Beberapa hari ini berat sekali rasanya. Rasanya ada yang ingin berontak dan keluar dari dalam dada. Serasa dihimpit dua tembok raksasa dan tidak kuasa menahan.

Namun, ternyata itu adalah sebuah rahasia dari Tuhan. Dan rentetan ini adalah sebuah rentetan panjang panggilan Tuhan kepadaku. Panggilan besar ini pun ternyata dilakukan pada bulan Rajab. Bulannya Allah. Syahrulloh… Bulan dimana perintah shalat pun disampaikan Allah kepada Rasulullah tercintanya langsung di sidratul muntaha.

Kegundahanku dan kebingunganku mulai memperoleh jawaban pasca pengajian haji mama papa di Solo. 3 kali dalam sehari memperoleh peringatan melalui pengajian tentang sholat membuatku tersadar bahwa pasti ada yang salah dengan sholatku. Dan aku pun mulai mencari.

Via mister google.com aku dipertemukan dengan sebuah blog review sebuah buku berjudul Pelatihan Sholat Khusyu’ karya Abu Sangkan. Dari blog itu aku membaca betapa indahnya sholat yang khusyu’ dan ihsan. Bertemu dengan Tuhannya. Berdialog dengan Tuhannya. Kembalinya ruh kita pada kesadaran tertinggi untuk mencapai kedamaian.

Sholat dhuhur kemarin menjadi sebuah awal kunci pembuka hati. Saat pertama kakiku kembali ke rumah Allah. Aku memulainya dengan kepasrahan. Aku tidak mencari khusyu’. Khusyu’ tidak usah dicari. Khusyu’ adalah karunia. Karenanya kita hanya bisa mempersiapkan diri untuk menerimanya. Dia akan datang bagi yang pasrah dan menerima. Aku tidak berkonsentrasi. Aku berserah diri seluruhnya kepada Allah. Aku akan berhadapan dengan penciptaku. Aku ajak ruhku untuk kembali ke rumah. Rumah Allah..

Aku baca takbir dengan perlahan. Seperti memanggil Allah. Pelan dan hikmat.

Dan tiba-tiba terdengar suara. “Ya hambaKu.. masuklah.. Aku sudah menunggumu.. lama sekali.. Aku rindu padamu.”

Air mata langsung membanjir dimataku. Dialog ini kemudian dimulai.

Aku baca doa Iftitah sebagaiman diajarkan Rasulullah tercinta. Aku mohon pada Allah untuk dibersihkan dosa dan dosa yang menempel di seluruh ragaku. Aku menangis. Aku mengakui betapa kotornya dan tidak pantasnya aku berada disitu. Berdialog denganNya.

Namun Tuhan ternyata Maha Pengampun. Sungguh Maha Pengampun. Kurasakan belaian lembut dikepalaku. Laksana belaian seorang ayah pada anak kesayangannya.

“Aku akan memaafkanmu, asal kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi”

“Tapi aku mungkin akan mengulanginya lagi.” Demikian kataku.

“Aku akan menjagamu dari hal-hal seperti itu, selama engkau mau mengingatKu seperti ini”

“Dan jika aku ternyata masih mengulanginya lagi?” Sahutku pelan.. Takut..

“Dan jika kemudian kau datang lagi padaKu seperti ini, Aku niscaya akan memaafkanmu. Tapi berjanjilah untuk berusaha menjauhinya. Karena aku sungguh tidak menyukainya.”

Tangisku pun makin deras mengalir. Tuhanku masih mengampuniku. Setelah banyak dosa yang aku lakukan kepadaNya.

“Baik ya Allah. Aku berjanji.” Aku berjanji dengan sepenuh hatiku.

Al-Fatihah kubaca perlahan. Surat Pembuka. Kubaca setiap ayatnya dengan hikmat. Kucermati artinya. Kurasakan maknanya. Sampai pada ayat Arrahmaan nir rahiim. Aku bersyukur dengan segala nikmat yang diberikan Tuhan. Kasih sayangnya melimpah ruah disetiap hari-hariku.

Tubuhku mulai bergetar hebat saat kubaca ayat ke empat. Maaliki yaumiddiin. Yang memiliki hari Pembalasan. Rasa takut itu hebat sekali. Tubuhku menggigil. Aku ketakutan luar biasa. Dosaku terhampar di depan mata. Aku berteriak memanggil namanya. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah… Aku takut ya Allah… Aku bagai anak kecil yang ketakutan sambil memanggil nama ayahnya.

Dan Dia kemudian memelukku. Menenangkanku.

Ihdinas shirotol mustaqiiem.. Tunjukkan lah aku jalan yang lurus ya Allah. Aku menangis lagi. Menangis dalam pelukanNya. Aku takut lagi. Aku tersesat selama ini. Jalan berliku-liku. Dan aku tersesat.

