Tags

, ,

Kedemenan saya terhadap kopi mungkin ya memper-memper dengan kedemenan saya terhadap mie Jawa. Agak sedikit di luar batas kewajaran bolehnya mengkonsumsi.

Padahal sejak kecil saya justru dibiasakan dengan teh dekokan. Teh yang nasgitel seduhan Ibu saya sendiri. Teh yang batangnya sedikit kemampul itu digodog di ketel sampai mendidih, baru di tuangkan ke gelas enamel dengan uap yang kemepul. Di dalam gelas enamel tadi sudah ada gula batu yang bakalan melarut bersama tuangan teh panas munthup-munthup tadi. Dinikmati bareng pisang goreng pas sore-sore sambil dikancani Ibu mendengarkan cerita dari Radio. Wuih.. pokoknya mantap betul rasanya.

Itu tidak terlalu berubah juga sebetulnya. Hanya saja sejak saya kenal kopi espresso di Roma, ada yang bertambah dalam wacana klangenan saya terhadap yang namanya kopi. Dan ndilalahnya, ternyata negara kita ini surganya tanaman kopi. Hampir di semua daerah ada tanaman kopi. Ning sayangnya, entah mengapa kok rasa kopi dalam negeri kita ini belum bisa pas betul. Kualitas kopi kita ya masih cuma sebatas mondho-mondho saja. Ah.. betapa sayangnya.

Dan kebiasaan minum kopi saat ngelaras sore ini tentu tetap saja berlanjut di bulan Poso. Pokoke tiada hari tanpa kopi. Hanya saja jadwalnya tentu harus disesuaikan. Sehabis tarweh biasanya baru saya nyeruput kopi. Saya ada koleksi kopi kecil-kecilan lah. Beberapa ada yang saya peroleh pas jalan-jalan dan ider cangkem ke daerah-daerah penghasil kopi. Sebagian lagi bolehnya pemberian dari kolega-kolega teman saya yang sehati, penikmat kopi. Cukup mongkok juga hati saya kalau melihat toples-toples koleksi kopi saya yang berjejer di atas buffet. Ada sekitar 20 toples berisi kopi-kopi dari nusantara. Mulai dari Aceh Gayo sampai Wamena Papua. Ngalkahmdulillah..  barusan boleh dapat kiriman biji kopi Amungme Papua dari kolega saya. Makin maremlah hati saya.

Malam itu saya baru nyeruput kopi Amungme boleh kirim dari kolega saya. Dan seperti biasa, Mister Wasis sedang asyik mencet-mencet remote tivi sambil ndelosor di bawah.

“Ndoro, kok Ndoro kie antik yo ?” Ngomongnya Mister Wasis ke saya, tapi matanya masih saja ke arah tivi.

“Antik piye ? Padakne koleksi museum poh ? Sembarangan wae kowe. ”

Mboten ngaten Ndoro. Antiknya gini, Ndoro ini kan priyayi Jawa mlipis. Nek wong Jowo itu kan biasane luwih seneng ngeteh toh ya Ndoro. Teh sek nasgithel. Ditambahi gulo batu. Di aduk pelan-pelan. Terus di sruput. La kok Ndoro ini malah lebih senang ngopi. Lak yo antik toh Ndoro ? Bahkan sampai ditoplesi begitu kopine. ” Mister Wasis melirik ke deretan toples kopi di bufet atas.

“Sis.. saya ya tetep seneng ngeteh. Ning aku luwih seneng ngopi. Bagi saya, ini apresiasi loh Sis. Apresiasi bahwa negara kita ini sakjane kaya betul dengan kopi. Dari Sabang sampai Merauke kita ini punya banyak sekali jenis kopi. Dan semuanya enak. Lak wedian toh ? Ndak ada negara lain di dunia yang koleksi kopinya itu sebanyak kita loh Sis. Coba bayangno, kopi kita itu ada ada Gayo, Lintong, Jambi, Lampung, Jawa, Bali, Flores Bajawa, Kalosi, Papua lan sapanunggalane. Akeh kae loh toplese. Sebagai wujud apresiasi anak bangsa, rasanya ya pas nek saya mencintai kopi. Lak ya begitu toh ?”

“Kopi itu Blek Gold Sis alias emas hitam. Emas hitam. Larang regone kalo di luar negeri. Komoditas terkemuka di dunia. Disana dihargai sedemikian tinggi. Masak kita di dalam negeri malah ndak doyan. Ndak baeng-baeng loh.” Saya seruput lagi kopi Amungme. Sedap dan mat betul.

“Hahahaha.. Ndoro ngarang. Mosok emas hitam. Nek bener kopi niku emas hitam, teneh Yu Endang sedulur saya di Temanggung sana sudah sugih. La wong dia nandur kopi dari sejak jaman simbahnya dulu niku. Tapi nyatanya kok ya tetep saja cuma cukup buat maem sehari-hari saja tuh Ndoro. Omahnya ya tetep tembok batako. Ndak magrong-magrong. Motornya cuma satu buat bawa kronjot dagangannya ke pasar. Emas nopone Ndoro…” Mister Wasis ngekek.

Ealah… saya lupa. Emas hitam itu cuma berlaku di Eropa. Di petani sini ya cuma jadi seperti biji kopi. Saya terdiam. Kopi saya jadi terasa makin pahit. Duh.. iya ya… Kopi yang ada di cangkir saya ini kopi mahal. Tapi kopi yang mahal ini kok ya belum bisa bikin bangsa saya kaya. Sek salah njuk siapa ini ? Kopi saya jadi terasa adem dan makin pahit…