<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>eudeart</title>
	<atom:link href="http://eudea.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eudea.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 02:46:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='eudea.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>eudeart</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eudea.wordpress.com/osd.xml" title="eudeart" />
	<atom:link rel='hub' href='http://eudea.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Romantika Alon-alon Maton Kelakon</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2012/01/04/romantika-alon-alon-maton-kelakon/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2012/01/04/romantika-alon-alon-maton-kelakon/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 06:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Romantika Alon-alon Maton Kelakon Semakin saya belajar, semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa Semakin saya menelusuri ungkapan Alon-alon &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2012/01/04/romantika-alon-alon-maton-kelakon/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=128&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Romantika Alon-alon Maton Kelakon</p>
<p><em>Semakin saya belajar, semakin saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa</em></p>
<p><em></em>Semakin saya menelusuri ungkapan Alon-alon Maton Kelakon yang awalnya saya tulis di : <a href="http://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/">http://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/</a> semakin saya menyadari bahwa saya benar-benar tidak tahu tentang budaya saya sendiri *malu*.</p>
<p>Awalnya saya menulis bahwa ungkapan yang benar adalah Alon-alon Waton Kelakon. Baru kemudian, saya dikoreksi oleh Pak Kafi Kurnia, bahwa ungkapan yang benar adalah Alon-alon MATON Kelakon. Apa bedanya antara Waton dan Maton ?</p>
<p>Menurut literatur Di Kamus Lengkap Bahasa jawa-nya SA MangunSuwito, hal.284 disebutkan waton : asal;angger tpi bisa juga pathokan; pranatan. diwatoni:dipathoki. maton : mesthi;tetep (dicuplik dari tulisan di <a href="http://angkringan.or.id/page.php?id=845">http://angkringan.or.id/page.php?id=845</a>)</p>
<p>Sehingga bisa dimaknai sebagai : <em>maton iku mathuk, yen waton iku ngawur.<br />
Dadine yen alon-alon waton kelakon iku mesti wae hasile yo ora apik, lah piye leh arep apik wong le ngelakoni yo waton (ngawur).</em> Yang artinya kurang lebih : Maton itu pas… kalau waton itu ngawur. Sehingga, seandainya alon-alon waton kelakon itu mesti hasilnya tidak baik. Bagaimana bisa baik jika saat melakukannya saja ngawur.</p>
<p>Sambil ber<em>blog walking</em>, saya menemukan banyak blog yang membahas tentang konsep Alon-alon Maton kelakon ini. Antara lain :</p>
<p><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/05/18/alon-maton-kelakon/">http://umum.kompasiana.com/2009/05/18/alon-maton-kelakon/</a></p>
<p><a href="http://roniyuzirman.wordpress.com/2011/07/09/alon-alon-maton-kelakon/">http://roniyuzirman.wordpress.com/2011/07/09/alon-alon-maton-kelakon/</a></p>
<p><a href="http://angkringan.or.id/page.php?id=845">http://angkringan.or.id/page.php?id=845</a></p>
<p>Lalu mengapa penting bagi saya membahas tentang ungkapan ini (lagi) ? Saya hanya merasa bahwa saat ini, dunia saya berputar pada segala sesuatu yang berorientasi output. Sehingga semua serasa dipercepat. Output memang penting. Tapi bukankah kualitas output sangat dipengengaruhi oleh kualitas input dan prosesnya ? Jika seleksi inputnya dilakukan secara <em>grusa-grusu</em> dan prosesnya dilakukan secara serampangan, apakah kira-kira akan menghasilkan output yang baik ?</p>
<p>Masyarakat Jawa sering diidentikkan dengan masyarakat yang pelan dan lamban. Namun apakah benar demikian ? Saya coba berguru dari para petani yang berangkat ke sawah sejak Subuh. Demikian pula dengan para penjual di pasar tradisional yang bahkan sudah berangkat dari rumah sejak jam 2 pagi untuk kulakan terlebih dahulu. Apakah ini cermin dari masyarakat yang lambat ? saya kok tidak melihat kelambatan di sini ya ? Yang saya perhatikan justru mereka adalah tipikal masyarakat yang rajin, namun berhati-hati dalam proses. Mereka berangkat lebih pagi agar ada waktu lebih lama untuk menjaga proses pekerjaan mereka.</p>
<p>Masyarakat Cina seringkali di identikkan dengan masyarakat yang cepat dan sigap. Sehingga kini mereka menjadi penggerak ekonomiAsia. Padahal jika kita perhatikan budaya aslinya, sebenarnya mereka adalah masyarakat yang amat sangat menghargai proses (<em>baca:pelan</em>). Saya ingat ketika membaca komik Kenji, dimana Kenji yang waktu itu sedang mulai belajar beladiri Cina, diharuskan belajar tentang kuda-kuda (saja) selama hampir 2 bulan sehingga saat si Kenji ini ditantang untuk berkelahi, dia mulai gelisah karena tak satupun jurus yang dia kuasai. Hingga kemudian sang guru (yang juga kakeknya sendiri) menunjukkan hasil dari mempelajari kuda-kuda dengan cara memukul rontok seluruh daun dari satu pohon hanya dari satu kuda-kuda saja. Dari sisi beladiri, masyarakat Cina sangat percaya bahwa proses adalah inti dari kesempurnaan. Namun memang kemudian hal ini harus berseberangan dengan budaya berdagang dimana waktu adalah mata uang yang amat berharga.</p>
<p>Dunia kapitalis pun mulai menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan di Dunia kita sekarang dimana proses hanyalah periode antara input dan output. Bukan lagi merupakan sebuah periode inti dimana semua kebaikan dari input dimaksimalkan untuk memperoleh output terbaik.</p>
