Tags

, , , , ,

Fakta yang mencengangkan sudah terpampang di depan mata. Sampai tahun 2015, akan ada sekitar 20 hotel baru di Jogjakarta. 20 hotel baru itu akan menyediakan kamar-kamar baru sampai 7000 kamar. Ada banyak arti dari fakta bahwa Jogjakarta akan menjadi kota dengan jumlah kamar hotel yang banyak pada tahun 2015 tersebut. Mari kita telaah beberapa di antaranya

1. 7.000 kamar berarti 14.000 jumlah wisatawan baru (asumsinya bahwa 1 kamar akan di isi oleh 2 orang).

2. 14.000 wisatawan baru ini akan mengendarai 3500 mobil (jika semuanya berupa keluarga), atau 280 bus (jika semuanya mengendarai bus untuk ke Jogjakarta). Selain potensi bisnis yang besar, mungkin sebagian dari kita mulai mengernyit… macetnya akan seperti apa itu ? Atau sebagian dari kita pun akan berpikir, lalu parkirnya dimana ? Jika semua tumplek di Malioboro dan Alun-Alun pada satu hari, maka apakabarnya Malioboro dan Alun-Alun ?

3. 3500 kendaraan mobil itu akan menyesaki jalan-jalan di Jogjakarta yang notabene jalan-jalannya kecil dan tidak punya kemungkinan untuk diperbesar. Jalan-jalan di kota Jogjakarta kebanyakan adalah peninggalan Belanda yang tidak di desain untuk mengakomodasi pertambahan kendaraan sampai sebanyak ini. Panjang jalannya tidak mencukupi.. Yah.. hal ini juga di alami oleh banyak kota lain di Indonesia dimana pertambahan jumlah kendaraan tidak seimbang dengan pertambahan ruas jalan. Selamat datang kemacetan.. sampai suatu saat kita menemukan metode transportasi massal yang aplicable.

4. 20 hotel baru tersebut berada di wilayah kota Jogjakarta dan Sleman.. 3 Kabupaten lain di DIY sepertinya tidak menikmati cipratan investasi ini. Ya tidak kecipratan sama sekali sih.. tentu saja masih dapat karena objek wisata di 3 Kabupaten tadi tidak kalah indahnya. Tapi kan… ya tahu sendiri lah..

5. 20 hotel baru ini bertambah dalam waktu 3 tahun atau rata-rata 7 hotel baru dalam 1 tahun. 7 hotel baru memerlukan 7 tenaga kerja berlevel General Manager dan akan membutuhkan kurang lebih sekitar 30an orang tenaga kerja berlevel Manager. Padahal, untuk memproduksi seorang berlevel General Manager akan membutuhkan waktu dan pengalaman minimum 5 tahun. Apa efeknya ? Bajak membajak dari satu hotel yang sudah establish ke hotel baru. Atau bisa juga terjadi pengkarbitan tenaga kerja yang sebenarnya belum mampu menjabat level General Manager harus menjadi level General Manager. Peningkatan lapangan pekerjaan yang spesifik seperti ini memang seringkali tidak diikuti oleh ketersediaan tenaga kerja yang sudah memiliki kaliber yang pas. Efeknya bagi level hospitality industri pariwisata Jogja ? Kemungkinan besar terjadinya penurunan kualitas karena belum capablenya person-person yang menjabat posisi kunci di hotel-hotel baru. Apakah tidak memungkinkan untuk mengimport General Manager dari kota lain untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja ahli ? Oh.. bisa saja.. Namun sayangnya, Jogjakarta memiliki spesifikasi unik yang tidak mudah untuk bisa segera diikuti oleh General Manager yang tidak memahami Jogjakarta.

6. 14.000 wisatawan baru berarti tambahan 14.000/hari kebutuhan termasuk air bersih yang harus dipasok dari air tanah & PDAM. Tanpa ada tambahan tanaman keras yang menjaga pasokan air, maka ini bahaya…

7. 20 hotel baru itu sepertinya cuma sekitar 20% yang berasal dari investor lokal. Sisanya dari investor luar Jogjakarta bahkan ada yang dari Malaysia dan negara lain. Apa maksudnya ? Maksudnya… kita akan mulai menjadi buruh di kota sendiri.. bersiaplah…

Kita belum membahas efek-efek yang lebih fundamental seperti pergeseran gaya hidup, hilangnya tata norma masyarakat karena gesekan antara kebutuhan dan tata nilai tradisional, dan hilangnya kenyamanan Jogjakarta sebagai kota yang Selow….

Ah… marilah optimis sedikit…😀

Notes : Tulisan ini tubikoninyut (mudah-mudahan) dengan tulisan tentang Mall barunya Jogjakarta..😀