Yang berusia 20an seperti saya *pencitraan*, pasti pernah mengalami masa-masa berhujan-hujan di tengah jalan sepulang sekolah. Atau bermain air sambil mencuci motor bersama ayah. Atau nyemplung ke kali yang airnya bersih jernih waktu liburan di rumah eyang. Yap.. negara kita negara tropis.. yang rasanya jumlah airnya berlimpah…

Tapi itu dulu… Karena faktanya adalah :

1. Jumlah air bersih yang ada di bumi kita ini hanya 2.5% dari keseluruhan air yang ada. Sisanya yang 97.5% adalah air asin yang tidak bisa di konsumsi secara langsung.

2. Dari 2.5% air bersih itu, 2/3nya dalam bentuk es, sehingga juga tidak bisa dikonsumsi langsung… tersisa hanya tinggal 0.8% yang bisa dikonsumsi oleh manusia. Kebayang kan sedikitnya air yang bisa dikonsumsi itu ?

3. Dari 0.8% air tawar itu, 1/3nya dikonsumsi oleh China, Amerika & India.. Sisanya sekitar 0.5% diperebutkan di seluruh dunia. *makin sedikit ya jumlah air bersih buat kita di Indonesia*

4. Berita baiknya, usaha dari berbagai badan dunia yang concern ke masalah air bersih ini, membuat pemerataan air bersih mencapai 92% dari seluruh populasi dunia (data tahun 2012 dari UNICEF dan WHO). Namun demikian, masih ada 8% dari saudara-saudara kita yang belum punya akses ke air bersih

5. Air tanah sebagai salah satu sumber air bersih, konsumsinya meningkat 3 kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Dan ini mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Tidak heran kalau kemudian Semarang dan Jakarta sering mengalami Rob atau banjir air laut. Ini bukan semata-mata karena tanahnya yang ambles, tapi juga karena isi dari tanahnya yang berupa air bersih sudah tersedot banyak ke permukaan sebagai air minum atau air untuk sanitasi.

6. Dari 0.5% air bersih yang sudah sedikit itu, hanya 20%nya yang layak minum loh.. Dan air bersih, yang belum tentu layak minum di Jakarta itu, harga penyediaannya termasuk harga yang mahal harganya di dunia karena harganya mencapai 85 Ribu rupiah per  meter kubik.

7. Pada tahun 2050, diperkirakan seluruh umat manusia akan kesulitan memperoleh air bersih karena sumber air bersihnya berkurang secara signifikan. Bukan tidak mungkin bahwa pada tahun-tahun ke depan, air bersih bisa menjadi sumber perpecahan suatu negara karena saking pentingnya sumber air bersih.

Dari sekian banyak fakta tentang air bersih dan air minum di atas, kok kayaknya ada yang aneh ya ? Karena setahu saya negeri kita kan negeri tropis, yang seingat saya didefinisikan sebagai negeri yang curah hujannya merata sepanjang tahun. Harusnya… negeri kita adalah negara yang paling banyak airnya. Lah kok malah harga air bersihnya termasuk yang paling mahal sedunia ? Ironis sekali kan ?

Dan kalau kita lihat sejarah kita, kita tentu sadar betapa air merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Tidak saja karena tubuh manusia 70%nya terdiri dari air. Tapi secara kehidupan pun kita tidak pernah bisa dilepaskan dari air. Namun rasanya memang pergeseran bagaimana memelihara sumber air ini terjadi secara besar-besaran. Mari kita cek dulu…

Sebulan yang lalu saya ke Bali. Disana saya mengunjungi salah satu tempat yang disebut sebagai Tirta Empul. Sebagai mana kita ketahui, Tirta berarti air. Sedangkan Empul berarti penawar. Jadi dalam cerita legendanya, tempat yang sekarang menjadi Pura Tirta Empul ini adalah tempat pertempuran antara Dewa Indra dan Raja lalim Mayadenawa. Dalam salah satu episode pertempuran itu, Mayadenawa sang raja lalim berusaha meracuni pasukan dewa Indra dengan membuat sumber air beracun. Dan karena kehausan saat mengejar Mayadenawa, seluruh pasukan dewa Indra meminum air dari sumber air beracun tersebut dan tewaslah semuanya. Dewa Indra yang marah kemudian menancapkan tongkatnya dan muncullah sumber air penawar racun yang kemudian diminumkan ke seluruh pasukannya. Dan woalaa… pasukannya sehat kembali.. Sumber air ini yang kemudian menjadi sumber Tirta Empul. Di Pura Tirta Empul ini kita bisa menyaksikan sumber air bersih yang keluar dari tanah dan dilindungi dengan pagar dari bata merah. Daerah ini merupakan daerah yang sangat disucikan. Saking dikeramatkannya, maka sumber air ini hanya boleh dimasuki oleh Pemuka Agama Hindu yang ditunjuk saja. Sekalipun hanya untuk membersihkan kotoran yang jatuh ke dalam kolamnya. Air yang keluar dari sumber air Tirta Empul ini, selain dipergunakan untuk acara ritual, juga dipergunakan untuk mengairi sawah di sekitar Pura Tirta Empul. Ini adalah salah satu contoh bahwa leluhur-leluhur kita sangat menjaga sumber airnya. Karena sumber air adalah sumber kehidupan.

