Tags

, , ,

“Siapa yang datang Sis ?” Saya baru saja keluar dari kamar setelah sholat Ashar ketika ada tamu yang sepertinya mengetuk pintu depan dan diterima oleh Mister Wasis.

Niki Ndoro.. Penghantar parsel.” Mister Wasis menyahut dari pintu depan.

“Ha ya sudah. Taruh saja di tempat biasa.” Saya minta Wasis membawa parsel itu ke dalam supaya diletakkan di ruang tengah. Bareng dengan parsel-parsel lainnya yang sudah lebih dulu datang.

Injih Ndoro.”

Akhir-akhir periode Poso seperti ini, mesti ada saja beberapa parsel yang dikirim ke rumah. Ya elek-elek begini, saya masih punya satu dua kolega pebisnis yang demen sekali ngajak saya ider cangkem atau berdiskusi proyek kecil-kecilan. Dari merekalah saya sering mendapatkan sekadar parsel lebaran.

Saya ambil koran sore. Bersiap ngelaras rasa sore hari. Sudah masuk jamnya je. Mister Wasis saya minta untuk memijat kempol saya sore ini. Maklum barusan saja ngajak beberapa tamu dan kolega saya muter-muter kampus dalam rangka kunjungan kerja tamu-tamu negara.

“Eh Ndoro, parsel itu lak ucapan terima kasih toh ya Ndoro ?” Mister Wasis membuka percakapan ngelaras sore ini sambil tangannya nyat-nyet mijet kempol saya yang rada kemeng ini.

“Ho oh.” Saya masih meneruskan membaca koran sore. Agak sedikit tak acuh dengan obrolan Mister Wasis.

“Ucapan terima kasih itu lak diberikan nek orang lain sudah menerima manfaat dari kita ya Ndoro ?”

“Ho oh.. ” Saya masih konsen saja membaca berita tentang krisis Mesir yang makin dramatis dengan berjatuhannya korban jiwa dalam demo menentang pemerintahan.

Nek gitu, brati tahun ini Ndoro kurang memberikan manfaat kepada orang lain ya Ndoro ? ”

“Ho oh..”

“Eh opo ? Piye ? Kok njuk aku dadi salah kie piye ceritane mau Sis.. ?” Saya baru sadar kalau Mister Wasis sedang menyusun premis jebakan untuk saya. Asyem tenan Perdana Menteri Kitchen Cabinet saya ini. Kalau mau nyekak bendoronya suka ndak kasih ancang-ancang. Persis keturunan pejuang Guerilla von Srandakan. Serangannya sering tidak bisa diterka kapan datangnya.

“Hehehehe.. Kan tadi saya nanya, nek parsel itu lak ucapan terima kasih. Bener toh itu Ndoro ? ”

“Iyo nek itu bener.” Saya ambil posisi yang bener. Rada njenggelek juga. Soalnya ini masalah harga diri je.

“Nek kita mendapatkan ucapan terima kasih itu lak berarti ada orang yang sudah mendapatkan manfaat dari kita toh ya Ndoro ?” Mister Wasis mengajukan premis keduanya.

“Iya.. itu bener lagi.”

“La nek gitu, brati Ndoro kurang migunani liyan untuk tahun ini. Soalnya nek saya petani, tahun lalu pas tanggal segini, parsel buat Ndoro sudah ada belasan. La sekarang lak masih dibawah sepuluh Ndoro. Lak berarti ada penurunan. Nek parsel itu adalah indikator ucapan terima kasih, brati tahun ini Ndoro lak kurang migunani liyan nek dibandingkan tahun lalu. Lak begitu toh Ndoro ?” Mister Wasis ngomong saja dengan muka lempeng tanpa merasa salah. Semprul tenan. Ndak reti po ya dia nek statementnya itu buat ati saya yo rada sebel ketahuan prestasi kerja saya menurun. Sebel tapi ya gumun. Sebel karena secara premis dan konklusi, tarikan kesimpulannya ya boleh juga. Gumun ya karena bagaimana mungkin seorang lulusan SD bisa mengambil premis dan konklusi sedemikian nritiknya. Belum lagi keberaniannya mengungkapkan fakta bahwa Ndoronya ini mulai berkurang popularitasnya.

“Kesimpulanmu nek ini rada kleru Sis. Kamu lupa memasukkan indikator perekonomian. Apa kamu lupa po nek tahun ini Eropa sedang krisis besar-besaran. Yunani terancam bangkrut. Tentu efek krisisnya sampai ke Indonesia.”

“Heh ? Nopo hubungan e krisis sama jumlah parsel Ndoro ?”

Ha ya kudu ono. Nek parsel e tahun ini kurang, ya mesti itu mergo ada krisis ekonomi juga. Mesti itu.” Sebagai Priyayi dan Ndoro, tentu saja saya tidak boleh kehilangan wibawa dihadapan batur saya ini. Maka kemudian saya pergunakan alasan ekonomi untuk ngeles. Sek penting saya ndak jatuh wibawanya.

“Owalah.. jadi sekarang nambah lagi toh Ndoro ? Parsel itu indikator perekonomian nggih ?” Mister Wasis sepertinya bisa saya kibuli sedikit.

“Ho oh. Bener itu. Parsel itu Indikator Perekonomian. Nek ekonomi baik, parsel makin banyak.” Saya bisa bernapas lega sejenak. Mister Wasis bisa saya kibuli. Saya jadi ngerti perasaannya pemerintah sek di atas-atas sana. Ternyata begini toh rasanya nek bisa ngibuli rakyatnya.

Saya jadi bayangkan betapa bahagianya Presiden kita di Istananya, tepas-tepas diatas tumpukan parsel. Betapa bangganya beliau karena banyak parsel, berarti perekonomian bangsa sedang bagus. Parsel itu Indikator Perekonomian loh Mister..