Tauhid secara mudah diartikan sebagai menuhankan hanya satu Tuhan. Yaitu Allah.
Implementasinya ?
Kalimat tauhid yang kita kenal adalah La Ilaha Ilallah.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi tiada Tuhan selain Allah.
Jadi tidak terasa adanya ketinggian dari kalimat ini. Padahal, kalimat ini adalah kalimat awal yang akan diucapkan oleh seorang yang memasuki gerbang muslim saat bersyahadat. Kalimat ini diturunkan langsung oleh Allah. Lalu dimana letak keluarbiasaannya kalau hanya seperti ini ?
Jika kita ingin mengerti ketinggian makna dari kalimat ini, mari kita ikuti tata bahasa dimana kalimat ini berasal. Kita mengikuti tata bahasa Arab ya.
La dalam bahasa arab berarti tidak
Ila dalam bahasa arab mempunyai 3 makna. Yaitu : yang dicintai, yang diharapkan, dan ditakuti.
Jadi dalam bahasa arab, kalimat La Ila saja berarti tidak ada yang pantas dicintai, diharapkan dan ditakuti.
Kalimat ini berarti bahwa selama masih ada yang dicintai, diharapkan dan ditakuti selain Allah, maka cara bertauhidnya masih belum sempurna. Kenapa belum sempurna ?
Ibarat membangun rumah. Jika kita sudah memiliki bangunan lama, kemudian ingin dibangun bangunan baru yang lebih megah dan mewah dengan segala perabotannya, maka bangunan yang lama harus dirubuhkan terlebih dahulu. Dapatkan sebuah rumah mewah menggunakan pondasi dari bangunan lama yang lebih ringan ? Tentu tidak.
Untuk membuat supaya rumah tersebut menjadi sempurna, maka pondasi yang dibangun juga harus menyesuaikan dengan bentuk bangunannya. Jika bangunannya baru, maka pondasinyapun harus baru.
Maka apabila kita ingin menuhankan Allah saja, maka semua yang menjadi “Ila” harus dihancurkan.
Apakah Ila itu ? Yaitu segala sesuatu yang membuat hati kita takut, berharap dan mencintainya sedemikian kuat sehingga cemas. Apapun itu. Pernah takut kehilangan dompet ? Itulah Ila. Pernah takut kehilangan handphone ? Itulah Ila. Pernah berharap lulus ujian sampai cemas ? Itulah Ila. Semua yang membuat hati kita menjadi cemas karena takut, takut karena terlalu berharap dan takut karena terlalu mencintai, itu adalah Ila.
Bagaimana menghancurkan Ila sehingga tidak ada lagi Ila selain Ilallah ?
Pernahkah anda mencoba untuk melafadzkan dzikir tersebut di sela waktu-waktu anda tanpa henti ? Seingat anda saja. Dengan mengerti makna dari kalimat tersebut, dan kemudian melafadzkannya (berdzikir), maka anda akan terkejut ketika menemukan betapa mudahnya bertauhid.
Jangan berpikir… hanya rasakan saja. Karena Allah berbicara melalui hati. Ilham akan datang langsung pada hati anda, tidak melewati pikiran. Ilham akan datang lebih cepat dari kemampuan pikiran manusia. Anda akan mengetahuinya jika sudah datang.