<p>Kita bisa memandang dari contoh kasus dunia pendidikan kita dimana adik-adik kita dipaksa berpacu dalam proses untuk menghasilkan output berupa nilai ujian tinggi tanpa memperhatikan apakah konsep belajar itu mereka mengerti betul atau tidak. Maka sering kita temui betapa gagapnya kita dan adik-adik kita ketika harus berhadapan dengan dunia kerja dimana antara ilmu yang dipelajari di bangku sekolah dan yang ditemui di dunia kerja menjadi sedemikian tidak applicable. Ilmu yang harusnya menjadi bekal untuk dipergunakan dalam dunia kerja, menjadi buku kosong yang inti sarinya pun tidak dimengerti. Sekolah sekarang menjadi semata-mata tempat untuk memperoleh gelar sehingga bisa diterima di masyarakat. Namun miskin kemampuan sebenarnya.</p>
<p>Pada jaman dahulu, seorang siswa yang nyantri pada seorang Resi, bisa tidak naik tingkat jika memang belum saatnya naik tingkat sekalipun adik kelasnya sudah melalang buana kemana-mana. Sungguh proses itu amat diperhatikan kala itu. Kala dimana ilmu berkuasa. Dan bukan nominal harta.</p>
<p>Kembali ke Alon-alon Maton Kelakon. Ini adalah sebuah ungkapan agar kita berkompromi antara input-proses-output dalam satu kesatuan utuh. Perhatikan betul kualitas input, asah di dalam proses secara hati-hati dan terukur, niscaya outputnya akan melampaui bayangan.</p>
<p>Manusia adalah makhluk berumur pendek. Rata-rata dari kita hanya berumur sekitar 60 – 70 tahun. Sedangkan budaya, adalah hasil kristalisasi pengetahuan manusia yang diturunkan dari bergenerasi (yang tentu saja sudah mengalami banyak kejadian sampai yang paling ekstrim sekalipun) dalam periode yang amat sangat jauh melampaui jatah hidup seorang manusia. Sungguh merugi jika kita memandang ungkapan ini hanya sebatas wacana sempit tanpa bisa memaknai bagaimana ungkapan Alon-alon Maton Kelakon ini bisa sampai tercetus. Maka.. mempelajari ungkapan ini dengan sungguh-sungguh sama artinya mengupas jati diri kita sebagai manusia sendiri. Monggo.. sami-sami belajar..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=128&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2012/01/04/romantika-alon-alon-maton-kelakon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surga tersembunyi, Pantai Batu Karas</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2011/12/15/surga-tersembunyi-pantai-batu-karas/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2011/12/15/surga-tersembunyi-pantai-batu-karas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 04:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Setelah bingung dengan Pangandaran yang sekarang terlalu ramai dan tidak bisa menikmati pantainya dengan tenang. Akhirnya kami menemukan pantai yang &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2011/12/15/surga-tersembunyi-pantai-batu-karas/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=122&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://eudea.files.wordpress.com/2011/12/batu-karas.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-123" title="batu karas" src="http://eudea.files.wordpress.com/2011/12/batu-karas.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Setelah bingung dengan Pangandaran yang sekarang terlalu ramai dan tidak bisa menikmati pantainya dengan tenang. Akhirnya kami menemukan pantai yang tidak kalah elok dibandingkan Pangandaran. Dengan ombak yang tenang dan dengan suasanaya yang jauh lebih bisa dinikmati dibandingkan Pangandaran yang sudah terlalu komersil (kalau menurut saya).</p>
<p>Pantai itu bernama Batu Karas. Letaknya sekitar 45 menit dari Pangandaran menyusuri aliran <em>Green Canyon</em>. Sepanjang jalan menuju pantai ini, mata akan disuguhi pemandangan yang meneduhkan berupa aliran air berwarna hijau <em>tosca</em> dari <em>Green Canyon</em> di sebelah kiri dan hijaunya sawah atau perkebunan rakyat di sebelah kanan. Jalanan yang halus dan meliuk-liuk semakin menambah kenikmatan perjalanan menuju pantai ini.</p>
<p>Untuk memasuki kawasan pantai ini, kami dikenai retribusi (ya iyalahh). Karena kami naik mobil Avanza, retribusinya sebesar Rp 27.700. Kawasan pantai ini ternyata baru mulai dibangun. Nampak banyak fasilitas-fasilitas pendukung yang masih setengah jadi. Beberapa hotel masih nampak sedang dalam tahap pengerjaan. Sepertinya banyak investor yang tertarik untuk membangun di pantai ini.</p>
<p>Setelah saya telusuri, ternyata memang kawasan pantai ini merupakan pantai yang notabene sering dijadikan jujukan untuk para peselancar. Ada situs pemindai spot berselancar internasional, <a title="www.wannasurf.com" href="http:\\www.wannasurf.com" target="_blank">www.wannasurf.com</a>, yang berani memberikan bintang 3.5 untuk pantai ini (dari 5 bintang). Dari situs tersebut, saya peroleh informasi bahwa ombak di pantai ini bisa untuk pemula sampai menengah (di situs tersebut ditulis sebagai <em>FUN</em>). Sedangkan untuk peselancar yang sudah mahir pantai ini terlalu mudah untuk ditaklukkan. Pantai ini berada di teluk, sehingga ombaknya relatif tidak ganas. Dari para peselancar lokal, saya peroleh informasi bahwa berselancar di kawasan ini mengenal waktu-waktu tertentu (di tempat lain sepertinya juga demikian dink). Karena ombaknya tidak sama sepanjang tahun. Hanya pada musim angin Barat saja ombaknya bisa dinaiki (tolong dikoreksi jika salah). Selebihnya, ombaknya terlalu kecil untuk dinaiki.</p>
<p>Jika di Pangandaran, kita akan sering menemui bapak-bapak pemilik perahu yang menawarkan kunjungan ke Pasir Putih dengan dandanan ala nelayan (kaos lengan panjang, celana panjang plus topi lebar), maka di Pantai Batu Karas ini yang sering kita temui adalah peselancar lokal yang bertelanjang dada , celana hawai dan berkulit keling. Hampir semua dari para peselancar lokal ini membuka <em>surfing coach</em> atau toko peralatan berselancar. Namun pada masa ombak landai ini beberapa dari mereka kemudian beralih membuka wahana <em>Banana Boat</em> atau <em>Donut Ufo</em> bagi para pengunjung. Dan tentu saja ini menguntungkan bagi wisatawan domestik yang biasanya jarang bisa berselancar (macam saya).</p>
