjakarta yang enaknya kebangetan sehingga stok dagangannya akan habis dalam waktu tiga jam saja.

Salah dua dari top list buku hitam kami adalah Warung Nasi So’un yang lokasinya di pojokan Jalan Brigjen Katamso. Jika sudah jam tiga sore, maka lokasi itu akan dijejali penggila nasi So’un yang rebutan membeli. Nasi So’un ini yang khas memang sambelnya yang pedesnya memang nga’udubilah. Tapi, jangan harap masih bisa menemukan jejak Nasi So’un jika tiba di lokasi pada jam 6 sore. Sudah ludas tandas tak bersisa. Setali dua kepeng dengan Nasi So’un Brigjen Katamso, maka sate ayam di Pasar Gading juga boleh dicermati. Buka jam tiga sore, maka jangan harap masih mendapatkan jatah sate pada jam 6 sore. Apalagi jika berharap menemukan brutu, kulit atau ati ampela. Harus semakin pagi bolehnya ngantri sate.

Nah, saat ini kami sedang menemukan target baru tambahan daftar buku hitam kami. Gudeg Mbok Sadem. Gagrak gudeg basah yang rasanya lebih memper gurih dengan kuah areh yang mlekoh. Berdasarkan data intelejen kami, side dish yang yang harus dicermati pula adalah Wedang jahe bakar. Konon kabarnya, wangi jae dan pedesnya boleh dipoedjikan. Gudeg ini baru buka jam sembilan malam dan segera tutup setelah jam dua belas atau jika sudah kehabisan.

Maka malam ini kami bersiap untuk meluncur menuju TKP di jalan HOS. Cokroaminoto. Harap dimaklumi, bahwa yang namanya Warung Gudeg ini tak lebih hanyalah warung lesehan sederhana dengan tikar dan meja seadanya. Setelah berkumpul pada jam 9 malam, maka kami bergegas memacu jeep hitam untuk menuju TKP. Berharap cemas semoga masih komanan gudeg brutu, kepala dan ceker.

Blaik, lah kok mendekati TKP, suasananya gelap gulita ? Tak tampak adanya kehidupan di sana. Walahyung.. Dengan sedikit kecewa, kami pun pindah lokasi.

Seminggu berselang. Saking penasarannya saya bertekad harus bisa mencobanya malam ini. Sekalipun saya harus menggeret Mister Wasis yang protes mencucu karena saya paksa menemani menikmati Gudeg Mbok Sadem. Karena kebetulan ketiga orang companion saya yang lain itu sedang sibuk blabar-bleber mendapatkan tugas negara mengisi beberapa seminar di luar kota.

“Kalo cuma mau maem Gudeg lak ya bisa dibawa pulang saja toh Ndoro ? Ndak usah maem disana. Nanti lak masuk angin loh. Wong sudah malem banget gini toh Ndoro.” Mister Wasis berprotes saja.

Wis to, ikut saja kowe. Ini penting untuk bisa mengamati dengan betul yang namanya kehidupan pergudegan di malam hari. Nek ndak di maem di lokasi, hal-hal kecil yang sepertinya sepele tapi krusial misalnya kualitas wedang jaenya ndak bisa diamati loh.”

“Heleh Ndoro.. Mau maem Gudeg aja repot men to Ndoro ?” Mister Wasis masih saja mencucu. Ya wajar sebenarnya, la wong sudah malam betul je. Memang sudah saatnya berleha-leha kelonan di kasur. Ini malah saya eret-eret maem gudeg.

Memasuki kawasan HOS. Cokroaminoto, hati saya sudah harap-harap cemas. Semoga saja buka. Eh la kok dari kejauhan sudah nampak lampu neonnya menyala terang. Alhamdulillah.. sudah rejeki saya ternyata.

“Sampun bukak toh Bu ?” Saya menyapa seorang ibu paruh baya yang duduk dikelilingi baskom-baskom berisi gudeg, suwiran ayam dan ayam utuh, sambel kreceknya yang merah menyala, telor bebek yang bergelimang di kuah areh, tempe dan tahu, serta kuah areh kental plus berbagai macam uborampe gudeg lainnya.

“Oh sakmeniko nate mriki toh ? Pas tutupan wingi niku ? Duh.. ngapunten nggih Pak. Kawulo dipun undang kaliyan Istana ken teng nJakarta niku. Dipun aturi nyiapke Gudeg kagem tamu-tamu nagari pas acara pitulasan wingi. Ngapunten sanget nggih. La wong dawuh e saking Istana niku nggih ujuk-ujuk je. Dinten ini nembe bikak saestu.” Ibu paruh baya ini ternyata pemilik dan chef dari Gudeg fenomenal ini. The beautiful Mbok Sadem herself.

Widih.. ternyata kemarin sempat tutup seminggu itu karena diundang ke Istana Negara. Welok tenan iki. Wah.. makin bikin gusto bolehnya saya melahap gudegnya ini nanti. Dari cerita si Ibu ini kok saya sudah bisa membayangkan lezatnya gudeg yang kondangnya sampai istana negara.

Welok tenan Ndoro. Gudegnya sampai Istana toh ? Ha kok Ndoro bisa tahu ada sek beginian ini ? Pantes nek dioyak diniati sampai keluar malem barang ya Ndoro ? Mesti jos gandos ini. Suguhan kelas Istana je.” Mister Wasis bisik-bisik di telinga saya.

Kandani oog. Cen kowe kie ora entuk ngeyel. Lak bener toh feelingku ?” Saya jumawa. Calon target buku hitam kami top cer. Boleh masuk!

Sakmeniko ajeng pesen nopo Bapak-Bapak ?” Acara bisik-bisik kami terputus karena Mbok Sadem menanyakan pesanan kami.

Gudeg lengkap kalih! Ngangge dodo menthok tahu tempe lan telur. Sambel krecek e nggih ditambahi ya Bu. Unjukan e wedang jae kalih! ” Semangat betul saya pesen gudegnya. Mister Wasis pun sepertinya sudah kemecer menikmati gudeg undangan Istana ini.

Injih.. Monggo niki gudeg e. Wedang jaene sedekap mangke dipun aturi teng mejo. Monggo dipun rahapi.” Mbok Sadem menyerahkan dua piring berisi gudeg lengkap pesanan kami.

Maka dengan langkah tegap pun kami membawa piring yang munjung berisi gudeg lengkap. Duduk lesehan bersama di antara banyak orang lainnya yang tampak sangat nikmat menyuap gudeg dan nyeruput wedang. Aahh… Gudeg… saya mulai menyuap daging ayam kampung berbalut kuah areh mlekoh ini ke mulut dan menikmati perjalanan rasanya. Aih.. I’m in heaven…

Catatan kaki : tulisan di atas merupakan fiksi semata. Jika ada kesamaan cerita, peristiwa dan tokoh, maka itu cuma kebetulan semata. Jika ada perbedaan, maka sesungguhnya memang demikianlah yang namanya cerita fiksi.