Barusan dapet email dari Milis Dzikrullah. Email dari Mister Abu Sangkan dan Mister Yusdeka. Demikian ini isi emailnya.

PESAN RAMADHAN 1428 H

Sahabat, tak terasa Ramadhan sudah menghampiri kita kembali dengan kecepatan yang mencengangkan. Rasanya baru kemarin kita selesai menjalankan ibadah Ramadhan dan sekarang kita sudah dijambangi lagi oleh bulan yang mampu mengantarkan kita ke detik-detik pencapaian fitrah. RAMADHAN

Berkali-kali kita sudah diberitahu, bahwa ada suatu waktu di dalam bulan Ramadhan itu yang nilainya tak terperkirakan. Itulah malam LAILATUL QADAR. Banyak cerita yang sampai ke kita tentang kehebatan malam itu, tentang pengalaman-pengalam an orang yang sangat mengherankan kita. Namun berkali-kali pula kita merasa bahwa bagi kita ternyata malam itu hanyalah biasa-biasa saja, kalau tidak mau dikatakan hambar. Kita pun sepertinya tidak disentuh oleh pengalaman yang akan mampu meningkatkan kualitas diri kita sebagai umat manusia.

Walaupun untuk itu usaha kita juga sudah kita tingkatkan dengan sangat signifikan. Ibadah, dzikir, shalat malam, membaca Al Qur’an, pengajian, tidak banyak tidur semalaman, dan amalan baik lainnya sudah kita kita lakukan secara berlebih dari hari-hari biasanya. Dan itupun sudah kita lakukan selama bertahun-tahun untuk setiap Ramadhan. Namun kita masih tetap termangu-mangu melihat pencapaian puasa kita. Duh, ada apakah gerangan penyebabnya ???.

KESAKSIAN RUH

” ….. tanazzalul malaikatu warruuhu fiiha biidznirabbihim min kulliamri … , … pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala sesuatu …..”

Ternyata lailatul qadar adalah sebuah malam yang dimensinya adalah alam Ruh. Hanya ar-Ruh lah yang mampu melihat para malaikat, hanya ar-Ruh pulalah yang mampu melihat alam ruhani. Pantas saja kita selama ini tidak mampu mendapatkan pengalaman-pengalam an malam seribu bulan ini. Karena kita selama ini ternyata ingin menyaksikannya dengan memakai mata, telinga dan rasa kita. Kita telah memakai alat yang salah untuk menyaksikan keluarbiasaan lailatul qadar itu.

Oleh sebab itu, wahai para sahabatku, marilah kita persiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan 1428 ini. Sejak sekarang, kita bersihkan dada kita sehingga dada kita itu menjadi bening. Dada yang bening itulah sebenarnya yang akan menghantarkan kita untuk bisa terbang tinggi melampau emosi kita, melampui pikiran kita, melampaui alam semesta. Luas tak terbatas, diatas semua rasa, diatas semua pikiran

Puasa yang berbuah adalah puasa yang mampu membangkitkan kesadaran kita untuk memisahkan keberadaan kita dengan diri kita. Sebab kita semata-mata adalah semurni-murninya ar-Ruh. Sedangkan diri kita sendiri tak lain dan tak bukan hanyalah saripati tanah yang sudah dibentuk dengan sangat sempurna oleh Allah untuk kita pakai dalam menjalankan segala atribut kekhalifahan kita dimuka bumi ini.

Kalau sudah begini, maka saat itu sebenarnya kita telah berada di alam ruhani yang mampu pandang memandang dengan Allah, bisa saling mendoakan dengan Nabi-nabi dan hamba-hamba Tuhan yang shaleh. ALAM TAHIYYAT Sehingga kitapun berhak untuk menyatakan kesaksian kita kepada Allah dan Rasulullah, SYAHADAH

Lalu dengan penuh kegembiraan, kita bersama-sama dengan para malaikat bisa turun kembali kebumi, ke alam saripati tanah, ke alam diri kita sendiri untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas pokok kita di muka bumi ini. Yaitu untuk memakmurkan bumi dan segala isinya, serta untuk membentuk peradaban kita sendiri dengan sebaik-baiknya.

Semua tugas itupun bisa kita lakukan dengan rasa bahagia yang amat sangat, karena kita sudah dibekali pula oleh Allah dengan modal dasar yang sangat melimpah. Ada keselamatan, ada rahmat, ada berkat dari Allah untuk kita tebarkan bagi seisi bumi dan bagi sesama.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1428 H.

Assalamu’alaikum warah matullahi wa barakatuh

Jakarta 12 September 2007

Abu Sangkan …

Deka …

Mardibros …

A Manaf

Hampir 2 bulan saya dibersihkan oleh Allah. Sejak bulan Rajab sepertinya. 3 bulan haram, 3 bulan dimana Allah menciptakan bulan-bulan terbaiknya. Rajab-Sya’ban-Ramadhan. Rasanya dikosongkanlah semua isi bejana saya. DisiapkanNya saya untuk kedatangan bulan ini.

Rasanya, saat bulan Ramadhan tahun ini datang, Allah ingin aku datang sendiri. Sendiri dengan sebenar-benarnya aku. Seolah-olah Allah hanya ingin aku sendiri. Menjadi bulan yang benar-benar hanya aku dan Rabbku. Sedemikian rindukah Allah padaku ? Sehingga beliau tidak mau aku berpaling selain padaNya pada bulanNya tahun ini ? Sungguh kesendirian ini tidak menyiksaku.

Sejak 2 hari yang lalu pasca Qulilah Dhuhurku yang aneh itu, rasanya aku menjadi sendiri. Tapi tidak menyiksaku. Aku dapat merasakan kerinduan Allah padaku menjelang Ramadhan ini. Allah mengangkat bebanku sebentar. Semua kebingungan dan kelelahan hati yang biasa menderaku dalam 2 bulan terakhir ini diangkatNya. Entah kemana rasa bingung itu berpindah. Allah mengangkatnya dari otak dan hatiku. Ia ingin aku seutuhnya pada Ramadhan kali ini. Dan aku pun ikhlas untuk datang kepadaMu ya Tuhanku. Pemilikku. Seluruh hidupku, matiku dan ibadahku.

Dan aku datang penuh senyum dan haru saat Ia memanggilku. Aku datang ya Allah. Aku datang. Sambutlah aku ya Rabb-ku.