<p>Oh iya, karena pantai Batu Karas ini diperuntukkan untuk berselancar, maka banyak dari hotel yang dibuat dengan konsep yang lebih baik (baca:elegan) dibandingkan Pangandaran. Mungkin karena peselancar yang sering mampir ke Pantai ini kebanyakan adalah turis asing.</p>
<p>Selain selancar, banana boat atau donut UFO, kawasan pantai ini juga memiliki spot untuk snorkeling. Biayanya sekitar 1.5 juta per hari. Termasuk sewa perahu dan alat dengan durasi sekitar 5-6 jam (sangat bisa diperpanjang jika bisa bernegosiasi dengan penyedia jasa snorkelingnya)</p>
<p>Namun yang yang saya sukai di pantai ini dibandingkan Pangandaran adalah bahwa kita bisa menikmati pantai dengan bebas tanpa dihalangi oleh pemandangan warung-warung penjual cinderamata. Kawasan untuk penjual cinderamata dan makanan ringan ternyata di lokasikan di sekitar area parkir. Dengan tertata rapinya area ini, maka sungguh menikmati pantai di Batu Karas menjadi hal yang sangat hhmm&#8230; relaxing.</p>
<p>Untuk makanan, kawasan ini memiliki banyak restaurant dengan menu seafood maupun non seafood seperti kambing guling atau bahkan kuliner barat. Untuk seafood sepertinya kawasan ini masih mengambil pada kawasan Pangandaran karena sewaktu saya kesana, tidak nampak satupun kapal nelayan. Untuk harga, tenang saja.. masih masuk akal kok.</p>
<p>Untuk hotel, kawasan Pantai Batu Karas ini mempunyai hotel-hotel dengan konsep yang lebih tertata dibandingkan Pangandaran (menurut saya sih). Banyak hotel-hotel dengan konsep cottage atau villa yang standardnya sudah tinggi. Salah satunya bernama <a title="Java Cove" href="http://www.javacovebeachhotel.com/" target="_blank">Java Cove</a>. Hotel mungil dengan konsep minimalis tapi sangat nyaman.</p>
<p>Sayang, karena saya hanya mampir di Pantai Batu Karas ini dan tidak sempat bermalam, maka pengalaman saya tentang kawasan ini jadi kurang. <em>I shall be back!!</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=122&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2011/12/15/surga-tersembunyi-pantai-batu-karas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://eudea.files.wordpress.com/2011/12/batu-karas.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://eudea.files.wordpress.com/2011/12/batu-karas.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">batu karas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eudea.files.wordpress.com/2011/12/batu-karas.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">batu karas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Menikmati Kehidupan Ala Bakmi Jawa</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2011/12/14/belajar-menikmati-kehidupan-ala-bakmi-jawa/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2011/12/14/belajar-menikmati-kehidupan-ala-bakmi-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 04:12:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Menikmati bakmi Jawa itu tidak hanya menikmati sedapnya rasa, tapi juga menikmati proses memasak dan memahami cerita serta filosofi dibalik &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2011/12/14/belajar-menikmati-kehidupan-ala-bakmi-jawa/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=113&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menikmati bakmi Jawa itu tidak hanya menikmati sedapnya rasa, tapi juga menikmati proses memasak dan memahami cerita serta filosofi dibalik masakan adopsi peranakan ini.</p>
<p>Namun yang membedakan antara mie di negara asli dan mie Jawa adalah proses memasaknya. Mie jawa tidak pernah dimasak lebih dari 1 porsi secara bersamaan. Sekali memasak, hanya untuk satu porsi.</p>
<p>Hidup inipun sama seperti memproses mie Jawa, adalah perjalanan orang per orang secara individual. Resep mie boleh sama, pesanannya pun boleh jadi dengan komposisi yang sama. Tapi proses pemasakannya tetap satu persatu. Demikianlah hidup. Boleh jadi bekalnya sebagai seorang anak manusia sama. Lahir dari keluarga yang sama, diberi makan yang sama, diberi pendidikan yang sama, segala-galanya disamakan. Namun.. hidup merupakan perjalanan individual. Setiap orang memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Proses “pemasakan” akan berbeda-beda sekalipun endingnya bertujuan menjadikan kita sebagai manusia yang manusiawi.</p>
<p>Menikmati mie Jawa berarti harus siap juga menikmati antri. Dalam kata lain, menikmati waktu datang sesuai dengan masanya. Tidak bisa mempercepat proses atau menyela antrian jika tidak ingin diprenguti pelanggan yang lain atau bahkan di usir oleh sang empunya warung. Menikmati antrian adalah menyadari bahwa setiap proses mempunyai waktunya sendiri-sendiri. Bisa jadi semua bahan sudah tersedia, namun jika belum waktunya dimasak, maka ya wajib menunggu sampai gilirannya tiba. Demikian pula hidup. Biarpun kita sudah mengusahakan segala sesuatunya sesuai rencana, tapi jika sang Kokinya hidup belum hendak memberikan, ya ngantri dulu.</p>
<p>Mie Jawa dimasak dengan menggunakan arang, alias bara. Bukan menggunakan gas atau kompor minyak. Wajannya pun dari besi baja dan tungkunya dari tungku tanah liat. Kombinasi 3 bahan ini membuat mie Jawa menjadi unik. Karena jika sudah disajikan di atas piring, mie Jawa ini panasnya bisa bertahan sampai suapan terakhir. Hal ini tidak akan ditemui jika bahan bakarnya menggunakan minyak tanah atau gas. Secara teknis, kombinasi besi, arang &amp; tanah liat akan menghasilkan spektrum infra merah jarak jauh (<em>far infra red</em>) yang mampu menggerakkan molekul seperti di dalam microwave. Jadi proses pematangan mie Jawa, tidak hanya berdasarkan panas dari bara arang semata, tapi juga karena adanya bantuan dari <em>far infra red</em>. Proses memasak seperti ini juga terdapat dalam proses pemasakan roti Nan dari India yang menggunakan tungku tanah, atau proses memasak menggunakan Tandori. Selain masalah panas, ternyata <em>far infra red</em> juga mampu memberikan kondisi yang lebih baik dalam proses memasak. Sehingga masakan bisa terasa lebih enak. Namun kekurangannya memasak dengan cara seperti ini adalah, waktunya lebih lama dibandingkan kompor gas. Sama seperti hidup, terkadang proses “memasak” dari Sang Kokinya Hidup membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, tapi nikmati saja prosesnya sampai matang. Karena hasilnya pasti lebih sempurna.</p>
