Karya Mas Fahd  ini sebenarnya tidak perlu di review.

Tidak perlu dikritik.

Karena seperti kata penulisnya, Fahd Djibran, karya ini hanya sebuah ”jendela” dan ”pintu” bagi imajinasi penikmatnya. Lalu apa yang bisa dikritik dari sebuah jendela imajinasi ? Seliar apapun imajinasi, tak ada yang bisa menyalahkan jendelanya. Karena dia hanya menunjukkan apa yang ada di seberang jendela.

Jadi.. tulisan ini bukan kritik.. bukan saran.. bukan pula review.. karena reviewpun rasanya sulit mengambarkan imajinasi yang menari-nari indah. Tulisan ini hanya sekedar keinginan saya menyampaikan kesan. Sedikit dari yang bisa saya ungkapkan lewat tulisan ini, dibandingkan dari keseluruhan imajinasi yang sekarang sedang menari-nari di otak dan hati saya.

Semua berawal dari sini http://www.fahdisme.com/2011/11/saya-revolvere-project-dan-gagasan.html . Sebuah karya @fahdisme, @fiersa & @futihfatif (eh semuanya berhuruf depan F ternyata)

Dari 3 project Revolvere, saya ingin menuliskan yang ini. Alasannya sederhana saja, saya paling suka yang ini..

Cinta itu sederhana.. Rindu itu juga seharusnya sederhana

Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.

Menikmati karya hibrida ini menyenangkan karena tak hanya mata saya saja yang menikmati tulisan indah ini. Telinga saya pun tak kalah senang. Logika saya pun berjalan. Tak mau kalah pun imajinasi saya berkelebat kesana kemari menikmati setiap perjalanan frame karya ini.

Namun di balik semua keindahan itu, ada satu pesan yang justru membuat kepala saya selalu terngiang-ngiang pada karya ini. Bersabarlah sampai tiba waktunya… Semua akan menjadi indah….

Di saat era dimana semuanya serba mungkin, yang dulu tabu sekarang mulai diterima, yang dulu dicerca sekarang mulai ditiru banyak anak muda. Gaya hidup yang mulai melenceng jauh dari penjagaan moral, yang dulu demikian diagung-agungkan oleh nenek kakek kita. Semua mengacu pada pacaran yang kelewat batas.. yang menerjang semua pakem yang diharamkan oleh norma maupun agama.

Di karya ini, saya diingatkan bahwa ada keindahan dari sebuah penantian yang sabar. Penantian yang sederhana. Kerinduan yang naive. Yang kemungkinan besar akan dicemooh oleh banyak generasi muda. Kunoooooo….

Ayah saya setiap kali bercerita tentang masa pacarannya bersama Ibu, selalu berbinar-binar. Matanya menceritakan tentang kerinduan yang sederhana yang tertahan. Karena saat itu Ibu di Jakarta sedang Ayah di Jogja. Kerinduan yang hanya bisa diungkapkan lewat lembar-lembar surat yang selalu dinanti kedatangannya setiap akhir minggu. Di Sabtu pagi, ada Pak Pos yang amat dinanti di setiap ketukan ringan di pintu. Kerinduan sederhana yang menjadi amat indah saat bertemu per 2 bulan sekali. Itupun masih dengan kawalan Eyang Putri. Tawa kecil yang mewakili buncahnya hati saat duduk di teras rumah Ibu di Jakarta.

Tapi bukankah hidup harusnya mudah dan sederhana, tidak neko-neko. Tidak usah menerjang batas yang belum menjadi hakmu. Toh semua akan tiba juga masanya. Karena jika tiba waktunya, semuanya justru akan lebih indah ? Yah..bukankah es kelapa muda itu justru akan terasa semakin nikmat kala kita berbuka puasa ? Efek menahan diri adalah kenikmatan yang berlipat sederhananya.

Dan dibalik proses menahan diri itu, sebenarnya ada proses belajar lain lagi yang bisa diperoleh. Bukankah kita lebih banyak ”tersadarkan” saat kita mengurangi mengikuti nafsu ?

Simbah-simbah kita banyak mengajari hidup prihatin, mengurangi kebuasan hawa nafsu, tentu bukan tanpa sebab. Karena kenikmatan hidup itu justru diperoleh jika kita bisa mengendalikan beberapa keinginan kita. Seringkali Ilham itu justru datang saat perut kita menjauhi kenyang misalnya.

Hidup yang mengikuti hawa nafsu itu hanya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Luruuuussss.. tanpa ada tantangannya. Membosankan. Bukan kah lebih menyenangkan jika sekali-kali hidup itu ada naik dan turunnya ? Ada rindu sederhana yang ditahan-tahan, dan ada saatnya melepaskan seluruh kecintaan yang membuncah di dalam dada pada masanya ?

Entah mengapa, banyak dari kita yang kini memilih untuk menjalani hidup yang membosankan seperti itu.. mengikuti hawa nafsu yang tak akan pernah terpuaskan. Yah.. mungkin saja mereka belum pernah merasakan nikmatnya menahan nafsu..

Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?

Tidakkah lebih indah bermesraan dalam doa daripada dalam keinginan yang tak terkendali ? Tidaklah lebih indah memanggil nama kekasihmu dalam gelap malam seraya mendoakan kebahagiannya daripada memanggilnya dalam nafsu ?

Bertahanlah,

sebentar lagi,
sampai kau ikat diriku...

Yah.. benar..

Bersabarlah sebentar …… Sampai tiba waktunya.. kau ikat diriku😀