sumber foto : http://www.asiaexplorers.com/coverphoto/tirtaempul.jpg

Mari kita lihat lagi contoh yang lain. Contoh yang paling terkenal adalah air Zamzam  yang ada di Mekah. Sumber air yang berada di kawasan paling disucikan oleh pemeluk agama Islam. Bagi kita yang pernah ke Mekah untuk umroh atau haji, kita akan mengetahui betapa pentingnya air Zamzam ini karena selain kemustajabannya mengamini doa, juga merupakan sumber air minum utama di Mekah. Dulu sekali.. Mekah adalah sebuah daerah yang tandus yang tidak dapat ditinggali. Sampai kemudian Nabi Ismail yang saat itu masih bayi, menjejakkan kakinya ke tanah yang kemudian memunculkan sumber air tersebut. Setelah munculnya sumber air ini baru kemudian Mekah berkembang menjadi oase dan kini menjadi sebuah kota suci. Saat ini, sumur air Zamzam dirawat sedemikian rupa untuk menjaga kelanggengan sumber airnya.

sumber foto : http://moeflich.files.wordpress.com/2011/11/zamzam_water.jpg

Memang ada sumber air bersih lain di Mekah. Yang jika kita datang di Bandara King Abdul Aziz kita akan bisa melihat ada air mancur di dekat pantai. Ya.. itu adalah water purifier raksasa pemerintah Arab. Instalasi itu berusaha menyaring air laut sehingga berkurang kadar garamnya dan bisa digunakan untuk sanitasi. Bahasa kerennya : Desalinasi. Dan proses yang seperti ini muahalnya luar biasa. Bahkan saking mahalnya, harga air bersih siap minum yang menggunakan teknologi ini di Arab, jauh lebih mahal daripada harga sebotol Cocacola. Jadi kalau mau mandi Cocacola, datanglah ke Arab😀. Prinsip teknologi yang sama, kurang lebih juga diaplikasikan oleh peralatan Unilever PureIt. Ya memang tidak kemudian secara ekstrim kita menyaring air laut menggunakan alat ini.. sekalipun bisa juga sih. Kasihan filternya jadi berumur pendek karena saking banyaknya mineral yang harus disaring. Prinsipnya adalah menyaring partikel yang tidak dikehendaki melalui beberapa membran yang akan memastikan hanya partikel air dan mineral yang dibutuhkan tubuh saja yang lolos. Plus masih ada tambahan pembunuh kumannya di alat water purifier ini.

Yang mau tahu lebih banyak tentang PureIt, bisa kok langsung masuk ke website mereka di http://www.pureitwater.com/ID/ Dan mereka ternyata baru bikin lomba blog juga loh.. bekerja sama dengan blogdetik.com Linknya ada di http://lombablogpureit.blogdetik.com/

Kembali ke negara kita, sebenarnya kalau kita mau belajar kembali ke desa-desa, tentu kita akan menemukan betapa sumber air bersih selalu di jaga oleh warga desa karena kepentingannya. Saudara-saudara kita di desa biasanya hanya mengandalkan sumber air tanah sebagai sumber air bersih. Berbeda dengan perkotaan yang biasanya terdapat Jawatan penyedia air bersih (yang biasanya juga sering merugi karena biaya operasional dan kebocoran yang membengkak :D)

Lalu bagaimana dengan Jakarta ? Bagaimana bisa terjadi Jakarta sampai kekurangan air bersih ? Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa penyangga air bersih di Jakarta berasal dari pegunungan Halimun Salak di Bogor. Namun sekarang, kawasan tersebut sudah berubah fungsi menjadi perkebunan dan persawahan. Yang tentu saja, fungsi penyangga airnya tidak bisa maksimal karena sebenarnya dibutuhkan tanaman berkayu keras untuk menjaga fungsi penyangga air. Tanaman perkebunan dan persawahan tidak bisa menjaga air hujan untuk turun ke dalam lapisan air tanah. Namun entah mengapa, konversi hutan tersebut bisa terjadi.

sumber foto : http://sidaacuta.blogspot.com/2012/08/halimun-salak-alternatif-wisata-selain.html

Nah.. sepertinya sudah terjadi pergeseran yang cukup jauh nih tentang bagaimana kita melihat sumber air bersih. Jika leluhur kita melihat sumber air bersih sebagai sebuah sumber kehidupan, sepertinya generasi kita kok melihat bahwa sumber air adalah sebuah hal yang biasa saja. Yang jika rusak pun kita bisa mencari sumber air yang lain. Padahal……

Lalu kita harus bagaimana dong ? Bagaimana kita bisa menyelamatkan sumber-sumber air yang sudah makin berkurang itu ? Secara mudahnya sih :

1. Jangan merusak sumber air tanah atau saluran pendukungnya yang sudah ada. Semisal : Jangan membuang sampah di aliran sungai yang masih hidup. Karena kita tidak pernah tahu apakah air yang mengalir ini akan dipakai oleh saudara kita di ujung sungai sana. Membuang sampah berarti meracuni saudara kita yang menjadi pengguna air dari sungai itu.

2. Usahakan memperbanyak tempat peresapan air tanah di sekitar kita. Kita bisa kok membuat banyak sumur biopori. Toh biayanya tidak terlalu mahal. Dan ternyata, 1 sumur biopori ukuran standar bisa meningkatkan kemampuan tanah menyerap air di atasnya sampai 40 kali lipat. Banyak kan ?

sumber foto : http://ariick.student.umm.ac.id/2011/09/22/biopori-resapan-air/biopori/

3. Dan tentu saja.. mengurangi penggunaan air bersih yang tidak perlu. Bisa kita mulai dengan menutup rapat keran air yang tidak dipergunakan, atau menutup keran air saat kita menyikat gigi.

Semudah itu dulu.. karena sesuatu yang sulit, pasti harus kita mulai dengan yang mudah bukan ? Yuk kita mulai berhemat dengan air. Karena air adalah sumber kehidupan. Setujuh ???

Referensi :

www.nationalgeographic.co.id

www.biopori.com