<p>Mie Jawa adalah masakan yang tidak saja dimasak individual, tapi juga komposisinya bisa disesuaikan dengan selera pemesannya. Demikian pula hidup, pilihannya tergantung kita sebagai pelakunya. Namun Sang Kokinya Hidup pasti akan memasaknya menjadi sesuatu yang lezat.</p>
<p>Maka proses antri menunggu mie pesanan kita matang adalah proses mengamati banyak kehidupan yang mampir. Setiap orang punya pesanannya sendiri. Setiap orang punya seleranya sendiri. Dan pada akhirnya, sang koki akan tersenyum puas sambil memandang piring Mie Jawa hasil masakannya matang sempurna sambil menyerahkannya pada sang pemesan. Menikmati mie Jawa adalah belajar menghargai proses kehidupan.</p>
<p>Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian biasa yang terjadi sehari-hari. Menjadikan kita makin bijak untuk menghargai bahwa tidak pernah ada kejadian yang sia-sia di dalam hidup. Karena Dia adalah Koki Maha Luar Biasa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=113&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2011/12/14/belajar-menikmati-kehidupan-ala-bakmi-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meletakkan Borobudur Pada Posisinya Yang Seharusnya</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2011/12/06/meletakkan-borobudur-pada-posisinya-yang-seharusnya/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2011/12/06/meletakkan-borobudur-pada-posisinya-yang-seharusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 23:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Dari dulu saya selalu melihat Borobudursebagai obyek wisata. Iya.. saya anak Jogja yang tahu bahwa Borobudur adalah sebuah Candi yang &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2011/12/06/meletakkan-borobudur-pada-posisinya-yang-seharusnya/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=109&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari dulu saya selalu melihat Borobudursebagai obyek wisata. Iya.. saya anak Jogja yang tahu bahwa Borobudur adalah sebuah Candi yang bisa kita kunjungi kalau musim liburan sekolah. Bagi saya saat itu, Candi Borobudur hanyalah tempat bermain dengan lapangan yang luas. Ornamen dan Stupa yang ada di dinding-dindingnya tidak saya mengerti sebagai sebuah pelajaran hidup, apalagi sebagai sebuah fragmen dari Kitab Suci.</p>
<p>Hingga suatu hari, seorang <em>guide</em> senior menerangkan kegundahannya bagaimana kita tidak menghargai Borobudursebagai mana mestinya. Borobudur itu rumah ibadah. Sebagaimana Masjid yang suci untuk umat Islam dan Gereja yang damai untuk umat Kristen. Borobudur itu rumah ibadah bagi umat Budha. Pada hari-hari tertentu seperti pada Waisak, Borobudur digunakan untuk sembahyang. Saya jadi kemudian tersentak dan berpikir ulang untuk meletakkanBorobudurpada posisi yang seharusnya.</p>
<p>Lalu mengapa pada waktu di luar waktu Waisak, kemudian Borobudur menjadi obyek wisata ? Sehingga anak-anak kecil dengan mudahnya naik di atas Stupa tanpa orang tuanya memberitahunya bahwa itu adalah relik yang suci untuk saudaranya yang beragama Budha ? Bagaimanakah rasanya perasaan umat Muslim jika mimbar Masjid kemudian dinaiki secara serampangan oleh pengunjungnya ? Atau bagaimana perasaan umat Kristen jika Altar Gerejanya dipakai untuk tempat petak umpet ? Sepertinya ada yang salah disini.</p>
<p>Unesco memang menetapkan Borobudursebagai cagar budaya. Namun apakah kita tidak bisa melihat lebih dari itu ? Bukankah kita juga memiliki akal untuk berpikir tentang posisi Borobudur seharusnya ? Jika kita ingin tempat ibadah kita dihargai oleh umat lain, mengapa kita kemudian tidak menghargai tempat ibadah orang lain ? Apakah karena umat Budha merupakan umat minoritas di negara ini ? Mungkin termasuk minoritas terkecil.</p>
<p>Seandainya kita menyadarinya, semoga bentuk penghargaan kita terhadap Borobudur akan lebih baik. Dan semoga Borobudur tidak hanya menjadi cagar budaya, tapi juga pusat Ibadah dan pusat studi untuk saudara-saudara kita umat Budha dari berbagai penjuru dunia. Bukan tidak mungkin bahwa Borobudur akan menjadi seperti Mekah atau Vatikannya umat Budha. Seandainya kita tahu, bahwa dahulu, biksu-biksu dari Cina banyak datang ke Borobudur untuk belajar tentang Dharma &amp; Budha di Borobudur melalui relief-relief dindingnya. Sekarangpun masih demikian, namun jumlahnya jauh menurun. Apa sebabnya ? Entahlah.. mungkin karena mereka sekarang sulit merasakan ketenangan untuk belajar di Borobudur karena kehadiran kita sebagai wisatawan yang terkadang tidak bisa menjaga perilaku kita di tempat ibadah mereka ?</p>
<p>Sekali lagi saya ingatkan, bahwa seyogyanya kita menghargai Borobudur sebagai tempat ibadah. Tidak hanya sebagai tempat wisata. Dan seandainya kita mau mempelajari, sungguh relief di dindingBorobuduritu bisa memberikan pencerahan tentang kehidupan. Tentu saja, anda bisa memilah-milih mana pencerahan yang sesuai dengan agama anda. Mari hargai Borobudur… Pada posisinya sebagai tempat ibadah saudaramu juga.</p>
