Menikmati bakmi Jawa itu tidak hanya menikmati sedapnya rasa, tapi juga menikmati proses memasak dan memahami cerita serta filosofi dibalik masakan adopsi peranakan ini.

Namun yang membedakan antara mie di negara asli dan mie Jawa adalah proses memasaknya. Mie jawa tidak pernah dimasak lebih dari 1 porsi secara bersamaan. Sekali memasak, hanya untuk satu porsi.

Hidup inipun sama seperti memproses mie Jawa, adalah perjalanan orang per orang secara individual. Resep mie boleh sama, pesanannya pun boleh jadi dengan komposisi yang sama. Tapi proses pemasakannya tetap satu persatu. Demikianlah hidup. Boleh jadi bekalnya sebagai seorang anak manusia sama. Lahir dari keluarga yang sama, diberi makan yang sama, diberi pendidikan yang sama, segala-galanya disamakan. Namun.. hidup merupakan perjalanan individual. Setiap orang memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Proses “pemasakan” akan berbeda-beda sekalipun endingnya bertujuan menjadikan kita sebagai manusia yang manusiawi.

Menikmati mie Jawa berarti harus siap juga menikmati antri. Dalam kata lain, menikmati waktu datang sesuai dengan masanya. Tidak bisa mempercepat proses atau menyela antrian jika tidak ingin diprenguti pelanggan yang lain atau bahkan di usir oleh sang empunya warung. Menikmati antrian adalah menyadari bahwa setiap proses mempunyai waktunya sendiri-sendiri. Bisa jadi semua bahan sudah tersedia, namun jika belum waktunya dimasak, maka ya wajib menunggu sampai gilirannya tiba. Demikian pula hidup. Biarpun kita sudah mengusahakan segala sesuatunya sesuai rencana, tapi jika sang Kokinya hidup belum hendak memberikan, ya ngantri dulu.

Mie Jawa dimasak dengan menggunakan arang, alias bara. Bukan menggunakan gas atau kompor minyak. Wajannya pun dari besi baja dan tungkunya dari tungku tanah liat. Kombinasi 3 bahan ini membuat mie Jawa menjadi unik. Karena jika sudah disajikan di atas piring, mie Jawa ini panasnya bisa bertahan sampai suapan terakhir. Hal ini tidak akan ditemui jika bahan bakarnya menggunakan minyak tanah atau gas. Secara teknis, kombinasi besi, arang & tanah liat akan menghasilkan spektrum infra merah jarak jauh (far infra red) yang mampu menggerakkan molekul seperti di dalam microwave. Jadi proses pematangan mie Jawa, tidak hanya berdasarkan panas dari bara arang semata, tapi juga karena adanya bantuan dari far infra red. Proses memasak seperti ini juga terdapat dalam proses pemasakan roti Nan dari India yang menggunakan tungku tanah, atau proses memasak menggunakan Tandori. Selain masalah panas, ternyata far infra red juga mampu memberikan kondisi yang lebih baik dalam proses memasak. Sehingga masakan bisa terasa lebih enak. Namun kekurangannya memasak dengan cara seperti ini adalah, waktunya lebih lama dibandingkan kompor gas. Sama seperti hidup, terkadang proses “memasak” dari Sang Kokinya Hidup membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, tapi nikmati saja prosesnya sampai matang. Karena hasilnya pasti lebih sempurna.

Mie Jawa adalah masakan yang tidak saja dimasak individual, tapi juga komposisinya bisa disesuaikan dengan selera pemesannya. Demikian pula hidup, pilihannya tergantung kita sebagai pelakunya. Namun Sang Kokinya Hidup pasti akan memasaknya menjadi sesuatu yang lezat.

Maka proses antri menunggu mie pesanan kita matang adalah proses mengamati banyak kehidupan yang mampir. Setiap orang punya pesanannya sendiri. Setiap orang punya seleranya sendiri. Dan pada akhirnya, sang koki akan tersenyum puas sambil memandang piring Mie Jawa hasil masakannya matang sempurna sambil menyerahkannya pada sang pemesan. Menikmati mie Jawa adalah belajar menghargai proses kehidupan.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian biasa yang terjadi sehari-hari. Menjadikan kita makin bijak untuk menghargai bahwa tidak pernah ada kejadian yang sia-sia di dalam hidup. Karena Dia adalah Koki Maha Luar Biasa.