Romantika Alon-alon Maton Kelakon

Semakin saya belajar, semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa

Semakin saya menelusuri ungkapan Alon-alon Maton Kelakon yang awalnya saya tulis di : https://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/ semakin saya menyadari bahwa saya benar-benar tidak tahu tentang budaya saya sendiri *malu*.

Awalnya saya menulis bahwa ungkapan yang benar adalah Alon-alon Waton Kelakon. Baru kemudian, saya dikoreksi oleh Pak Kafi Kurnia, bahwa ungkapan yang benar adalah Alon-alon MATON Kelakon. Apa bedanya antara Waton dan Maton ?

Menurut literatur Di Kamus Lengkap Bahasa jawa-nya SA MangunSuwito, hal.284 disebutkan waton : asal;angger tpi bisa juga pathokan; pranatan. diwatoni:dipathoki. maton : mesthi;tetep (dicuplik dari tulisan di http://angkringan.or.id/page.php?id=845)

Sehingga bisa dimaknai sebagai : maton iku mathuk, yen waton iku ngawur.
Dadine yen alon-alon waton kelakon iku mesti wae hasile yo ora apik, lah piye leh arep apik wong le ngelakoni yo waton (ngawur).
Yang artinya kurang lebih : Maton itu pas… kalau waton itu ngawur. Sehingga, seandainya alon-alon waton kelakon itu mesti hasilnya tidak baik. Bagaimana bisa baik jika saat melakukannya saja ngawur.

Sambil berblog walking, saya menemukan banyak blog yang membahas tentang konsep Alon-alon Maton kelakon ini. Antara lain :

http://umum.kompasiana.com/2009/05/18/alon-maton-kelakon/

http://roniyuzirman.wordpress.com/2011/07/09/alon-alon-maton-kelakon/

http://angkringan.or.id/page.php?id=845

Lalu mengapa penting bagi saya membahas tentang ungkapan ini (lagi) ? Saya hanya merasa bahwa saat ini, dunia saya berputar pada segala sesuatu yang berorientasi output. Sehingga semua serasa dipercepat. Output memang penting. Tapi bukankah kualitas output sangat dipengengaruhi oleh kualitas input dan prosesnya ? Jika seleksi inputnya dilakukan secara grusa-grusu dan prosesnya dilakukan secara serampangan, apakah kira-kira akan menghasilkan output yang baik ?

Masyarakat Jawa sering diidentikkan dengan masyarakat yang pelan dan lamban. Namun apakah benar demikian ? Saya coba berguru dari para petani yang berangkat ke sawah sejak Subuh. Demikian pula dengan para penjual di pasar tradisional yang bahkan sudah berangkat dari rumah sejak jam 2 pagi untuk kulakan terlebih dahulu. Apakah ini cermin dari masyarakat yang lambat ? saya kok tidak melihat kelambatan di sini ya ? Yang saya perhatikan justru mereka adalah tipikal masyarakat yang rajin, namun berhati-hati dalam proses. Mereka berangkat lebih pagi agar ada waktu lebih lama untuk menjaga proses pekerjaan mereka.

Masyarakat Cina seringkali di identikkan dengan masyarakat yang cepat dan sigap. Sehingga kini mereka menjadi penggerak ekonomiAsia. Padahal jika kita perhatikan budaya aslinya, sebenarnya mereka adalah masyarakat yang amat sangat menghargai proses (baca:pelan). Saya ingat ketika membaca komik Kenji, dimana Kenji yang waktu itu sedang mulai belajar beladiri Cina, diharuskan belajar tentang kuda-kuda (saja) selama hampir 2 bulan sehingga saat si Kenji ini ditantang untuk berkelahi, dia mulai gelisah karena tak satupun jurus yang dia kuasai. Hingga kemudian sang guru (yang juga kakeknya sendiri) menunjukkan hasil dari mempelajari kuda-kuda dengan cara memukul rontok seluruh daun dari satu pohon hanya dari satu kuda-kuda saja. Dari sisi beladiri, masyarakat Cina sangat percaya bahwa proses adalah inti dari kesempurnaan. Namun memang kemudian hal ini harus berseberangan dengan budaya berdagang dimana waktu adalah mata uang yang amat berharga.

Dunia kapitalis pun mulai menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan di Dunia kita sekarang dimana proses hanyalah periode antara input dan output. Bukan lagi merupakan sebuah periode inti dimana semua kebaikan dari input dimaksimalkan untuk memperoleh output terbaik.

Kita bisa memandang dari contoh kasus dunia pendidikan kita dimana adik-adik kita dipaksa berpacu dalam proses untuk menghasilkan output berupa nilai ujian tinggi tanpa memperhatikan apakah konsep belajar itu mereka mengerti betul atau tidak. Maka sering kita temui betapa gagapnya kita dan adik-adik kita ketika harus berhadapan dengan dunia kerja dimana antara ilmu yang dipelajari di bangku sekolah dan yang ditemui di dunia kerja menjadi sedemikian tidak applicable. Ilmu yang harusnya menjadi bekal untuk dipergunakan dalam dunia kerja, menjadi buku kosong yang inti sarinya pun tidak dimengerti. Sekolah sekarang menjadi semata-mata tempat untuk memperoleh gelar sehingga bisa diterima di masyarakat. Namun miskin kemampuan sebenarnya.

Pada jaman dahulu, seorang siswa yang nyantri pada seorang Resi, bisa tidak naik tingkat jika memang belum saatnya naik tingkat sekalipun adik kelasnya sudah melalang buana kemana-mana. Sungguh proses itu amat diperhatikan kala itu. Kala dimana ilmu berkuasa. Dan bukan nominal harta.

Kembali ke Alon-alon Maton Kelakon. Ini adalah sebuah ungkapan agar kita berkompromi antara input-proses-output dalam satu kesatuan utuh. Perhatikan betul kualitas input, asah di dalam proses secara hati-hati dan terukur, niscaya outputnya akan melampaui bayangan.

Manusia adalah makhluk berumur pendek. Rata-rata dari kita hanya berumur sekitar 60 – 70 tahun. Sedangkan budaya, adalah hasil kristalisasi pengetahuan manusia yang diturunkan dari bergenerasi (yang tentu saja sudah mengalami banyak kejadian sampai yang paling ekstrim sekalipun) dalam periode yang amat sangat jauh melampaui jatah hidup seorang manusia. Sungguh merugi jika kita memandang ungkapan ini hanya sebatas wacana sempit tanpa bisa memaknai bagaimana ungkapan Alon-alon Maton Kelakon ini bisa sampai tercetus. Maka.. mempelajari ungkapan ini dengan sungguh-sungguh sama artinya mengupas jati diri kita sebagai manusia sendiri. Monggo.. sami-sami belajar..