<p>Please follow me on twitter @wednesyuda</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=109&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2011/12/06/meletakkan-borobudur-pada-posisinya-yang-seharusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sejarah Rijsttafel</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2011/12/05/mengenal-sejarah-rijsttafel/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2011/12/05/mengenal-sejarah-rijsttafel/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 13:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak blog yang menulis tentang sejarah Rijsttafel secara benar (menurut saya). Jadi mungkin anggap saja tulisan berikut ini sebagai &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2011/12/05/mengenal-sejarah-rijsttafel/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=106&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak banyak blog yang menulis tentang sejarah <em>Rijsttafel</em> secara benar (menurut saya). Jadi mungkin anggap saja tulisan berikut ini sebagai pelengkap dari sejarah <em>Rijsttafel</em>, karena memang sejarah hanya berpihak pada yang menang. Dan kita waktu itu adalah bangsa yang terjajah.</p>
<p>Jadi mari kita mulai saja ceritanya…</p>
<p><em>Rijsttafel</em> seperti yang banyak dimuat dalam beberapa artikel merupakan serapan Bahasa Belanda dari kata <em>Rice Table</em>. Yang secara mudahnya diartikan sebagai penyajian nasi di atas meja. Dan <em>Rijsttafel</em> ini biasanya diasumsikan dengan penyajian ala Nasi Padang. Yaitu keluarnya nasi dengan bermacam-macam lauk. Inilah mulainya penyelewengan sejarah. Loh kok ?</p>
<p>Begini.. <em>Rijstaffel</em> mulai masuk disukai oleh Belanda kira-kira pada awal abad 19 sampai pertengahan abad 19. Saat itu, di Indonesia belum ada konsep Rumah Makan Padang. Konsep Rumah Makan Padang baru muncul belakangan setelah periode Kemerdekaan Indonesia. Jadi bagaimana mereka bisa mengacu pada konsep makan yang muncul dalam sejarah saja belum (pada waktu itu).</p>
<p>Sebenarnya, <em>Rijsttafel</em> muncul karena “kekaguman” <em>Meneer-meneer</em> Belanda pada cara penyajian makanan untuk para raja Jawa terutama kraton Solo dan Jogjakarta. Pada saat itu, jika raja mengadakan jamuan makan siang kepada para tamunya, maka setiap jenis lauk akan diantarkan oleh perempuan-perempuan cantik dengan membawa nampan. Dan jumlah nampannya bisa berkisar antara belasan sampai dua puluhan. Di bandingkan dengan tata cara makan Belanda yang waktu itu jenis lauk hanya berkisar 2-3 jenis, jelas ini sesuatu yang mencengangkan. Konsep ini kemudian ingin ditiru tapi juga dengan unsur dipermalukan. Mengapa dipermalukan ? Tentu saja karena mereka sebagai Kolonial tidak ingin dipermalukan oleh kaum yang mereka anggap <em>Inlander</em>. Konsep ini kemudian di tiru dengan jenis makanan yang lebih banyak (bahkan ada yang sampai 64 jenis lauk), dan dibawakan oleh pelayan laki-laki yang disebut Jongos. Jongos yang sebenarnya bukanlah pembantu, tapi pelayan laki-laki muda. Ingat dengan istilah Djong Java, Djong Celebes dan Djong Sumatran Bon ? Seperti itulah yang disebut dengan Jongos. Bentuk plural dari Djong, yang artinya pemuda laki-laki.</p>
<p>Kembali ke masalah penyajian <em>Rijsttafel</em>, para Jongos ini dilarang menggunakan alas kaki. Disinilah letak dari pelecehan terhadap konsep <em>Rijstaffel</em> raja-raja Jawa. Namun anehnya, <em>Rijsttafel</em> ala Belanda ini tidak pernah disajikan di Jawa Tengah. Mungkin para <em>Meneer</em> tidak berani terang-terangan. Kebanyakan rumah makan penyedia <em>Rijstaffel</em> seperti ini kemudian di bangun di Jawa Barat seperti Bandung dan Lembang yang berhawa sejuk. Prosesi makan ala <em>Rijsttafel</em> ini biasanya berlangsung sampai 3 jam, karena saking banyaknya jenis lauk yang harus disantap. Sehingga, kemudian demi mengakomodasi &#8220;kelelahan makan&#8221; para <em>Meneer</em> Belanda ini, biasanya di restauran yang menyediakan menu <em>Rijsttafel</em> ini kemudian disediakan kursi panjang untuk tidur siang.</p>
<p>Acara makan ala <em>Rijsttafel</em> ini kemudian dibawa ke Belanda, dan disana rupanya juga terjadi pergeseran kembali sehingga kesan “pelecehan” tata cara makan ala Raja ini menjadi hilang. Dan yang muncul adalah bahwa tata cara makan <em>Rijsttafel</em> ini adalah tata cara makan resmi. Sehingga saat ingin menyantapnya, kita harus berpakaian sepantas-pantasnya. Demi menghargai tata cara ini.</p>
<p>Demikianlah sekelumit cerita tentang <em>Rijsttafel</em> yang saya peroleh dari sumber-sumber yang masih harus dipertanyakan akurasinya. Karena jujur saja, untuk khasanah kuliner seperti ini, amat sangat jarang ada literatur yang bisa membuktikannya. Dan apalagi, sejarah <em>Rijsttafel</em> ini berkaitan dengan harga diri bangsa (juga untuk Bangsa Belanda), sehingga sisi-sisi yang bergesekan dengan harga diri kemudian dikaburkan atau bahkan diganti dengan fakta lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=106&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2011/12/05/mengenal-sejarah-rijsttafel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filosofi Dibalik Teh Nasgitel</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2011/11/26/filosofi-dibalik-teh-nasgitel/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2011/11/26/filosofi-dibalik-teh-nasgitel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 03:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/2011/11/26/filosofi-dibalik-teh-nasgitel/</guid>
		<description><![CDATA[Teh Nasgitel itu singkatan dari teh yang panas wangi legi kentel adalah teh yang biasa dihirup oleh masyarakat Jogja (juga &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2011/11/26/filosofi-dibalik-teh-nasgitel/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=100&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teh Nasgitel itu singkatan dari teh yang panas wangi legi kentel adalah teh yang biasa dihirup oleh masyarakat Jogja (juga masyarakat Jawa pada umumnya) setelah lelah seharian bekerja. Aroma yang kuat, rasa teh yang pekat dan panas, plus manis yang diperoleh dari gula batu membuat teh nasgitel ini menjadi penghilang lelah yang pas di sore hari.</p>
