Tags

, , , , , , ,

Jagad Pakeliran manusia Jawa dan kehidupan sosialnya tidak lepas dari etika atau Unwriten Law. Yang tidak tertulis ini kemudian menjadi hal yang umum, menjadi kewajaran, tahu sama tahu. Unwriten law inilah yang mengikat orang Jawa dalam orbitnya sehingga tetap edi peni, harmonis dan tata tentrem raharja. Tidak mrotholi dewe-deweUnwriten law ini pula yang memastikan bahwa setiap orang Jawa bersikap nJawani dalam berperilaku.

Maka munculah istilah ngono yo ngono ning ojo ngono. Yang menjadi salah satu pedoman unwriten law dalam etika kosmopolitan Jawa. Silakan mengambil hak, asal tidak nyenggol hak orang lain. Secukupnya saja. Sebijaksana mungkin.

Namun di era yang semua serba cak-cek dan sat-set seperti ini, maka orang Jawa hanya akan menjadi penonton di jagad pakeliran dunia yang makin semrawut. Ndomblong ditinggal bangsa-bangsa lain yang lebih trengginas. Nek ora melu ngedan ora kebagian. Padahal bagi orang Jawa, ngedan itu tentu saja tidak edi peni, tidak tidak harmonis dan tidak tata tentrem raharja. Maka perlu dicarikan jalan keluar dari kebundhetan unwriten law ini. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa beradaptasi dengan kemajuan jaman. Bisa bernegosiasi dalam tuntutan masyarakat yang makin plural dan majemuk. Dan bangsa Jawa adalah bangsa yang besar, setidaknya dalam jumlah. Dengan menggunakan patokan filosofis Jawa : Njupuk Iwake Ojo Nganti Buthek Banyune, maka kemudian dinegosiasikanlah prinsip Jawa yang sesuai dengan kemajuan jaman.

Maka alon-alon maton kelakon adalah contoh dari pengejawantahan prinsip negosiasi ala Jawa. Boleh alon-alon, asal akhirnya kelakon. Jika memang harus pelan ya jangan dipercepat. Karena cepat terkadang membahayakan dan beresiko berbentrokan dengan pihak lain. Filosofi Jawa menabukan konfrontasi itu karena tidak edi peni, tidak harmonis, tidak tata tentrem raharja dan tentu saja tidak pantes dilakukan kawulo Jawa. Namun demikian, jika memang saatnya cepat, sat-set, cak-cek dan dinamis, ya lakukanlah dengan trep dan pas. Yang harus tetap dipegang adalah hindari konfrontasi sebisa mungkin karena konfrontasi itu ,sekali lagi, tidak edi peni, tidak harmonis dan tidak tentrem tata raharja.

Alon-alon dalam prosesi Jawa berarti penuh kehati-hatian. Bukan semata pelan karena malas. Tapi bertujuan agar ketika mengambil keputusan dan melangkah, paugeran yang sudah terbangun tidak terkoyak karena grusa-grusu. Maton kelakon menandakan bahwa ketika langkah pertama sudah diambil, ketika keputusan sudah ditetapkan, maka selesaikanlah dengan sampurna pada waktu yang sudah ditetapkan. Deadline tetap harus dipegang teguh. Selesai tepat waktu atau mati!

Namun terkadang karena terbuai dengan prinsip alon-alon ini tanpa menerapkan prinsip maton kelakon, orang Jawa sering menjadi kawula yang terlambat. Seperti Mister Wasis yang belum pulang juga dari bolehnya plesiran ke Pasar Tiban Kauman. Tidak lain karena saya utus untuk membeli maeman buko. La kok sudah tinggal 10 menit lagi adzan Maghrib, suara kenalpot montornya itu belum terdengar juga dari ujung gang sana. Nyai Wasis pun sudah ketar-ketir menunggu suaminya di gerbang depan. Takut terjadi apa-apa.

5 menit kemudian baru terdengar suara kenalpot Honda Supercupnya yang khas itu. Wer..Wer..Wer…

“Welah.. Bapakne ini darimana saja toh ? Sudah dienteni sama Ndoro Besar dari tadi loh itu.” Nyai Wasis yang sudah ketar-ketir tentu saja langsung nyemprot suaminya yang malah pringas-pringis.

Nganu Istriku… tadi lali jiwo. Liat maeman sek enak-enak di situ njuk mung ndomblong. Kok ketok e enak kabeh. Nganti lali wektu.” Mister Wasis masuk ke rumah sambil munduk-munduk. Masih saja tetap pringas-pringis.

“Wasis.. Kok suwe Sis ?” Suara saya pelan dan didalem-dalemkan. Biar kesannya lebih sangar. Sebagai priyayi, ya tetep kudu berwibawa kalo menegur. Supaya tetap edi peni, harmonis dan tata tentrem raharja. Priyayi Jawa jeh.

“Hehehe… Ngapunten Ndoro. Kesenengen liat sek enak-enak tadi di pasar Tiban. Jadi lali wektu. Sek penting lak tetep kecandak toh Ndoro ?” Si sontoloyo ini masih saja ngeles sambil tangannya cak-cek menyiapkan hidangan buko di meja makan.

Nah ini dia, contoh kawulo Jawa sek mbeling. Prinsip Alon-Alon Maton Kelakonnya jadi Alon-Alon Waton Kecandak. Untuk masih nyandak pas Adzan Maghrib.. Nek ora…

Catatan Kaki : tulisan ini terinspirasi dari tulisan Kang Lantip Alon-Alon Waton Gelis Mari berbalas blog lagi. hihihihihii.