Tags

, , , , , ,

Sore hari adalah waktu keramat dimana Yu Winah sering mampir ke teras rumah dan menurunkan koleksi prajurit jajan pasarnya. Tenongan kuning itu diturunkan, dan dengan sabar jajan pasarnya dibleber temoto rapih ala gelar sapit urang. Koleksi jajan pasarnya yang rasanya memang patoet dipoedjikan ini ada kalanya tinggal beberapa saja karena habis diborong oleh ibu-ibu tetangga komplek yang pas punya acara. Tapi kalau pas beruntung ya bisa dapet beberapa item langka yang masih utuh tersedia. Terkadang jika memang sedang ngidam banget, saya pesan ke Yu Winah untuk disisakan beberapa gelintir Loenpia yang bersiram saus bawang putih mlekoh beserta acar mentimunnya yang mak legender itu.

Ndilalah sore ini adalah periode keberuntungan saya. Loenpianya masih tersedia beberapa gelintir. Dan bak jenderal memeriksa pasukan, saya dengan sigap memeriksa deretan jajan pasar lainnya. Siapa tahu ada yang pas dengan selera.

Niki loh pesanannya Pak Besar sudah saya cepakkan. Loenpia goreng lengkap dengan saus bawang putih dan acar mentimun ekstra. Sumonggo..” Tangan Yu Winah dengan sigap membungkuskan 3 gelintir Loenpia goreng beserta kondimennya yang kemudian diserahkan ke Nyai Wasis sebagai juru terima di Kitchen Kabinet.

Saya manggut-manggut. Tapi anak mata saya sepertinya belum puas. masih pengen menelisik lebih lama ke koleksi jajanan pasar di tenongan ini.

Pripun Pak Besar.. masih ngersani nopo malih ?” Dengan sigap Yu Winah menangkat gelagat saya, kesempatan mengetuk lebih dalam benteng finansial, setelah mengamati anak mata saya yang masih melirik-lirik koleksi jajan pasarnya.

“Oh.. sampun kok Yu. Saya tadi cuma mau melihat apakah masih ada Selad Solo yang belum teradopsi. La kok jebul sudah punya orang tua asuh semua.” Batin saya agak lego karena berarti tidak jadi kebobolan lebih dalam walaupun jan-jane memang sedang pengen ngicipi Selad Solo untuk teman memeriksa paper mahasiswa nanti malam.

Nek ngersani, besok sore biar saya siapkan nggih Pak Besar ?” Bak womanpreneur sejati, tentu saja tidak bakal melepaskan tangkapan yang sudah setengah terpancing seperti jawaban saja tadi. Kena kowe Bung..

Mboten usah Yu. Saya cuma kepingin icip-icip saja kok tadi.” saya cuma bisa menghindar dari taktik perang Yu Winah yang sudah hampir menang itu sambil klecam-klecem. Touche

Tiba-tiba Mister Wasis masuk pekarangan dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat seperti habis melihat hantu. La tapi kan ndak ada hantu nek mataharinya masih padang jingglang seperti ini.

“Mbokneee.. Es teh Mbokneee..” Mister Wasis tiba-tiba ndelosor di teras. Metangkring di depan tenong Yu Winah. Tangannya segera meraih sebungkus bolu kukus yang tak begitu lama langsung tandas masuk ke mulutnya.

Nyai Wasis dengan sigap segera masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar dengan segelas besar es teh yang langsung ditenggak suaminya dalam sekali angkat. Dia tahu, suaminya sedang ingin menata hati. Pasti ada cerita seru yang barusan terjadi. Tapi untuk sampai ke cerita itu, ada syarat yang harus ia berikan.. yaitu ya es teh tadi..

Knopo je Kang.. Kok sajak keseso banget. Mbok pelan-pelan saja maem dan minumnya. Ndak malah keselek. Tetangga saya kemarin ada yang mati loh gara-gara keselek. Saestu itu..” Yu Winah agak khawatir dengan Mister Wasis yang masih belum patek teratur napasnya.

