Lebaran kali ini jatuh pada tanggal 19 Agustus yang dekat sekali dengan perayaan kemerdekaan NKRI. Banyak makna yang jadi kemudian bersinggungan. Salah satunya saya tanggap di twitter ketika ada teman @matriphe dan mas @temukonco yg membahas tentang fenomena Open House.

Pertanyaannya seperti ini : @temukonco : Dear rakyat yg antri berjam2 di open house pejabat tinggi. Saya mau tanya, sebnrnya salah kalian ke mereka itu apa to, kok sampe segitunya?

Dan kemudian dijawab @matriphe : cari angpao yg gak seberapa.. :(  begitulah. tapi kenyataannta begitu. zakat, rebutan. salaman biar dapet angpao, antre.. miris..😦

Jika memang benar adanya, sungguh miris sekali. Bukan hanya miris bahwa bangsa kita menjadi seolah-olah bangsa pengemis yang senang sekali menengadahkan tangan. Tapi lebih besar lagi bahwa halal bi halal tidak lagi murni karena ingin menyambung tali silaturahmi, tapi sudah bermotif uang (bukan ekonomi). Kenapa saya tidak bilang bermotif ekonomi, karena ekonomi tidak selalu hanya masalah uang. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi kita sekarang adalah ekonomi korban kapitalisme yang paling parah. Kenapa bisa saya bilang ekonomi kita adalah korban kapitalisme yang paling parah ?

Begini : dalam sejarah penciptaan uang, uang dibuat untuk memudahkan pertukaran. Yang awalnya bentuk perdagangan sederhana berupa barter, kemudian dengan diciptakannya uang, orang jadi lebih mudah menukar barang karena nilai intrinsik  yang terdapat dalam uang. Jadi uang pada sejatinya adalah alat pertukaran barang semata. Tidak lebih. Tapi dengan berjalannya waktu, sekarang, uang adalah patokan tata nilai baru. Menggusur tata-tata nilai lain yang ada di masyarakat. Nilai uang bergeser dari sekedar alat pertukaran barang menjadi sebuah status kekayaan. Dan kini, dari status kekayaan jadi sebuah status sosial. Semakin kaya, status sosialnya makin tinggi. Konsep yang dijual oleh Kapitalisme yang mengakibatkan banyak kerusakan pada tata nilai masyarakat kita.

Dahulu, status sosial masyarakat Indonesia ditentukan atau paling tidak dibentuk oleh banyak variabel. Seorang Kepada Desa akan dihormati oleh orang lain karena kebijakannya. Seorang sesepuh desa bisa dihormati karena pengalamannya. Seorang guru bisa dihormati karena ilmunya dan seorang kyai bisa dihormati karena kesalihannya. Namun saat ini semua bergeser pada satu nilai, yaitu uang. Apapun profesinya, uang adalah penentu status sosialnya di masyarakat. Apakah ini berlaku di seluruh Indonesia ? Oh Alhamdulillah tidak. Masih banyak daerah yang tidak menggunakan status sosial ini. Namun jelas bahwa di kota besar, nilai-nilai kemasyarakatan seperti itu sudah bergeser. Dan ndilalahnya, sebagian besar masyarakat Indonesia ada di kota besar.

Lalu apa hubungannya dengan Lebaran dan Merdeka ? Lebaran sering di artikan kembali pada kesucian. Memulai sesuatu dari awal lagi seperti bayi yang baru lahir. Seluruh dosa dilebur saat bulan Ramadhan kemarin. Tapi apa maknanya kembali pada kesucian itu sebenarnya ? Kesucian hanya akan menjadi kotor kembali jika perilaku antara sebelum dan sesudah Ramadhannya sama saja. Kesucian hanya bisa bertahan tetap suci jika perilaku yang mengotori kesuciannya di ubah. Dan hal itu hanya bisa dicapai jika kita bisa memerdekakan diri dari belenggu nafsu. Impian saya (iya.. masih sebatas impian sih.. tapi tetep di usahakan kok), adalah : 11 bulan belajar syariat (dalam artian belajar tata cara beribadah), maka pada 1 bulannya yaitu Ramadhan, saya ingin belajar tentang hakikat dari syariat yang saya pelajari sebelumnya. Sehingga kemudian setiap akhir Ramadhan, bisa melepaskan sedikit belenggu nafsu. Alias memerdekakan hati. Maka sejatinya, Lebaran itu adalah hari dimana jika diharapkan bisa memerdekakan hati.

Dan bangsa ini perlu sekali memerdekakan hati dari uang. Bukan uang sebagai alat tukar, tapi uang sebagai Tuhan. Bagaimana caranya ? Hmm… kita bahas di blog selanjutnya ya.😀