Tidak banyak blog yang menulis tentang sejarah Rijsttafel secara benar (menurut saya). Jadi mungkin anggap saja tulisan berikut ini sebagai pelengkap dari sejarah Rijsttafel, karena memang sejarah hanya berpihak pada yang menang. Dan kita waktu itu adalah bangsa yang terjajah.

Jadi mari kita mulai saja ceritanya…

Rijsttafel seperti yang banyak dimuat dalam beberapa artikel merupakan serapan Bahasa Belanda dari kata Rice Table. Yang secara mudahnya diartikan sebagai penyajian nasi di atas meja. Dan Rijsttafel ini biasanya diasumsikan dengan penyajian ala Nasi Padang. Yaitu keluarnya nasi dengan bermacam-macam lauk. Inilah mulainya penyelewengan sejarah. Loh kok ?

Begini.. Rijstaffel mulai masuk disukai oleh Belanda kira-kira pada awal abad 19 sampai pertengahan abad 19. Saat itu, di Indonesia belum ada konsep Rumah Makan Padang. Konsep Rumah Makan Padang baru muncul belakangan setelah periode Kemerdekaan Indonesia. Jadi bagaimana mereka bisa mengacu pada konsep makan yang muncul dalam sejarah saja belum (pada waktu itu).

Sebenarnya, Rijsttafel muncul karena “kekaguman” Meneer-meneer Belanda pada cara penyajian makanan untuk para raja Jawa terutama kraton Solo dan Jogjakarta. Pada saat itu, jika raja mengadakan jamuan makan siang kepada para tamunya, maka setiap jenis lauk akan diantarkan oleh perempuan-perempuan cantik dengan membawa nampan. Dan jumlah nampannya bisa berkisar antara belasan sampai dua puluhan. Di bandingkan dengan tata cara makan Belanda yang waktu itu jenis lauk hanya berkisar 2-3 jenis, jelas ini sesuatu yang mencengangkan. Konsep ini kemudian ingin ditiru tapi juga dengan unsur dipermalukan. Mengapa dipermalukan ? Tentu saja karena mereka sebagai Kolonial tidak ingin dipermalukan oleh kaum yang mereka anggap Inlander. Konsep ini kemudian di tiru dengan jenis makanan yang lebih banyak (bahkan ada yang sampai 64 jenis lauk), dan dibawakan oleh pelayan laki-laki yang disebut Jongos. Jongos yang sebenarnya bukanlah pembantu, tapi pelayan laki-laki muda. Ingat dengan istilah Djong Java, Djong Celebes dan Djong Sumatran Bon ? Seperti itulah yang disebut dengan Jongos. Bentuk plural dari Djong, yang artinya pemuda laki-laki.

Kembali ke masalah penyajian Rijsttafel, para Jongos ini dilarang menggunakan alas kaki. Disinilah letak dari pelecehan terhadap konsep Rijstaffel raja-raja Jawa. Namun anehnya, Rijsttafel ala Belanda ini tidak pernah disajikan di Jawa Tengah. Mungkin para Meneer tidak berani terang-terangan. Kebanyakan rumah makan penyedia Rijstaffel seperti ini kemudian di bangun di Jawa Barat seperti Bandung dan Lembang yang berhawa sejuk. Prosesi makan ala Rijsttafel ini biasanya berlangsung sampai 3 jam, karena saking banyaknya jenis lauk yang harus disantap. Sehingga, kemudian demi mengakomodasi “kelelahan makan” para Meneer Belanda ini, biasanya di restauran yang menyediakan menu Rijsttafel ini kemudian disediakan kursi panjang untuk tidur siang.

Acara makan ala Rijsttafel ini kemudian dibawa ke Belanda, dan disana rupanya juga terjadi pergeseran kembali sehingga kesan “pelecehan” tata cara makan ala Raja ini menjadi hilang. Dan yang muncul adalah bahwa tata cara makan Rijsttafel ini adalah tata cara makan resmi. Sehingga saat ingin menyantapnya, kita harus berpakaian sepantas-pantasnya. Demi menghargai tata cara ini.

Demikianlah sekelumit cerita tentang Rijsttafel yang saya peroleh dari sumber-sumber yang masih harus dipertanyakan akurasinya. Karena jujur saja, untuk khasanah kuliner seperti ini, amat sangat jarang ada literatur yang bisa membuktikannya. Dan apalagi, sejarah Rijsttafel ini berkaitan dengan harga diri bangsa (juga untuk Bangsa Belanda), sehingga sisi-sisi yang bergesekan dengan harga diri kemudian dikaburkan atau bahkan diganti dengan fakta lain.