Tags

, , ,

Menjelang Ba’da seperti ini, suasana di sekitar perumahan memang berganti. Yang biasanya riuh rendah oleh mahasiswa, ya berganti lagi dengan keluarga penghuni asli sini. Mulai agak menyepi dibandingkan hari-hari biasanya. Tapi yang paling terasa tentu saja berkurangnya para pedagang makanan gerobak dorong dan asongan yang biasanya rajin meriuhkan suasana siang.

Padahal demi memperkenalkan jajan pasar kepada Gendut dan Bunder, saya ingin sekali nyegat Yu Winah. Maka daripada itu, saya minta Mister Wasis untuk dengan segenap perhatian selalu memantau kedatangann Yu Winah jika sudah mencungul dari balik perempatan. Maka ketika sore itu suara Yu Winah menjajakan jajan pasarnya yang khas itu sudah terdengar, maka Mister Wasis segera meneruskan informasi penting ini.

“Ndoro!! Yu Winah sudah katon dari perempatan!! Jadi di cegat toh Ndoro ?” Mister Wasis berteriak dari gerbang depan.

“Iyooo.. Cegat dan segera diajak masuk ke teras!!!” Saya balas teriak juga dari dalam.
“Hayo sini ikut Yangkung semua sini. Kita pilih maeman enak-enak.” Kata saya kepada Gendut dan Bunder yang sedang asyik mainan kencrung. Tung..tung..tung..

Dan seperti biasanya pula, Yu Winah memulai ritualnya dengan menurunkan tenggok besarnya, menata jajan pasar dengan rapih, baru mempersilakan kami semua mengagumi state of art dari jajan pasarnya tersebut. Gendut dan Bunder yang sehari-hari di Jakarta segera saja takjub dengan pemandangan seperti ini. Berebut bertanya kepada Yu Winah tentang nama-nama dari jajan pasar ini.

“Ini apa namanya tante ?” Kata Gendut.

“Ini namanya kuwih mata kebo”. Jawab Yu Winah.

“Wah.. kasihan dong kebonya kalo matanya dijadikan kuwe.”Si Bunder terpekur sedih.

“Ini bukan mata kebo beneran. Ini loh saya bukakan ya. Ini dibuat dari tepung beras, trus di isi unti, trus dikukus pakai santan yang dibungkus daun pisang. Ini loh.. dilihat.. Bagus toh ?”

“Oh warnanya hijau dan pinkkk!!! Kungg… aku mau yang ini yaaa..” Gendut berteriak girang. Matanya berbinar seperti dapat mainan baru. Saya manggut-manggut saja. Yu Winah dengan cekatan memasukkan pesanan Gendut ke dalam tas plastik yang sudah disiapkan. Tak mau kalah dengan saudaranya, si Bunder kemudian juga memilih sate usus dan Semar Mendhem. Yu Winah dengan sabar dan cekatan ya meladeni tamu-tamu kecil ini.

Baru setelah selesai semuanya, Saya mulai melipir untuk melihat sisa-sisa kerusakan yang ditinggalkan oleh cucu-cucu saya tadi. Melihat saya yang masih penasaran, Yu Winah segera saja mengangsurkan Loenpia Semarang kegemaran saya. Sudah termasuk kondimen saus bawang putih mlekoh dan acar timunnya.

“Wah.. Njenengan kok tahu saja toh Yu. Maturnuwun ya sudah disiapkan.”

“Ha njenengan kan langganan saya Pak Besar. Ha ya hapal toh ya. Niki Selad Solonya ndak sekalian ?” Saya menerima umpan dari Yu Winah dan memberi kode untuk memasukkannya saja sekalian ke pesanan Loenpia saya. Saya juga pesan nasi gurih, beberapa Semar Mendhem lagi dan onde-onde untuk nanti berbuka puasa.

“Kok masih jualan toh Yu ? Ndak ikut liburan trus tirakatan nopo ?” Mister Wasis ikutan nimbrung kali ini.

“Ealah Kang. Tirakatnya bakul kie ya seperti saya. Tetep dodolan. La nek seperti saya ndak dodolan, njuk duit lebarane gimana ? Tur nek saya ndak jualan, kan mesakne tamu-tamu Jakarta seperti tadi toh ya. Ndak kenal jajan pasar ala Jogja. Lak ngaten toh ya Pak Besar ?” Saya tersenyum mengiyakan.

Saya harus mengakui betul bahwa statement dari Yu Winah ini bijak adanya. La nek ndak ada seperti Yu Winah ini lak ya sepi juga menu di rumah-rumah di komplek perumahan ini. Semuanya akan sama, guided menu, opor lagi-opor lagi. Rendang lagi-rendang lagi. Saya bersyukur bahwa Yu Winah dan teman-temannya masih bersedia untuk bertirakat ala bakul. Di dalam suara kencrungnya Gendut dan Bunder seakan-akan menyiratkan persetujuan. Riang dan riuhnya mereka menemukan kosakata makanan baru. Ooo.. Kuwe Mata Keboo… Tung..tung..tung..tung..