Dan Dia menggandeng tanganku. Laksana ayah yang menggandeng anaknya menyeberang jalan. Aku merasa tanganku meraihNya. Aku pasrah. Aku akan ikut kemanapun Dia membawaku. Jalan didepanku pun terbentang lurus. Panjang memang. Namun lurus.

Aku membaca surat pendek Al Ikhlas. Aku ingin mengagungkanNya. Dia adalah satu-satunya bagiku. Dia Tuhanku. Dia penolongku. Dia tempat aku menggantungkan semua harapanku.

Saat membaca doa ruku’. Aku menangis lagi. Ya Tuhanku. Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi. Aku mengakui kelemahanku sebagai makhluknya. Aku tidak berdaya apa-apa dihadapanMu.

Sami Allahu liman hamidah. Semoga Allah mendengarkanku.

“Ya Allah. Kanjeng mirsani kulo toh ?” Aku bertanya dengan perasaan takut. Aku bertanya bak seorang rakyat kecil kepada rajanya.

“Ya.. aku melihatmu.” Demikian Dia menjawabku.

Sujud. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku pasrah. Aku serata tanah. Tidak ada kecongkakan dan kesombongan yang bisa aku banggakan di depanNya. Aku lemah selemah-lemahnya. DihadapanNya aku tidak berarti apa-apa. Dan Dia masih mau berdialog denganku. Aku menangis… lama sekali.

Duduk antara dua sujud. Allahummaghfirli. Ya Allah kasihanilah aku. Aku mengemis padanya. Nyuwun duko kanjeng Gusti. Dan aku menangis lagi. War hamni. Sayangilah aku. Aku memohon untuk disayangi. Tanpamu aku tidak akan bisa hidup ya Allah. Airmata itu makin membanjir. WajburniWar faqni. Warzuqni.. Berilah aku rejeki. Kulo nyuwun paring-paring Gusti Pangeran. Nyuwun rejeki. Dan Dia tersenyum. Wahdinii. Tunjukilah aku. Aku yang sedang bingung ini ya Allah. Tumpah semua uneg-uneg dihati ini. Rasanya ingin sekali menangis keras-keras. Wa afinii. Sehatkan aku ya Allah. Wa fu’anni. Dan maafkanlah hambaMu yang berdosa ini. Lama sekali aku duduk meresapi setiap arti dari kata-kata itu. Rasa kotor ini makin terasa dan makin membesar. Tumpah semua bak air bah keluar dari tanggul.

Dan dialog itu berulang setiap raka’at. Rasanya dialog ini menjadi sebuah privasi antara aku dan Tuhanku. Sebuah priviledge yang hanya bisa dimiliki antara aku dan Tuhanku. Maksudnya, inilah komunikasi 2 arah yang khusus antaraku dan Tuhanku. Akan mungkin sekali berbeda dengan komunikasi yang terjadi antara anda sekalian dengan Allah. Akan berbeda untuk setiap individu.

Pada sebelum sujud terakhir, aku bertanya padaNya.

Paring mboten kulo nyuwun peparingan ?”

“Mintalah.. Niscaya Aku akan mengabulkannya.”

Dan tumpahlah semua persoalanku di sujud terakhir ini. Semua kegundahan hati ini tertumpah basah di sajadah. Aku mengadu. Aku memohon. Aku paring-paring kepadaNya.

“Itukah permintaanmu ?” Dia tersenyum. “Aku akan mengabulkannya.”

Mendengarnya aku langsung menangis sejadi-jadinya. Ucapan terima kasihku tak henti-hentinya terucapkan. Bebanku serasa diangkat. Tembok besar yang menghimpitku serasa dipindahkan. Dada ini terasa lapang.

Kini, aku menantikan setiap saat shalat. Karena itulah saat aku bertemu PenciptaKu. Tuhanku. Yang mencintaiku. Dan selalu Mencintaiku…. Walau sudah lama aku tidak berdialog dengannya. Betapa rindunya Dia padaku.

“Sudah pulang kau hambaKu ?”

“Sudah berapa lama aku tidak pulang ya Allah ?”

“Berapa umurmu sekarang hambaKu ? Jumlahkanlah dengan bulan saat kau dikandung ibumu. Karena saat itulah Aku meniupkan ruhKu ke dalam kandungan ibumu. Selama itulah Aku merindukanmu untuk berbincang denganmu lagi.”

Dan aku hanya bisa menangis. Memandangnya dengan linangan air mata. Dan Dia menatapku dengan senyuman. Senyuman terindah yang pernah aku lihat. Dan aku berjanji akan lebih sering pulang. Aku rindu padaNya. Sungguh rindu.