<p>Dalam sejarah masuknya teh ke Indonesia, teh masuk melalui proses Culture Stelsel alias tanam paksa. Pemaksaan ini dilakukan karena dataran tinggi Indonesia memiliki iklim dan tanah yang sangat cocok untuk menanam teh. Dan teh merupakan sebuah komoditi yang harganya cukup tinggi saat itu. Sehingga kemudian tata niaga teh ini dikuasai oleh imperial Belanda melalui VOCnya.</p>
<p>Teh sebenarnya memiliki kurang lebih 9 – 10 level kualitas dimana level 1 adalah teh dengan kualitas terbaik. Yaitu teh yang benar-benar dihasilkan dari pucuk daun teh pilihan. Makin ke bawah levelnya, maka jumlah daun teh yang ada semakin sedikit dan jumlah batang teh semakin banyak. Sehingga level 9 atau 10 biasanya sudah berupa serat kasar dari batang. Jika pucuk teh memberikan aroma yang kuat, maka batang teh memberikan warna &amp; rasa pahit yang kuat pula. Maka bagi para penikmat teh, kualitas teh paling mumpuni biasanya yang berupa campuran teh level 1 dengan 2-3 level berikutnya. Sehingga warna, aroma dan pahitnya pas. Para era penjajahan tersebut tentu saja kualitas terbaik akan dibawa ke Belanda, sedangkan para pekerja maupun masyarakat sekitar perkebunan hanya diperbolehkan menikmati level 8-9 atau maksimal level 7 dimana masih sedikit terdapat daun teh. Kualitas teh bawah ini memberikan rasa teh yang pahitnya pekat (karena kadar tannin yang tinggi) dan warna yang merah pekat tapi tanpa aroma teh yang melekat. Sehingga, untuk memperoleh aroma yang lebih nikmat, para pekerja teh &amp; masyarakat sekitar perkebunan teh kemudian memasukkan pucuk bunga melati dan menyimpannya selama beberapa malam sehingga aromanya masuk ke dalam teh. Jadilah teh wangi seperti yang saat ini kita kenal. Di beberapa daerah lain di Jawa menggunakan jenis bunga yang lain selain bunga melati.</p>
<p>Teh nasgitel ini sebenernya mempunyai falsafah hidup yang mumpuni. Teh nasgitel itu ibarat kehidupan. Selalu ada pahit, wangi, panas dan kental dalam kehidupan. Beraneka ragam dari yang menyenangkan, menyulitkan dan penuh perjuangan. Sedangkan gula batu itu adalah bentuk dari kenikmatan hidup. Dan dalam proses pembuatannya, teh nasgitel tidak pernah menggunakan gula pasir, karena gula batu dipercaya memberikan rasa yang lebih sedep. Namun sebenarnya tidak hanya karena rasanya saja, tapi filosofi bahwa kebahagian itu selalu diperoleh melalui kerja keras dan tempaan waktu. Filosofi ini nampak saat diaduknya gula batu bersama teh secara perlahan-lahan. Bila teh yang panas, wangi, kentel itu kemudian bertemu dengan gula batu yang mencair perlahan dan sampai pada tingkat kemanisan yang pas, itulah keseimbangan hidup. Hidup yang terlalu pahit tentu tidak menyenangkan, demikian pula hidup yang terlalu manis. Yang pas antara manis, panas, wangi &amp; legi lah yang membuat hidup ini pantas untuk dijalani.</p>
<p>Mengaduk perlahan gula batu dalam balutan teh yang panas, wangi dan kentel, sehingga ditemukan komposisi yang pas mempunyai kata kunci yaitu perlahan. Gula batu yang diaduk terlalu cepat kemungkinan besar akan meleleh terlalu cepat sehingga rasa teh menjadi terlalu manis. Pelan tapi penuh perhitungan sehingga diperoleh hasil yang pas sesuai dengan keseimbangan hidup. Tidak selalu yang cepat itu lebih baik.</p>
<p>Mari nikmati hidup yang pelan.. hidup ala Jogja. Jogja Slowly Asia.</p>
<div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=100&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2011/11/26/filosofi-dibalik-teh-nasgitel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jogja Slowly Asia</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 06:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Jogja adalah kota dengan budaya pelan yang amat sangat mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Jika anda berasal dari luar kota dan &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=97&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jogja adalah kota dengan budaya pelan yang amat sangat mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Jika anda berasal dari luar kota dan masuk ke Jogja, kemungkinan besar Anda akan terkaget-kaget ketika merasakan ritme kehidupan di Jogja yang amat lambat jika dibandingkan dengan kota lain. Jogja adalah kota dimana waktu seolah-olah berhenti. Lalu mengapa Slowly Asia ?</p>
<p>Kota Jogja membutuhkan sebuah visi &amp; konsep yang solid untuk “menjual” Jogjakarta sebagai sebuah komoditi pariwisata. Konsep Dan konsep “Pelan” ini menurut saya pribadi merupakan sebuah konsep yang otentik &amp; sangat menjual.</p>
<p>Otentik ? Jelas donk.. karena budaya pelan itu ada di dalam keseharian masyarakat Jogja. Pelan itu ada di kultur masyarakat Jogja. Jogja dengan becaknya yang melaju pelan ditengah modernisasi kendaraan bermesin besar. Andong yang masih berseliweran sebagai raja jalanan. Iya, Andong si raja jalanan karena jika andong sudah masuk di suatu jalan, maka kendaraan dibelakangnya harus menurut untuk seritme dengannya tanpa bisa mengklakson. Atau jika ada bisa, salip saja si Andong. Tentu saja karena mengklakson Andong adalah tindakan sia-sia yang tidak akan membuat si Andong bertambah cepat. Proses membatik yang masih menggunakan canting dan malam yang bisa membuat sebuah proses pembuatan satu lembar kain menjadi selama 1 bulan. Bandingkan saja dengan batik printing yang bisa mengeluarkan berlembar-lembar kain dengan 12 warna hanya dalam hitungan jam bahkan menit. Belum lagi tentang Gudeg, si makanan tradisional khas Jogja, yang dalam resep aslinya harusnya dimasak dengan pelan selama 3 hari 3 malam. Gila..!! Memang Jogja itu gila pelannya.</p>