“Ha tadi jantung saya hampir copot je Yu. Mak Tratap. Hampir saja dicowel mbun-mbunan saya sama Malaikat Maut.” Mister Wasis nyauri Yu Winah dengan napas yang masih memburu

Weh tenan e Pak e. Ono opo je ?” Nyai Wasis jadi mulai panik ketika mendengar cerita suaminya yang sebenarnya suka rada dramatis ini.

“Hampir saja tadi saya ditabrak montor yang selonongan nyetirnya itu. Nek saya ndak menculat ke samping, bisa-bisa skarang istri aja sedang nyiapke gendero kuning..” Mister Wasis membuka cerita dramatisnya dengan premis yang cukup tragis.

“Wah.. kok do ngawur tenan yo sekarang sek numpak kendaraan itu. Sok ngambil jatahnya pejalan kaki seperti kita ini. Kapan hari itu saya ya pernah hampir kesrempet montor yang ugal-ugalan di gang sebelah itu. Padahal lak yo saya mlaku mung alon-alon, wong mbawa Tenong, kok ya masih dipepet sisan. Wis jiaann.. Ngawur e lak nemen toh itu Mas ?” Yu Winah menimpali. Hmm.. sepertinya bakalan jadi  pembicaraan sore yang rada berat ini. Saya pasang telinga, nyepakne ati, siapa tau ada ide-ide cemerlang dari obrolan mereka. Obrolan santai tapi berisi. Lumayan buat modal ngajar di kelas.

“Eh Ho oh loh Pakne.. sekarang itu banyak sek naik mobil montor itu pada hilang sabarnya. Ha mosok tho.. tadi pagi kan saya ke Kotagede, niate mau ngambil pesenan Bapak di toko perak deket pasar itu. Saya naik becak ben penak tur silir. La kok ujug-ujug di belakang ada mobil sek gede itu, ngelakson. Lak ya edan toh itu ? Sudah tahu jalan di Kotagede itu kecil-kecil, saya sedang naik becak, eh isih di klakson. Becak kie ya cuma bisa ngapa ? Wong digenjot sak banter-banter e cuma bisa segitu saja cepetnya. Apa dipikirnya becak nek di klakson trus bisa mabur atau njuk jadi banter kayak montor pa ya?” Kini giliran Nyai Wasis yang menimbrungi obrolan sore di teras rumah itu

Pripun niki Ndoro..” Mister Wasis memandang ke arah saya, seolah ingin mencari bala bantuan mendukung ceritanya.

“Kok bisa ya pengendara montor itu sekarang hilang sronto. Ndak punya kesabaran dan tepo seliro. Ha mosok jatahnya orang lain mau disikat juga. Piye itu Ndoro ?” Kini semua mata memandang ke arah saya. Walaupun saya sudah biasa dimintai pendapat oleh kolega-kolega saya di kampus, tapi nek pertanyaannya berat seperti ini, saya jadi keder juga. Gek-gek nek saya salah memberikan saran, bisa-bisa menjerumuskan tiga orang ini. Wah… saya harus berpikir serius ini.

“Sek..sek.. Lak ndak semua pengendara kendaraan seperti itu toh ? Nek ndak, ya jangan digeneralisir. Semua permasalahan itu diletakkan sesuai porsinya. Kita pilih mana penyebab yang pas untuk setiap kasus. Baru kita selesaikan. Nek digebyah uyah, malah bisa cotho nanti hasilnya. Ndak bijaksana…” Saya berusaha menengahi klaim dari tiga orang yang sedang berperkara ini. Lah dalah.. La kok mereka malah mlongo sekarang.

