Tags

, , ,

Teman saya mas Lantip yang terkenal blognya itu pernah bertanya di twitter. Bedanya Desa Wisata dan Outbond itu apa ? Kok sekarang banyak desa wisata yang punya fasilitas outbond segala. Apa ndak malah rancu dan tumpuk undung fungsi ?

Idem dengan pertanyaan (pernyataan) mas Lantip tersebut, saya juga melihat Konsep Desa Wisata di Jogjakarta banyak yang gamang dan memaksakan diri. Mungkin karena keinginan luhur dari pada warga desa di Jogjakarta untuk bisa menampilkan desanya sebagai desa Wisata namun tanpa dibarengi oleh pengetahuan konsep yang pas tentang desa wisata itu sendiri.

Padahal, secara umum, desa Wisata di Jogjakarta mempunyai potensi pemandangan alam, tata desa dan kegiatan yang cukup untuk menjadi sebuah desa wisata. Namun sepertinya karena pertimbangan marketing, hal ini kemudian jadi perlu penambahan-penambahan fasilitas dan kegiatan yang justru kadang merusak konsep desa Wisata.

Mari kita melihat sejarah Desa Wisata dulu. Desa Wisata banyak berkembang di Jawa Barat pada awal tahun 2000an ketika orang Jakarta mulai bingung harus piknik kemana ketika liburan tiba. Desa wisata di Jawa Barat mengenalkan kembali tentang konsep desa dengan segala kegiatan pedesaannya seperti membajak, mencangkul, berkebun, mandi di sungai dan hal-hal yang biasa di lakukan di desa kepada orang-orang kota yang sudah tidak memiliki sungai yang airnya jernih untuk mandi apalagi sawah. Adik-adik kita yang sudah tidak pernah melihat belut atau putri malu kemudian dikenalkan lagi melalui piknik ke desa wisata seperti ini. Desa wisata seperti ini kemudian menjamur di Jawa Barat.

Tak lama kemudian, potensi ini dilirik oleh daerah lain, tak terkecuali desa-desa di Jogjakarta yang potensi kedesaannya tak kalah orisinil dibandingkan desa-desa wisata di Jawa Barat. Namun apa lacur, permintaan untuk ke desa wisata di Jogjakarta tidak sebanyak permintaan untuk ke desa wisata di Jawa Barat. Di Jogjakarta masih banyak masyarakat yang bisa melihat sawah. Jadi berpiknik ke sawah menjadi hal yang rada muspro untuk dilakukan. Sedangkan kota besar metropolitan cukup jauh jaraknya dari Jogjakarta. Ya paling tidak, tidak sedekat jarak Subang – Jakarta misalnya.

Kurangnya permintaan pasar ini memaksa desa wisata untuk lebih “kreatif” dalam membuat atraksi di desanya. Hal ini yang kadang justru merusak keaslian dari desa Wisata tersebut. Misalnya : Desa yang sebelumnya tidak pernah ada tarian sambutan kepada tamu, ujug-ujug membuat tari-tarian penyambutan. Penarinya diambilkan dari Ibu-Ibu yang dipaksa belajar menari dan dimake up tebal. Sayangnya hal seperti ini justru jadi antiklimaks bagi pengunjung yang benar-benar mencari orisinalitas desa Wisata.

Kreatifitas pengelola desa wisata ini kadang juga sampai merambah dengan adanya penambahan fasilitas outbond seperti flying fox, arung jeram dan lain sebagainya. Padahal konsep desa wisata adalah kembali ke desa yang sebenar-benarnya desa. Mana ada desa yang punya flying fox untuk bermain. Jaman waktu saya kecil dahulu di Kalasan (yang cukup ndeso waktu itu), mentok-mentok saya main prosotan di bukit atau nyemplung ke sawah yang barusan di garu. Ndak ada tuh yang namanya flying fox.

Namun demikianlah yang terjadi. Permintaan akan tempat outbond yang bernuansa asri ala pedesaan di Jogjakarta, justru lebih banyak dibandingkan permintaan kunjungan ke desa wisata yang orisinil. Karena biasanya permintaan untuk ke desa wisata yang orisinil ini justru lebih banyak dari Wisman (Wisatawan Mancanegara) yang notabene tidak sebanyak Wisdom (Wisatawan Domestik).

Konsep desa wisata yang cukup pener menurut saya, salah satunya diamini oleh desa wisata Candirejo. Disini pengunjung akan bisa menikmati pemandangan ala pedesaan jawa. Khas dengan nggenjot sepeda berkeliling desa atau menaiki delman sederhana. Jika pas musim panen di sawah atau kebun, ya para tamu ini bisa ikut mencoba panen. Dan masih banyak kegiatan ndeso lainnya yang bisa dilakukan di sini. Orisinil tanpa adanya tanda-tanda bahwa keramah-tamahan itu disetting sedemikian rupa untuk mendapatkan simpati.

Di Vietnam, konsep desa wisata ini juga berkembang. Namun disana, sebagai sebuah negara bekas jajahan Perancis, yang banyak mengembangkan desa wisata adalah orang-orang Perancis yang bergerak di bidang pariwisata (sebagai ekspatriat tentu saja). Jadi tastenya ya rada-rada Perancis yang rada flamboyan gitu. Etapi bagus loh. Coba bayangkan : ketika Anda sedang berjalan-jalan menyusuri sawah tiba-tiba Anda di awe-awe oleh seorang petani tua untuk diajak duduk di dangaunya. Diajak minum teh dari gelas kaleng yang sudah penyok-penyok sambil menikmati pisang rebus atau kacang rebus. Saat anda menikmati sajian sederhana tersebut, si petani tua ini tiba-tiba mengeluarkan suling dan meniupnya.. memainkan sebuah lagu klasik Vietnam. Ditemani semilir angin di dangau nan adem, apa ndak meleleh Anda kalau diperlakukan seperti itu ? Diperlakukan bak saudara jauh padahal babar blas ndak kenal. Apakah itu asli ? Woit.. itu settingan saudara-saudara.. tapi settingannya terasa orisinil. Nah itu bedanya dengan desa wisata kita. Desa wisata kita terlalu berasa settingan ala sinetronnya. Kurang halus dalam menyajikan..

Lalu apa yang sudah saya lakukan ? Ha saya cuma bisa koar-koar saja ke pengelola desa wisata yang saya kenal. Tapi ya tetep mentok di realita, karena permintaan untuk outbond dari saudara-saudara kita yang berwisata ke desa Wisata ini jauh lebih banyak dari permintaan desa Wisata yang otentik. Ya akhirnya saya cuma bisa nyengir..