Tags

, , , , ,

Menikmati ronde itu seperti klangenan. Moro-moro malem itu saya kok pengennya menikmati ronde Alun-Alun Utara. Terbayang sudah hangatnya glundungan ronde itu pecah di mulut membawa sensasi gula merah dan kacang tanah cincang, mak pyur. Trus ngglender masuk ke perut bareng sama air jahe, hangat sekali. Pas rasanya kalau dinikmati di malam hari sambil nyuwili roti bakar meses keju. Ya walaupun meses dan kejunya roti bakar ala Alun-Alun Utara ini lebih mirip pasukan Guerilla yang sporadis dan gosong disana-sini, tapi ya tetep mat dan selaras juga nek bertemu ronde.

Vale klangenan itulah saya nyeret Mister Wasis untuk menemani saya leyeh-leyeh di Alun-Alun Utara ba’da traweh. Ya memang pada dasarnya saya tidak bisa menerima kata tidak. Jadi walaupun Mister Wasis rada protes sedikit wong sudah kriyip-kriyip, ya akhirnya tetep terimo juga. Ha mau gimana lagi ? Wong saya Ndoronya je.

Di Alun-Alun Utara ini memang banyak betul gerobak penjual ronde. Saya pilih yang bisa lesehan. Ya namanya ronde itu kan enaknya disruput sambil lesehan. Sambil nyeruput, ya sambil nyomoti roti bakar. Itu baru lengkap namanya. Dua mangkok ronde dan dua roti bakar meses keju segera saja dateng.

Baru asyik menikmati hangatnya kuah jahe ronde yang dicemplungi suwiran roti tawar yang gurih, la kok ada pengamen yang dateng. Dua pengamen paruh baya.. necis dengan jas dan gitarnya. Sepertinya kok serius bolehnya mbarang.

“Nuwun sewu Bapak Ibu. Selamat malam. Boleh ya kami menemani Bapak Ibu dengan satu-dua lagu sambil menikmati ronde dan roti bakarnya.” Saya terkesima dengan kesopanan dua pengamen ini. Santun sekali. Saya cuma mengangguk pelan karena karena mulut saya baru penuh roti bakar yang belepotan selai stroberi.

Jrengg.. Este amor llega asi esta manera la…laa..llaaaa… jreng..ejreng..ejreng..

Jebul lagu Bamboleo yang dipopulerkan Gipsy King. Rada kaget juga saya kok ada saja pengamen yang mau nyanyi lagu ini. Ndak umum je. Tur rampak tenan rasanya, dinyanyikan dengan penuh “roso”. Walaupun cuma dinyanyikan dengan dua gitar tapi rasanya kok ya romantis betul. Jreng-jrengnya pas, ndak ada sek fales nyanyinya, merindingnya dapet. Wis.. sepertinya memang dinyanyikan dengan sepenuh hati. Gusto betul!

Saya minta  Mister Wasis memberikan limaribuan dari dompet saya untuk Bapak-bapak pengamen itu. “Weh Ndoro, kok banyak betul ngasihnya ke pengamen saja ? Wong biasane cuma sewu, kadang malah limangatus, kok ini sampe limaribu. Nopo ndak kliru po Ndoro ?” Mister Wasis protes saja ketika mendapatkan titah.

“Hush.. sudah..sudah.. sek ini beda. Apik tenan. Nyanyinya pake “roso”. Roso Sis.. Mawi roso… Kamu mestinya reti toh ? Wis sana dikasihkan.” Mister Wasis masih gedeg-gedeg saja ketika memberikan saweran.

Melihat Mister Wasis yang memberikan limaribu, dua pengamen ini tampak sumringah. Walhasil lagu Bamboleo tadi masih dilanjut lagi. Sampai 3 lagu. Dimedley dengan mulusnya. Yang semuanya dinyanyikan dengan “roso”. Trep, pas, dan mat jadinya. Sambil nyeruput wedang ronde, nyolek roti bakar ditemani lagu yang dinyanyikan mawi roso itu memang beda. Bener-bener klangenan.

“Bapak Ibu, terima kasih atas apresiasinya, kami undur diri dulu, selamat menikmati malam Bapak Ibu sekalian. Pareng..” La Guitarra Senor pamitan dengan sopannya. Macam seniman sejati. Saya manggut-manggut, mulut saya masih penuh air jahe dan glundungan ronde. Well, I will seeing you again Senor. Till we meet again pokok e.