Jogja adalah kota dengan budaya pelan yang amat sangat mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Jika anda berasal dari luar kota dan masuk ke Jogja, kemungkinan besar Anda akan terkaget-kaget ketika merasakan ritme kehidupan di Jogja yang amat lambat jika dibandingkan dengan kota lain. Jogja adalah kota dimana waktu seolah-olah berhenti. Lalu mengapa Slowly Asia ?

Kota Jogja membutuhkan sebuah visi & konsep yang solid untuk “menjual” Jogjakarta sebagai sebuah komoditi pariwisata. Konsep Dan konsep “Pelan” ini menurut saya pribadi merupakan sebuah konsep yang otentik & sangat menjual.

Otentik ? Jelas donk.. karena budaya pelan itu ada di dalam keseharian masyarakat Jogja. Pelan itu ada di kultur masyarakat Jogja. Jogja dengan becaknya yang melaju pelan ditengah modernisasi kendaraan bermesin besar. Andong yang masih berseliweran sebagai raja jalanan. Iya, Andong si raja jalanan karena jika andong sudah masuk di suatu jalan, maka kendaraan dibelakangnya harus menurut untuk seritme dengannya tanpa bisa mengklakson. Atau jika ada bisa, salip saja si Andong. Tentu saja karena mengklakson Andong adalah tindakan sia-sia yang tidak akan membuat si Andong bertambah cepat. Proses membatik yang masih menggunakan canting dan malam yang bisa membuat sebuah proses pembuatan satu lembar kain menjadi selama 1 bulan. Bandingkan saja dengan batik printing yang bisa mengeluarkan berlembar-lembar kain dengan 12 warna hanya dalam hitungan jam bahkan menit. Belum lagi tentang Gudeg, si makanan tradisional khas Jogja, yang dalam resep aslinya harusnya dimasak dengan pelan selama 3 hari 3 malam. Gila..!! Memang Jogja itu gila pelannya.

Lalu mengapa sangat “menjual” ? Menurut saya karena semua modernitas di dunia sekarang mengacu pada yang katanya kecepatan. Hampir semua teknologi dan inovasi yang dibuat manusia pada dekade ini bertujuan untuk mempercepat semua proses kehidupan. Teknologi yang memendekkan jarak antara satu benua dengan benua lainnya. Semua menjadi serba cepat. Dan “pelan” adalah sebuah konsep yang menabrak semua pakem-pakem inovasi yang sedang berkembang. Ketika semua kota dan negara di dunia memoles Pariwisatanya dengan konsep serba cepat, sigap & trengginas, Jogja justru menjual konsep “pelan”. Sebuah konsep yang bertolak belakang dengan roda pergerakan dunia saat ini. Why ? Karena Pelan adalah Kemewahan Sesungguhnya. Slow Is The Next Luxury.

Ketika orang berpacu dengan waktu, itu dikarenakan karena waktu seolah tidak cukup. 24 jam yang disediakan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan akan waktu. Seorang pegawai akan selalu merasa kekurangan waktu untuk mengerjakan tugas yang dibebankan oleh atasannya. Semakin tinggi jabatan, maka keluangan waktu semakin ada. Bahkan bisa menikmati waktu bersenang-senang di antara aktifitas kantornya. Tentu anda akan makfum ketika seorang direksi akan bisa menikmati golf di jam kantor. Ini karena waktu sudah bisa dinikmati saat orang berada di posisi direksi tadi. Dan di Jogja, perasaan menikmati waktu ini bisa dirasakan kapan saja. Dan di banyak tempat di Jogja.

Pelan itu bukan lambat. Sekali lagi harus dibedakan antara pelan dengan lambat. Pelan adalah menikmati setiap proses pekerjaan dan atau kegiatan yang dilakukan dengan tetap berorientasi pada jadwal. Lambat adalah mengerjakan segala sesuatunya dengan konsep tidak jelas sehingga jadwal pekerjaan atau kegiatan menjadi molor. Bisa anda rasakan toh “soul”nya ?

Jika Anda bisa mengerjakannya dengan pelan, mengapa harus terburu-buru ? Hal ini senada dengan konsep dari ungkapan orang Jogja Alon-Alon Waton Kelakon. Penekanannya itu pada “Waton Kelakon”nya. Bukan pada “Alon-Alon”nya. Waton Kelakon berarti selesai pada tenggat waktu yang sudah disepakati bersama. Sedangkan “Alon-Alon” menyiratkan untuk perlahan-lahan saja. Ungkapan ini sebenarnya adalah ungkapan yang dituturkan oleh orang tua kepada anaknya yang nampaknya sangat terburu-buru dalam setiap pekerjaannya. Pelan-pelan saja sambil menikmati semua proses pekerjaan dan kegiatan sehingga anda bisa benar-benar merasakan hidup. Jika anda ingin melambatkan ritme hidup anda dan merasakan hidup yang benar-benar hidup, maka.. silakan datang ke Jogja. Tanggalkan saja identitas anda di kota asal anda, dan meleburkan bersama alur pelannya Jogja. Anda mungkin akan terkaget-kaget betapa anda sudah banyak melewatkan banyak hal dalam hidup anda yang cepat, yang sebenarnya hanya cukup dengan melambatkan ritme hidup anda untuk menemukan Surga Kecil Kehidupan. Yes.. Slow is the next Luxury… Selow wae Dab

Note : Tulisan ini adalah hasil konsep dari Pak Kafi Kurnia & saudara Mail Sukribo yang dipresentasikan di Rumah Pelantjong untuk kampanye #JogjaSlowlyAsia