Tags

, , , , ,

“Coba manajer dapur hotel itu bikin riset serius kenapa teh hotel selalu kalah nasgithel dibandingkan teh angkringan” ~ Buku Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman

“Kenapa kopi hotel itu selalu encer seperti kencing kuda. Kalah jauh dibandingkan kualitas kopi-kopi yang disajikan di kedai-kedai kopi pinggir jalan sekalipun” ~ Anonim

Jika ingin menarik mundur sejarah masuknya teh dan kopi, perkembangan teh dan kopi, dan sampai kenapa teh dan kopi di restaurant kita lebih sering mengecewakannya, maka kita perlu membuka kitab sejarah bangsa. Dimulai dari penjajahan Belanda.

Kopi mulai masuk ke Indonesia antara tahun 1696 – 1706 ketika seorang warganegara Belanda bernama Zwaardecroon, membawa beberapa benih tanaman dari Mekkah ke BogorIndonesia. Dan, menjadi tanaman komoditas terpenting di Hindia Belanda.

Sedangkan Teh mulai masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Dan kemudian dikembangkan menjadi tanaman perkebunan. Pada tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stelsel). Sejak saat itu teh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kopi dan teh adalah dua komoditi yang menjadi monopoli Penjajahan Belanda atau sering kita kenal sebagai VOC. Pada jaman penjajahan Belanda tersebut, jelas warga Indonesia hanya penjadi pesakitan dan pekerja kasar buruh perkebunan baik Teh maupun Kopi.. Sedangkan posisi mandor selalu dipegang oleh warga Belanda. Ketika kualitas teh dan kopi terbaik di ekspor ke Belanda dan sebagian kecil dinikmati oleh para Mandor, maka pekerja perkebunan teh dan kopi hanya dapat menikmati teh dan kopi yang kualitasnya bawah.

Teh terbaik sebenarnya ada di pucuk seperti yang banyak kita tonton dari iklan-iklan teh dalam kemasan di televisi saat ini. Daun ke 3 sampai 6 masih bolehlah dianggap baik. Namun sayangnya, nenek moyang kita dulu biasanya mendapatkan teh yang berada di bawah teh kualitas daun ke 6 tersebut. Bahkan lebih sering hanya mendapatkan teh yang berasal dari batang yang terikutkan saat pemetikan pucuk teh. Teh kualitas batang ini rasanya pahit dan kelat karena kadar tanin yang tinggi. Dan aromanya tidak terlalu wangi. Nenek moyang kita tidak punya pilihan lain karena hanya teh kualitas tersebut yang bisa didapatkan. Tapi tentu saja karena kreatifitas yang tinggi kemudian nenek moyang kita menemukan cara untuk mendapatkan teh yang wangi. Dengan cara menambahkan / memeram teh batang tadi dengan bunga melati. Jadilah teh melati yang sering kita kenal sekarang. Berawal dari situlah kemudian bangsa kita jadi terbiasa merasakan teh yang Nasgithel alias Panas, Legi, dan Kenthel (Panas + Manis + Kental) dan juga wangi melati (di beberapa daerah di Indonesia ada yang menggunakan jenis bunga lain seperti Chulan dan lainnya).

Lalu bagaimana dengan Kopi ? Kurang lebih setali tiga uang lah. Karena nenek moyang kita jarang bisa mendapatkan kualitas kopi yang kualitasnya baik, bahkan hanya bisa mendapatkan sedikit kopi, maka kemudian kopi dicampur dengan beras atau jagung agak bisa dikonsumsi oleh banyak orang. Kopi ini kemudian disangrai sampai hitam kelam alias gosong. Pahit dan kental menjadi ciri kopi ala nenek moyang kita yang diteruskan kepada kita cucu-cucunya. Penyeduhan kopinya pun menggunakan metode tubruk atau dituangi air panas yang baru saja mendidih. Ada juga yang menggunakan metode seduh di klotok, alias di rebus bersama dengan bubuk kopinya. Metode tubruk dan seduh ini memerlukan kualitas kopi yang gosong dan jumlah yang cukup banyak untuk bisa mengeluarkan aroma kopi yang khas dan cukup pahit.

Padahal.. dalam dunia per-Teh-an dan per-Kopi-an, definisi teh dan kopi yang baik sangatlah berbeda. Teh hitam yang benar adalah teh yang pahitnya indah, wanginya seperti buah yang baru dipetik dan warnanya kemerahan terang. Dan Kopi yang baik.. yah bisa ditebak sendiri deh😀

Maka.. ketika sahabat-sahabat kita di dunia perhotelan harus menyajikan kopi dan teh terjadilah polemik di antara batin-batin mereka. Muncul kegalauan dunia perhotelan Indonesia ketika mendapati kenyataan tersebut. Jika mengikuti standard yang benar, maka Teh dan Kopi yang harus disediakan menjadi terlalu mahal bahan bakunya. Sebagai gambaran, harga teh internasional adalah USD 1.9/kg atau sekitar Rp 17.000. Sedangkan harga kopi kualitas baik di pasaran internasional berada di kisaran USD 2.8/kg atau sekitar Rp 25.000/kg. Bandingkan dengan harga teh dan kopi yang beredar di pasaran Indonesia secara umum. Yang pake bungkus kertas ya.. bukan yang plastik.. apalagi yang alumunium foil. Nah seperti itulah gambarannya. Jika sahabat-sahabat kita ingin mengikuti standar yang beredar dan disukai masyarakat Indonesia, tentu akan di cela oleh penilik standardisasi hotel. Karena galau yang tak berujung itulah.. kopi dan teh hotel kita jadi lebih banyak yang tidak bener. Tidak bener kan tidak menganut kutub yang jelas. Baik itu kutub yang benar-benar-benar. Maupun kutub yang-terbiasa-benar.

Ya… kalo kamu tidak puas dengan kopi dan teh hotelmu, mungkin perlu ada baiknya, bawa teh dan kopi sendiri😀