Tags

, , , ,

Dalam kosmologis Jawa, ada satu ungkapan penting yang menggambarkan preferensi masyarakat Jawa. Mangan ora mangan kumpul. Dari idiom ini bisa diambil kesimpulan bahwa masyarakat Jawa sangat mengagungkan silaturahmi. Reriungan dalam keluarga besar. Ngelumpukne balung pisah. Tidak melulu harus berpesta, tapi yang penting adalah guyupnya. Berpusat pada keluarga yang kemudian makin membesar ke kumpulan masyarakat yang makin komplek.

Tak ayal, mungkin ini pula yang mendasari potensi budaya mudik pada akhir bulan Poso yang fenomenanya akan segera terjadi dalam waktu dekat ini. Yang sehari-hari bekerja di ibukota Jakarta, pada menjelang hari Lebaran, berbondong-bondong membawa istri dan anak, kembali ke daerah asalnya. Desa yang tadinya sepi ayem tentrem jadi ramai riuh rendah dengan logat lue-gue-kagak-ngarti. Anak desa yang tadinya cukup puas dengan ciblon di sungai yang mengalir, mulai jengah dengan hadirnya PSP dan tablet. Dus hadirnya semua ini atas satu tujuan, ngumpulke balung pisah atas dasar Mangan ora mangan kumpul.

Demikian pula rumah saya. Yang sehari-hari cuma penuh canda dan tawa saya beserta Mister dan Nyai Wasis, kini jadi riuh rendah dengan hadirnya keluarga Njakarte saya. Nyai Alit, istri saya tercinta, yang sehari-hari bakulan cokelat, pulang demi lebaran di Jogjakarta. Gendhis putri saya tercinta, pulang bersama suaminya Mas Bagus dan anak-anaknya, si Bunder dan Si Gendut, yang ngglidik tak mau diam, munyer terus seperti gasingan berbatere alkaline. Tinggal menunggu Satrio, putra bungsu saya yang baru naik bis dari Kampusnya ITB demi mengejar penelitian nano teknologinya yang sudah diambang keberhasilan. Aah.. keluarga kecilku yang menyenangkan.

Jam sudah menunjukkan saatnya ngabuburit. Semua mata sudah kemecer ke arah meja makan. Saat Nyai Wasis datang mempersiapkan ceret teh, sudah segera saja di serbu oleh Si Bunder dan Gendut.

“Tante.. Tante.. buka puasanya nanti pake apa ?” Bunder dan Gendut sepertinya sudah tidak sabar ingin segera mengganyang apa saja yang ada di meja. Saya terkekeh mendengar Bunder dan Gendut memanggil Nyai Wasis dengan Tante. Sebuah idiom yang rasanya kurang pas untuk memanggil punggawa Kitchen Cabinet saya ini. Entah apa yang dirasakan oleh Nyai Wasis yang seumur-umur mungkin belum pernah dipanggil Tante oleh siapapun.

“Sabar ya aden-aden. Buka puasanya pakai teh anget dulu. Biar perutnya ndak kaget. Nanti abis itu baru maem serabi kocor. Sudah pernah maem belum?” Nyai Wasis dengan halusnya ngemong juragan-juragan mungilnya ini.

“Belum pernaaahhh.. Di Jakarta ga pernah nemu serabi kocooorr.”

“Kalo maemnya nanti pake apa Tante ?” Gendut nyerocos lagi.

“Maemnya nanti pake jangan bening. Lawuhnya tempe garit dan tahu magelang digoreng kering. Pake sedikit sambel terasi pasti enak. Betul toh aden ?”

Gendut langsung protes. “Laahh.. kok tempe lagi ? Yangkung… Di Jakarta sih sering banget makan tempe. Uti hampir tiap hari bikinin tempe.. Yang lain ya Kunggg..” Gendut langsung nggelendot di kaki saya yang baru leyeh-leyeh di kursi malas.

Hwrakadah.. Generasi cucuku ini kok ya belum ditatar. Bahwa dalam kosmologi Jawa, mangan ora mangan kumpul itu penting. Sek penting adalah ngumpulnya. Tempe berasa iwak saat kita ngumpul reriungan bareng keluarga. Semua jadi serba nikmat. La tapi kok ya ndak berlaku buat si Gendut dan Bunder ini. Saya lirik Gendhis yang pura-pura cuek dengan notebooknya mendengar permintaan anaknya. Sepertinya saya perlu menatar anak saya lagi ini. Pola 48 jam sekaligus. Biar setelah pulang dari Jogja nanti, bisa pulang bawa ijazah penataran.

“Ha ya nanti dulu. Kita siap-siap buko dulu ya. Mimik dulu teh anget sama serabi kocornya. Nanti tempe dan tahunya digado buat ganjel perut. Jangan beningnya buat appetizer. Habis itu kita Maghriban bareng. Setuju Ndut ?”

“Ha maemnya gimana Kung ?” Mata Gendut yang bulat itu makin menjotho ketika menanyakan jatah makan malamnya. Saya mengelus dada pelan.

“Ya nanti kita bareng-bareng ke Nyonya Suharti. Boleh makan ayam goreng sepuasmu. Gimana proposal Yangkung ? Diterima ?” Akhirnya saya mengalah untuk kali ini. Saya lirik Gendhis yang ngekek pelan. Asyem… saya digarapi anak dan cucu saya sendiri. Ini kudeta terselubung ternyata.

“Yes Kung. Syip!!” Gendut dan Bunder mengacungkan dua jempolnya.

Ealaaahhh.. Mangan ora mangan kumpul sepertinya rada bergeser kalau kondisi seperti ini. Kumpul-kumpul perlu karo mangan.. Mangan-kumpul-mangan-kumpul-mangan…. Duh.. anggaranku…