“Gini. Nek ada yang ngawur naik montornya, bisa jadi mereka sedang terburu-buru toh ? Atau memang tidak tahu situasi di daerah tersebut. Misalnya dalam kasusnya istrimu itu. Bisa jadi yang ngelakson itu bukan orang Jogja yang tidak tahu kalau Kotagede itu jalannya kecil-kecil. Mungkin dikiranya kalau di depannya nanti ada jalan yang lebar. Dan kalau dalam kasusmu, bisa jadi mas-mas yang naik sepeda motor itu sedang panik karena istrinya baru mau melahirkan di Sardjito situ. Walaupun tidak bisa dibenarkan tindakannya, tapi bahwa setiap tindakan pasti ada alasan logisnya kudunya bisa dipahami. Tepo seliro tidak hanya dari orang yang naik montor, tapi terkadang juga dari kita yang sedang jadi pejalan kaki.  Nek hanya salah satu yang tepo seliro, ya ndak rukun juga jadinya toh ?”

“Coba diingat-ingat, lak kamu pernah dianterkan orang naik mobil sampai rumah sini pas kemalaman pulang dari Srandakan itu toh ? Lak itu menandakan ada juga pengendara yang baik. Ho oh po ora ?” Saya masih berusaha memberikan sisi positif dari perkara pelik ini.

“Ya iya sih Ndoro.. Pengendara montor yang baik ya tetep ada. Tapi saya masih bingung saja.. Kok sepertinya sekarang saya merasa banyak pengendara di Jogja makin tidak sronto kalau di jalanan. Sronto kemana ya hilangnya ?” Mister Wasis bergumam. Dua orang lainnya manggut-manggut mengiyakan. Ealah Srontooo.. kamu hilang kemanaaa…

Saya yang tadinya mau mengeluarkan teori tentang penurunan IQ seseorang karena terlalu banyak menghirup asap buangan kendaraan terutama yang mengandung timbal, jadi agak urung. Jangan-jangan kalau dikeluarkan informasinya, malah kebablasan dan tidak pas. Saya urungkan niat saya mengeluarkan teori itu jadinya.

“Ya mungkin harus kita maklumi. Jogja sekarang sudah banyak kendaraan. Hampir setiap hari diler-diler motor dan mobil itu mengeluarkan kendaraan baru. Ndilalah Jogja juga susah diperbesar jalanannya.. wong tempatnya sudah habis. Jadilah macet di jalan yang kadang bikin spaneng para pengendara montor itu. Orang yang spaneng, suka kurang sabar jadinya. Lak begitu toh ?”

“Iya Ndoro.. jalanan Jogja sekarang mirip kayak hutan. Yang kuat yang menang.. nek ndak kuat ya ndak usah pake jalanan. Masih lebih enak jalan-jalan di kampung saya di Srandakan sana. Masih bisa kemlinthi di tengah jalan. Amann…” Mister Wasis nyawang ke atas.. berandai-andai..

“Ha ya jangan disamakan tengah kotanya Jogja dengan Srandakan toh ya. Eh wis.. wis.. ini gimana Yu Winah. Jadinya berapa semuanya ?”

“Oh iya.. sudah sore, saya juga sudah ditunggu laporannya sama Juragan saya. Semua jadinya dua puluh lima ribu Pak ”

Saya membuka dompet dan bersyukur masih ada satu lembar duit biru. Lumayan bisa buat jajan sore ini. Saya angsurkan ke Yu Winah yang dengan sigap membuka  brangkas di tenongannya.

Maturnuwun sanget Pak Besar Kulo nyuwun pamit. Nuwun ……”

“Oh iya. Kulo juga matur nuwun. Minggu depan nek masih ada selad solo, mbok saya disisakan dua atau tiga bungkus.”

Sendiko dawuh Pak Besar.. Pareng..”

Yu Winah menumpuk kembali tenongannya, mengikatkan dengan kain besar, melontarkan tenong ke atas dengan agak akrobatik yang langsung madeg di punggungnya dan kemudian berjalan ke luar.

“Jajan pasaaaarrrr.. Jajan pasarrnya Buuuuu..” Suara Yu Winah makin pelan ditelan sore. Semoga perjalananmu lancar sampai rumah dan seterusnya. Doakan ya Yu, semoga Sronto masih berkenan hinggap hati orang-orang di kota ini.