eudeart
Just another WordPress.com weblogArchive for February, 2008
Untukmu Mutiara Hati..
Kekasihku tercinta,
Suatu hari kau akan berkelana di dunia maya. Entah sengaja, atau tidak. Dan mungkin engkau akan bertemu dengan tulisan ini.
Semoga saat kau membaca tulisan ini kabarmu baik-baik saja. Dan semoga semua berjalan sesuai dengan apa yang engkau inginkan.
Aku hanya ingin bercerita suatu pada suatu titik dalam hidupku ketika aku merasa harus menulis ini. Tulisan ini memang untukmu.
Hidup ini bagaikan air sungai yang mengalir. Airnya kadang akan bertemu dengan batuan kecil, sehingga akan menerjangnya. Kadang akan bertemu jurang sehingga mengisi ruang kosongnya sampai penuh dan kemudian akan terus mengalir lagi. Atau bertemu tebing sehingga alirannya terbelah. Tapi dia akan tetap mengalir menuju muaranya di ujung lautan.
Hidupmu akan terus mengalir dan waktu bukanlah sesuatu yang kita miliki. Dia akan terus bergulir hingga kemudian tak akan ada waktu kembali. Tapi pastikan kamu sudah melakukan yang terbaik hingga suatu saat nanti, jika kau sudah tua dan duduk di beranda bersama orang-orang yang paling engkau cintai, engkau dapat bercerita bahwa hidupmu penuh gairah. Tak ada satupun yang engkau sesali. Karena engkau sudah mencoba segalanya tanpa pernah takut gagal. Dan kau terus berpegang pada cita-cita dan keyakinan akan kekuatan cinta.
Cinta.. dia adalah kekuatan terbesar di dunia. Karena seluruh alam semesta diciptakan atas dasar cinta. Cinta Tuhan adalah cinta yang abadi. Namun dia menitipkannya di dalam hatimu. Dia juga menitipkan alat untuk berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh seluruh alam semesta. Bahasa yang tidak terucapkan. Bahasa cinta.
Hidupmu akan terus berjalan seperti angin. Terkadang pelan, terkadang cepat. Terkadang harus bertemu gunung, kadang harus bertemu lembah. Tapi dia tetap berjalan menuju arah yang pasti. Engkaulah sang penentu arah. Kemana arah hidupmu, adalah engkau yang menentukan. Takdir bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Karena takdir adalah sesuatu yang engkau kejar dan raih. Cita-cita adalah kekuatan yang mendorongmu mencapai mimpi dan kebahagiaanmu.
Jika suatu saat engkau terbangun dari tidurmu. Menangis karena bingung harus bagaimana. Atau jika suatu saat engkau merasa hidupmu berhenti. Cobalah untuk bertanya pada hatimu. Hati adalah tempat Tuhan bertahta. Dia bersabda melalui hati. Hati selalu berkata jujur. Dengarkan dengan seksama. Jangan gunakan akal dan segera lakukan apa yang hatimu inginkan. Jangan takut, karena hati selalu jujur.
Hati akan menuntunmu pada tempat yang engkau tak pernah ketahui. Terkadang mengejutkan, tapi dia adalah tempat yang ditakdirkan untukmu. Maka lakukanlah dan berjalanlah.
Aku titipkan kasihku pada angin. Kutitipkan cintaku pada cahaya rembulan dan matahari.
PS : aku merindukanmu dalam setiap tarikan napasku.
Tentang Sampul Buku
Zahirku.. Ijinkan aku bercerita tentang sampul buku.
Pada awalnya saat keluar dari percetakan, sampul buku masih bertaut. Keduanya bersatu dan saling melindungi bagian dalamnya. Seluruhnya bekerja sama dalam harmoni yang indah.
Kemudian sang penyair datang dan membuka buku tersebut. Kedua sampul terpisah sejauh kemungkinan.
Sang menyair menuliskan kata-kata indah dan puisi sejuk di dalam halamannya. Sesekali merenung dan menggumam. Sesekali menulis lagi. Tapi buku itu tidak pernah tertutup. Sang sampul buku pun tidak pernah bertaut.
Halaman terakhir dari buku itu selesai. Sang penyair memandang puas. Dibolak-baliknya buku itu. Dan akhirnya buku itu ditutup. Menjadi sebuah buku puisi yang indah dan bermakna. Sang sampul pun bertaut lagi. Mereka bertemu lagi dalam keabadian.
Itulah kita, terpisah jarak, waktu dan kejadian. Bukan karena keinginan, tapi karena memang ditakdirkan berpisah. Yakinlah ini hanya sementara. Karena buku pasti selesai. Hujan pasti berhenti. Dan matahari akan bersinar lagi.
Bagiku, engkau sudah menjadi kekasihku, istriku, ibuku, kakakku, adikku dan sahabatku. Maka kita akan bertemu lagi entah disini, atau disana.
Dan aku selalu menunggumu di Ithaca. Di padang rumput sunyi yang indah. Bersama mentari dan langit yang selalu biru. Karena engkau adalah Zahir bagiku. Dan aku yakin demikian pula aku bagimu…
Menjadi Lilin
Ayah.. Bagaimana mencintai dengan benar ?
Anakku.. Untuk mencintai dengan benar, jadilah seperti lilin… Biarkan cahayamu menerangi hatinya dan menerangi setiap hari-hari yang dilaluinya walaupun itu memakan habis seluruh dirimu.. Itulah makna cinta sejati
Ayah.. Apakah lilin tidak berharap sama sekali ?
Anakkku.. Apakah lilin pernah menolak saat engkau nyalakan dia ?
Ayah.. Bagaimana jika aku menjadi lilin tapi yang memegangku orang buta ?
Anakku.. Sekalipun dia buta, dia akan merasakan hangatnya cahayamu di tangannya. Usah kau risau bahwa dia tidak mengerti. Sekalipun orang buta, dia akan tetap merasakan keberadaanmu di hari-harinya lewat hangatnya sinarmu..
Ayah.. setiap lilin tentu ada waktunya habis. Jika sudah cintaku sudah habis, lalu bagaimana ? Bukankah mereka jadi tidak bisa merasakan cintaku lagi ?
Anakku.. kali ini aku tidak bisa menjawab. Hanya dirimu yang bisa menjawab, selama apa engkau akan berpijar sebagai lilin ?…


