Dari dulu saya selalu melihat Borobudur sebagai obyek wisata. Iya.. saya anak Jogja yang tahu bahwa Borobudur adalah sebuah Candi yang bisa kita kunjungi kalau musim liburan sekolah. Bagi saya saat itu, Candi Borobudur hanyalah tempat bermain dengan lapangan yang luas. Ornamen dan Stupa yang ada di dinding-dindingnya tidak saya mengerti sebagai sebuah pelajaran hidup, apalagi sebagai sebuah fragmen dari Kitab Suci.

Hingga suatu hari, seorang guide senior menerangkan kegundahannya bagaimana kita tidak menghargai Borobudur sebagai mana mestinya. Borobudur itu rumah ibadah. Sebagaimana Masjid yang suci untuk umat Islam dan Gereja yang damai untuk umat Kristen. Borobudur itu rumah ibadah bagi umat Budha. Pada hari-hari tertentu seperti pada Waisak, Borobudur digunakan untuk sembahyang. Saya jadi kemudian tersentak dan berpikir ulang untuk meletakkan Borobudurpada posisi yang seharusnya.

Lalu mengapa pada waktu di luar waktu Waisak, kemudian Borobudur menjadi obyek wisata ? Sehingga anak-anak kecil dengan mudahnya naik di atas Stupa tanpa orang tuanya memberitahunya bahwa itu adalah relik yang suci untuk saudaranya yang beragama Budha ? Bagaimanakah rasanya perasaan umat Muslim jika mimbar Masjid kemudian dinaiki secara serampangan oleh pengunjungnya ? Atau bagaimana perasaan umat Kristen jika Altar Gerejanya dipakai untuk tempat petak umpet ? Sepertinya ada yang salah disini.

Unesco memang menetapkan Borobudur sebagai cagar budaya. Namun apakah kita tidak bisa melihat lebih dari itu ? Bukankah kita juga memiliki akal untuk berpikir tentang posisi Borobudur seharusnya ? Jika kita ingin tempat ibadah kita dihargai oleh umat lain, mengapa kita kemudian tidak menghargai tempat ibadah orang lain ? Apakah karena umat Budha merupakan umat minoritas di negara ini ? Mungkin termasuk minoritas terkecil.

Seandainya kita menyadarinya, semoga bentuk penghargaan kita terhadap Borobudur akan lebih baik. Dan semoga Borobudur tidak hanya menjadi cagar budaya, tapi juga pusat Ibadah dan pusat studi untuk saudara-saudara kita umat Budha dari berbagai penjuru dunia. Bukan tidak mungkin bahwa Borobudur akan menjadi seperti Mekah atau Vatikannya umat Budha. Seandainya kita tahu, bahwa dahulu, biksu-biksu dari Cina banyak datang ke Borobudur untuk belajar tentang Dharma & Budha di Borobudur melalui relief-relief dindingnya. Sekarangpun masih demikian, namun jumlahnya jauh menurun. Apa sebabnya ? Entahlah.. mungkin karena mereka sekarang sulit merasakan ketenangan untuk belajar di Borobudur karena kehadiran kita sebagai wisatawan yang terkadang tidak bisa menjaga perilaku kita di tempat ibadah mereka ?

Sekali lagi saya ingatkan, bahwa seyogyanya kita menghargai Borobudur sebagai tempat ibadah. Tidak hanya sebagai tempat wisata. Dan seandainya kita mau mempelajari, sungguh relief di dinding Borobudur itu bisa memberikan pencerahan tentang kehidupan. Tentu saja, anda bisa memilah-milih mana pencerahan yang sesuai dengan agama anda. Mari hargai Borobudur… Pada posisinya sebagai tempat ibadah saudaramu juga.

Please follow me on twitter @wednesyuda