<p>Lalu mengapa sangat &#8220;menjual&#8221; ? Menurut saya karena semua modernitas di dunia sekarang mengacu pada yang katanya kecepatan. Hampir semua teknologi dan inovasi yang dibuat manusia pada dekade ini bertujuan untuk mempercepat semua proses kehidupan. Teknologi yang memendekkan jarak antara satu benua dengan benua lainnya. Semua menjadi serba cepat. Dan “pelan” adalah sebuah konsep yang menabrak semua pakem-pakem inovasi yang sedang berkembang. Ketika semua kota dan negara di dunia memoles Pariwisatanya dengan konsep serba cepat, sigap &amp; trengginas, Jogja justru menjual konsep “pelan”. Sebuah konsep yang bertolak belakang dengan roda pergerakan dunia saat ini. Why ? Karena Pelan adalah Kemewahan Sesungguhnya. Slow Is The Next Luxury.</p>
<p>Ketika orang berpacu dengan waktu, itu dikarenakan karena waktu seolah tidak cukup. 24 jam yang disediakan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan akan waktu. Seorang pegawai akan selalu merasa kekurangan waktu untuk mengerjakan tugas yang dibebankan oleh atasannya. Semakin tinggi jabatan, maka keluangan waktu semakin ada. Bahkan bisa menikmati waktu bersenang-senang di antara aktifitas kantornya. Tentu anda akan makfum ketika seorang direksi akan bisa menikmati golf di jam kantor. Ini karena waktu sudah bisa dinikmati saat orang berada di posisi direksi tadi. Dan di Jogja, perasaan menikmati waktu ini bisa dirasakan kapan saja. Dan di banyak tempat di Jogja.</p>
<p>Pelan itu bukan lambat. Sekali lagi harus dibedakan antara pelan dengan lambat. Pelan adalah menikmati setiap proses pekerjaan dan atau kegiatan yang dilakukan dengan tetap berorientasi pada jadwal. Lambat adalah mengerjakan segala sesuatunya dengan konsep tidak jelas sehingga jadwal pekerjaan atau kegiatan menjadi molor. Bisa anda rasakan toh “soul”nya ?</p>
<p>Jika Anda bisa mengerjakannya dengan pelan, mengapa harus terburu-buru ? Hal ini senada dengan konsep dari ungkapan orang Jogja Alon-Alon Waton Kelakon. Penekanannya itu pada “Waton Kelakon”nya. Bukan pada “Alon-Alon”nya. Waton Kelakon berarti selesai pada tenggat waktu yang sudah disepakati bersama. Sedangkan “Alon-Alon” menyiratkan untuk perlahan-lahan saja. Ungkapan ini sebenarnya adalah ungkapan yang dituturkan oleh orang tua kepada anaknya yang nampaknya sangat terburu-buru dalam setiap pekerjaannya. Pelan-pelan saja sambil menikmati semua proses pekerjaan dan kegiatan sehingga anda bisa benar-benar merasakan hidup. Jika anda ingin melambatkan ritme hidup anda dan merasakan hidup yang benar-benar hidup, maka.. silakan datang ke Jogja. Tanggalkan saja identitas anda di kota asal anda, dan meleburkan bersama alur pelannya Jogja. Anda mungkin akan terkaget-kaget betapa anda sudah banyak melewatkan banyak hal dalam hidup anda yang cepat, yang sebenarnya hanya cukup dengan melambatkan ritme hidup anda untuk menemukan Surga Kecil Kehidupan. Yes.. Slow is the next Luxury… Selow wae Dab</p>
<p>Note : Tulisan ini adalah hasil konsep dari Pak Kafi Kurnia &amp; saudara Mail Sukribo yang dipresentasikan di Rumah Pelantjong untuk kampanye #JogjaSlowlyAsia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=97&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2011/11/21/jogja-slowly-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indahnya Bertauhid</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/indahnya-bertauhid/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/indahnya-bertauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 12:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/indahnya-bertauhid/</guid>
		<description><![CDATA[Tauhid secara mudah diartikan sebagai menuhankan hanya satu Tuhan. Yaitu Allah. Implementasinya ? Kalimat tauhid yang kita kenal adalah La &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/indahnya-bertauhid/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=59&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tauhid secara mudah diartikan sebagai menuhankan hanya satu Tuhan. Yaitu Allah.<br />
Implementasinya ?<br />
Kalimat tauhid yang kita kenal adalah La Ilaha Ilallah.<br />
Dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi tiada Tuhan selain Allah.<br />
Jadi tidak terasa adanya ketinggian dari kalimat ini. Padahal, kalimat ini adalah kalimat awal yang akan diucapkan oleh seorang yang memasuki gerbang muslim saat bersyahadat. Kalimat ini diturunkan langsung oleh Allah. Lalu dimana letak keluarbiasaannya kalau hanya seperti ini ?<br />
Jika kita ingin mengerti ketinggian makna dari kalimat ini, mari kita ikuti tata bahasa dimana kalimat ini berasal. Kita mengikuti tata bahasa Arab ya.<br />
La dalam bahasa arab berarti tidak<br />
Ila dalam bahasa arab mempunyai 3 makna. Yaitu : yang dicintai, yang diharapkan, dan ditakuti.<br />
Jadi dalam bahasa arab, kalimat La Ila saja berarti tidak ada yang pantas dicintai, diharapkan dan ditakuti.<br />
Kalimat ini berarti bahwa selama masih ada yang dicintai, diharapkan dan ditakuti selain Allah, maka cara bertauhidnya masih belum sempurna. Kenapa belum sempurna ?<br />
Ibarat membangun rumah. Jika kita sudah memiliki bangunan lama, kemudian ingin dibangun bangunan baru yang lebih megah dan mewah dengan segala perabotannya, maka bangunan yang lama harus dirubuhkan terlebih dahulu. Dapatkan sebuah rumah mewah menggunakan pondasi dari bangunan lama yang lebih ringan ? Tentu tidak.<br />
Untuk membuat supaya rumah tersebut menjadi sempurna, maka pondasi yang dibangun juga harus menyesuaikan dengan bentuk bangunannya. Jika bangunannya baru, maka pondasinyapun harus baru.<br />
