Tags

, ,

“Hush..hush..huuuussshhhh ” Mister Wasis mengayun-ayunkan sendalnya. Gayanya sudah bak Icuk Sugiarto. Kadang smash, kadang backhand. Sesekali sampai muntir-muntir. Semoga saja balungnya ndak ada yang mengsle. Bukan perkara obat mengobati, tapi repotnya jika Prime Minister saya ini sampai mrotoli, susah saya cari gantinya. One of a kind je.

“Ada apa je kamu kok bolehnya sibuk betul.” Saya melongok dari balik koran sore saya. Saya masih leyeh-leyeh di kursi kesayangan saya. Maklum… cuaca sore ini memang sedang dingin semilir anginnya.

“Niki loh Ndoro. Ada coro di kamar mandi. Sudah tak tutuk berkali-kali kok ya masih hidup saja. Ora mati-mati. Kapok e kapaaann..” Mister Wasis tampak gemes betul wajahnya.

“Ealah.. perkoro coro toh.” Saya kembali ngeloyor di kursi malas saya.

“Weh.. Ndoro kie loh. Coro itu bab penting je Ndoro. Penting dan substansial. Berkaitan dengan kebangsaan je. ” Tiba-tiba Mister Wasis sudah duduk ndeprok di bawah singgasana saya. Napasnya masih ngos-ngosan.. Tangan kanannya masih mengacung-ngacungkan sendal jepit. Sedang tangan kirinya sibuk kepet-kepet¬†keringetnya yang berleleran dengan koran.

“Ada apa ini kok Coro tiba-tiba jadi penting dan substansial. Tekan urusan kebangsaan barang. Mung makhluk ireng, elek, mambu tur mengkilat gitu loh.” Saya njenggelek mendengar antusiasme Mister Wasis. Biasane nek Mister Wasis begini, mesti ada sesuatu yang seru. Suatu letupan pemikiran.

“Gini loh Ndoro… Memang coro itu kecil, elek, mambu mergo gak tau adus, tapi yo tetep mengkilat. Tapi coro itu lak kuat. Ditapuk berkali-kali ndak mati-mati. Disemprot Baigon ping pirang-pirang yo tetep mlayu banter. Malah saya pernah liat coro sek ndasnya ilang saja masih bisa mabur blebar-bleber. Lak ampuh tenan toh Ndoro ?”

“Ha ya wis reti nek itu.. coro memang ampuh. Tapi njuk apa hubungan e coro sama penting dan subtansial ?”

“Heyeh.. Ndoro mosok ndak ngerti toh ? Sebagai priyayi dosen, kudune lak Ndoro tanggap sasmito nek coro ini sifatnya seperti bangsa kita toh? ” Ada senyum ngece dibalik statement Mister Wasis barusan. Semprul.

“Hayaaahh.. ngece kowe. Tapi yo mosok bangsa kita dipadakne coro toh Siiisss.. Ngawur dapurmu kuwi ” Tetap dong, sebagai priyayi elit, saya ndak mau disamakan dengan coro. Wedian po ?

“Weits.. serius ini Ndoro. Bangsa kita ini lak bangsa yang ampuh tenan sejak jaman Majapahit dulu. Walopun sudah dihajar macem-macem krisis tetep hidup toh ? Dihajar bencana alam ya tetep bisa guyup dan saling nyengkuyung supaya bisa kembali bangkit. Sekarang saja pemerintahnya alias ndasnya dianggap sudah tidak becus, tapi rakyatnya masih ada yang bisa moncer bahkan banyak sek bisa membantu sesama supaya bangkit dari kesusahan. Ha lak mirip banget kayak antep e coro Ndoro ?”

Mak tratap.. terkadang saya kaget juga dengan premis dan konklusi yang diajukan oleh Prime Minister Kitchen Cabinet saya ini. Terkadang jumpingnya di luar nalar akademik saya. Outside the box. Mungkin saking outsidenya, sampai njungkel. Tak heran jika terkadang logika saya terkaget-kaget jika dihadapkan dengan logika Mister Wasis. Tapi boleh diakui kalau logikanya terkadang ada benarnya. Ya seperti sore ini salah satunya…

Tapi … Mosok iya kita bangsa coro ? Ampuh sih.. tapi lak mambu…