Teh Nasgitel itu singkatan dari teh yang panas wangi legi kentel adalah teh yang biasa dihirup oleh masyarakat Jogja (juga masyarakat Jawa pada umumnya) setelah lelah seharian bekerja. Aroma yang kuat, rasa teh yang pekat dan panas, plus manis yang diperoleh dari gula batu membuat teh nasgitel ini menjadi penghilang lelah yang pas di sore hari.

Dalam sejarah masuknya teh ke Indonesia, teh masuk melalui proses Culture Stelsel alias tanam paksa. Pemaksaan ini dilakukan karena dataran tinggi Indonesia memiliki iklim dan tanah yang sangat cocok untuk menanam teh. Dan teh merupakan sebuah komoditi yang harganya cukup tinggi saat itu. Sehingga kemudian tata niaga teh ini dikuasai oleh imperial Belanda melalui VOCnya.

Teh sebenarnya memiliki kurang lebih 9 – 10 level kualitas dimana level 1 adalah teh dengan kualitas terbaik. Yaitu teh yang benar-benar dihasilkan dari pucuk daun teh pilihan. Makin ke bawah levelnya, maka jumlah daun teh yang ada semakin sedikit dan jumlah batang teh semakin banyak. Sehingga level 9 atau 10 biasanya sudah berupa serat kasar dari batang. Jika pucuk teh memberikan aroma yang kuat, maka batang teh memberikan warna & rasa pahit yang kuat pula. Maka bagi para penikmat teh, kualitas teh paling mumpuni biasanya yang berupa campuran teh level 1 dengan 2-3 level berikutnya. Sehingga warna, aroma dan pahitnya pas. Para era penjajahan tersebut tentu saja kualitas terbaik akan dibawa ke Belanda, sedangkan para pekerja maupun masyarakat sekitar perkebunan hanya diperbolehkan menikmati level 8-9 atau maksimal level 7 dimana masih sedikit terdapat daun teh. Kualitas teh bawah ini memberikan rasa teh yang pahitnya pekat (karena kadar tannin yang tinggi) dan warna yang merah pekat tapi tanpa aroma teh yang melekat. Sehingga, untuk memperoleh aroma yang lebih nikmat, para pekerja teh & masyarakat sekitar perkebunan teh kemudian memasukkan pucuk bunga melati dan menyimpannya selama beberapa malam sehingga aromanya masuk ke dalam teh. Jadilah teh wangi seperti yang saat ini kita kenal. Di beberapa daerah lain di Jawa menggunakan jenis bunga yang lain selain bunga melati.

Teh nasgitel ini sebenernya mempunyai falsafah hidup yang mumpuni. Teh nasgitel itu ibarat kehidupan. Selalu ada pahit, wangi, panas dan kental dalam kehidupan. Beraneka ragam dari yang menyenangkan, menyulitkan dan penuh perjuangan. Sedangkan gula batu itu adalah bentuk dari kenikmatan hidup. Dan dalam proses pembuatannya, teh nasgitel tidak pernah menggunakan gula pasir, karena gula batu dipercaya memberikan rasa yang lebih sedep. Namun sebenarnya tidak hanya karena rasanya saja, tapi filosofi bahwa kebahagian itu selalu diperoleh melalui kerja keras dan tempaan waktu. Filosofi ini nampak saat diaduknya gula batu bersama teh secara perlahan-lahan. Bila teh yang panas, wangi, kentel itu kemudian bertemu dengan gula batu yang mencair perlahan dan sampai pada tingkat kemanisan yang pas, itulah keseimbangan hidup. Hidup yang terlalu pahit tentu tidak menyenangkan, demikian pula hidup yang terlalu manis. Yang pas antara manis, panas, wangi & legi lah yang membuat hidup ini pantas untuk dijalani.

Mengaduk perlahan gula batu dalam balutan teh yang panas, wangi dan kentel, sehingga ditemukan komposisi yang pas mempunyai kata kunci yaitu perlahan. Gula batu yang diaduk terlalu cepat kemungkinan besar akan meleleh terlalu cepat sehingga rasa teh menjadi terlalu manis. Pelan tapi penuh perhitungan sehingga diperoleh hasil yang pas sesuai dengan keseimbangan hidup. Tidak selalu yang cepat itu lebih baik.

Mari nikmati hidup yang pelan.. hidup ala Jogja. Jogja Slowly Asia.