Maka apabila kita ingin menuhankan Allah saja, maka semua yang menjadi &#8220;Ila&#8221; harus dihancurkan.<br />
Apakah Ila itu ? Yaitu segala sesuatu yang membuat hati kita takut, berharap dan mencintainya sedemikian kuat sehingga cemas. Apapun itu. Pernah takut kehilangan dompet ? Itulah Ila. Pernah takut kehilangan handphone ? Itulah Ila. Pernah berharap lulus ujian sampai cemas ? Itulah Ila. Semua yang membuat hati kita menjadi cemas karena takut, takut karena terlalu berharap dan takut karena terlalu mencintai, itu adalah Ila.<br />
Bagaimana menghancurkan Ila sehingga tidak ada lagi Ila selain Ilallah ?<br />
Pernahkah anda mencoba untuk melafadzkan dzikir tersebut di sela waktu-waktu anda tanpa henti ? Seingat anda saja. Dengan mengerti makna dari kalimat tersebut, dan kemudian melafadzkannya (berdzikir), maka anda akan terkejut ketika menemukan betapa mudahnya bertauhid.<br />
Jangan berpikir&#8230; hanya rasakan saja. Karena Allah berbicara melalui hati. Ilham akan datang langsung pada hati anda, tidak melewati pikiran. Ilham akan datang lebih cepat dari kemampuan pikiran manusia. Anda akan mengetahuinya jika sudah datang.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eudea.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eudea.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=59&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/indahnya-bertauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Rasulullah</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/doa-rasulullah/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/doa-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 12:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngecipris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/doa-rasulullah/</guid>
		<description><![CDATA[Allahumma arinal haqqa haqqan warzuq nattiba’ah wa arinal batila batilan warzuqnajtinabah Ya Allah, tampakkan kepada kami yang baik itu baik, &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/doa-rasulullah/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=58&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Allahumma arinal haqqa haqqan warzuq nattiba’ah wa arinal batila batilan warzuqnajtinabah</em></strong></p>
<p>Ya Allah, tampakkan kepada kami yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya.</p>
<p>Ya Allah, semoga Engkau tunjukkan kepada kami mana yang benar dan mana yang salah. Dan kuatkan hati kami menuju pada yang benar. Amien ya robbal aalamiin.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eudea.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eudea.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=58&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2007/12/18/doa-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Finalis Lomba Kaos Detikinet</title>
		<link>http://eudea.wordpress.com/2007/09/21/pengumuman-finalis-lomba-kaos-detikinet/</link>
		<comments>http://eudea.wordpress.com/2007/09/21/pengumuman-finalis-lomba-kaos-detikinet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 00:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eudea</dc:creator>
				<category><![CDATA[nggambar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eudea.wordpress.com/2007/09/21/pengumuman-finalis-lomba-kaos-detikinet/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah hampir dua bulan menunggu dengan penuh harap-harap cemas, kini diumumkan finalis lomba kaos detikinet. Finalisnya berjumlah 7 desain. Linknya &#8230;<p><a href="http://eudea.wordpress.com/2007/09/21/pengumuman-finalis-lomba-kaos-detikinet/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=50&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah hampir dua bulan menunggu dengan penuh harap-harap cemas, kini diumumkan finalis lomba kaos detikinet. Finalisnya berjumlah 7 desain. Linknya ada disini ya</p>
<p><a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/20/time/114659/idnews/832320/idkanal/398" title="Finalis Lomba Kaos Detikinet">Lomba Kaos Detikinet</a></p>
<p>Dan maaf, ternyata desain saya tidak termasuk sama sekali dalam finalis-finalis tersebut.  Hehehehe..</p>
<p>Jelas donk. Jika dilihat dari sisi materi, teknis dan filosofi, ternyata desain saya jauh dari kesan original, unik dan different. Silakan dicermati betapa finalis-finalis desain kaos ini luar biasa uniknya plus digarap dengan sedemikian tinggi teknis gambarnya. Sehingga outputnya pun tentu jadi maksimal.</p>
<p>Hal ini mengingatkan saya pada satu hal yang kemarin disampaikan ustadz Satory di acara pengajian harian ramadhan di Daarut Sholihah.</p>
<p>&#8220;Sebagian dari keberhasilan di akhir suatu aktifitas ditentukan di awal dengan berserah di kepada Allah&#8221;</p>
<p>Dan bila direnungkan, memang pada waktu membuat desain ini kemarin, saya terlalu overconfident. Terlalu pede. Tidak ada tawakalnya kepada Allah. Dan Allah tentu saja menegur saya dengan cara yang bijak. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan lagi padaku untuk memperbaiki caraku memulai suatu aktifitas. Amien.</p>
<p>So.. Skarang.. Saatnya memilih finalis-finalis tersebut. Mana yang anda pilih ?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eudea.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eudea.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eudea.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eudea.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eudea.wordpress.com&amp;blog=1321828&amp;post=50&amp;subd=eudea&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eudea.wordpress.com/2007/09/21/pengumuman-finalis-lomba-kaos-detikinet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7a29477f890df21d74e0c0805960a69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eudea</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
