Tags

, , , , , , , ,

Lebaran memang masih 2 minggu lagi. Tapi sebagai seorang Ndoro di rumah ini, peningnya pengaturan keuangan sudah mulai muntup-muntup. Tentu saja karena pengeluaran bulan Poso yang meningkat karena rego-rego bahan makanan ya naik seenak udelnya. Belum lagi anggaran tambahan untuk dua orang anggota keluarga konco wingking alias kitchen cabinet. Anggaran mereka tentu saja harus meliputi gaji dua kali dan tambahan bonus klambi lengkap atas sampai bawah. Mumet wis pokoknya. Pos anggaran sudah terbentang di depan mata. Padahal gajian dari kampus masih seminggu lagi (yang jumlahnya juga tidak bertambah).

Belum lagi sebagai kanca wingking tentu saja mereka punya kewajiban untuk mudik. Bagai masa resesnya anggota Dewan yang terhormat, kembali ke dapilnya masing-masing, tilik para konstituennya, untuk kemudian nggedebus supaya bisa dipilih lagi periode pemilu berikutnya. Mudik bagi para kanca wingking ini tentu saja minus nggedebus. Masa reses bagi para kanca wingking ini untuk kembali di desa kecintaan mereka. Reriungan bareng keluarga besarnya. Srawung tetangga yang sehari-hari mengais rejeki entah dimana. Mengumpulkan kembali balung pisah. Menjadi satu bagian kosmis yang lengkap lagi, sebelum kemudian akan tercerai berai kembali begitu musim mudik selesai. Kembali ke ritme sehari-hari.

Sedang bagi saya, lebaran tentu saja kembali nglumpuk juga dengan keluarga kecil saya yang pada nJakarte sehari-hari. Kembali uyel-uyelan dengan anak-anak dan ketambahan cindil-cindilnya yang usrek terus tak pernah leren. Ah.. keluarga kecilku yang menyenangkan.

Maka malam ini, ba’da Traweh, saya panggil dua orang kepercayaan saya, Prime Minister Kitchen Cabinet beserta wakil perdana menterinya. Mister Wasis dan Nyai Wasis. Seraya leyeh-leyeh di kursi malas dan mereka berdua ndelosor di karpet, saya ajak mereka berdua rembugan.

“Wasis, lebaran memang masih dua minggu lagi. Saya cuma mau memastikan saja, kalian berdua mau cuti lebaran berapa lama ? Seminggu seperti biasanya ?” Saya buka rembugan malam ini dengan pertanyaan yang selalu terlontar setiap tahun. Klise tapi penting.

Mister Wasis dan istrinya malah saling berpandangan. “Nuwun sewu Ndoro. Nek boleh, tahun ini kami tidak mudik saja.”

“Heloh ? Kok bisa ? Kowe ndak kangen sama simbok dan sedulurmu po ? La Thole gimana ? Mosok ya ndak kangen Bapak Simbok e?” Saya njenggelek kaget mendengar request dari mereka. Tidak mudik bagi mereka lak ibarat aib yang tidak bisa diterima. La wong mudik itu salah satu ritual lebaran je.

Ngapunten Ndoro. Kebetulan Simbok malah ke Jakarta ke tempat adik saya. La trus adik saya juga ndak mudik wong lagi mau babaran. Jadi ya simbok memang ke Jakarta dalam rangka ngancani adik saya babaran itu. Thole juga mau ikut simbahnya ke Jakarta. Plesir katanya. Pengen sekali-kali merasakan Lebaran di Jakarta. Tur pas preinya juga agak panjang. Begitu Ndoro. Ngapunten…” Mister Wasis mengajukan alasannya dengan mlipis sekali. Sepertinya memang sudah dipersiapkan matang betul.

“Oh ya wis nek sudah ada kesepakatan seperti itu. Aku malah seneng. Ono sek ngancani di sini.” Saya kembali lendetan di kursi malas mendengar alasan dari Mister Wasis. Memang agak di luar kebiasaan, tapi menyenangkan juga sepertinya.

“Kami ya seneng kok Ndoro. Lebaran di sini. Lak Ibu dan Mbak Gendis mesti pulang toh ? Mesti disini njuk banyak maeman enak-enak. Banyak parsel dari relasi-reasi Ndoro. Banyak oleh-oleh. Ndak kayak di desa, paling ya semprit sama semprong lagi. Mentok-mentok ya ketambahan madu mongso. Nek disini lak bisa ngicipi kastengel, spekoek, nastar.. wis akeh pokok e.”

“Woalaahhh.. jebul itu toh niatmu ndak mudik kie ? Pengen ngicipi kuwih-kuwih lebaran ? Ha mbok ngomong.”

Ajeng ditumbaske nopo Ndoro ?” Mister Wasis langsung sumringah.

“Ha yo ora. Mung ngomong wae. Mengko tak iming-imingi rasane.” Saya ngekek nggarapi Mister Wasis yang nampaknya sudah kemecer betul membayangkan dirinya ditebari kuwih-kuwih lebaran.

“Ealah Ndoro.. kok ya tegel tenan nggarapi saya sek wis pengen tenan.” Mister Wasis mengkeret lagi suaranya. Saya jadi merasa bersalah.

“Wis.. wis.. nanti tak pesenkan Ibu Alit numbaske pinginanmu itu. Spekoek, kastengel, putri salju, kurmo cokelat, nastar dan lain-lainnya. Akeh tur enak-enak. Pake rombooter dan wijsman yang banyak. Keju edamnya yang asli ben kedanan. Piye ? Seneng toh kowe ?” Saya angkat lagi hati Mister Wasis. Biar mutungnya segera berhenti. Nek mutung trus saya ndak disiapke sahur lak saya sendiri yang cilaka.

“Heheheh.. maturnuwun ndorooo..” Kompaknya suara suami istri ini nek lagi sumringah. Blas ndak ada bleronya. Mongkok hati saya nek melihat mereka berdua bahagia.

“Selamat tinggal semprong, selamat datang spekoek.” Bisik Mister Wasis pelan.