eudeart

Just another WordPress.com weblog

Mengambil Hikmah Kehidupan dalam 2 Hari Ini

 me-and-nurul.jpg

Seorang teman datang jauh-jauh dari Jakarta untuk membantuku mengatasi problem yang sudah menggantung selama 3 bulan lebih ini. Banyak nasehat yang disampaikan yang membuatku melihat di luar dari problem yang aku alami. Banyak cerita yang ternyata membuatku mampu melihat ada hal baik dalam setiap kejadian. Bahkan dalam keterpurukan sekalipun. Beberapa di antaranya akan kuceritakan ulang.

Pasca gempa setahun silam di Jateng dan DIY. Beliau sedang berada di Klaten untuk membantu korban gempa. Hari ke 5 pasca gempa. Pagi-pagi dan sedang berusaha untuk sarapan dari roti bakeri seharga 1000 rupiah yang rasanya sudah agak telat masa kadaluarsanya. Baru 2 gigit dan terasa bahwa roti tersebut sudah agak apek. Tiba-tiba datang seorang anak kecil dan bertanya “Bapak makan apa ?”. Beliau kemudian memandang anak kecil tersebut dan mengangsurkan roti tersebut. “Kamu mau?”. Dia mengangguk kecil. Kemudian dia memanggil teman-teman bermainnya yang berjumlah 10 orang. Ucapnya kala itu “Ojo akeh-akeh yo, ben komanan kabeh“. Jangan banyak-banyak ya, biar kebagian semua. Apakah anda pernah bayangkan berbagi roti kecil seukuran diameter 10 cm dengan 10 orang sahabat anda ? Bahkan roti tersebut sempat akan dibuang karena sudah bau apek. Apa anda tahu bahwa anak kecil tersebut baru saja kehilangan seluruh anggota keluarganya ? Dia tidak menangis, tidak bersedih, dan kemudian dia bermain lagi dengan teman-temannya.

Anak ini adalah gambaran tentang kekuatan ikhlas dan kemauan untuk memilih. Dia memilih untuk melangkah ke depan dan menjadikan yang sudah lewat sebagai sebuah hikmah yang harus diambil tapi tidak menjadikannya sebagai beban dan alasan untuk bersedih terus menerus. Cerita ini menegur saya untuk berhentilah menyakiti diri sendiri. Bangkitlah dan melangkahlah. Kamu bisa menjadi lebih baik dengan berusaha. Kamu bisa menunjukkan pada orang yang kamu sayangi bahwa kamu bisa berubah.

Masih di daerah gempa. Daerah lain di Klaten. Beliau lagi-lagi sedang makan. Kali ini snack ringan model stik. Bisa anda bayangkan seperti apa bentuknya. Harganya dalam rupiah tak lebih dari 1500 kalo tidak salah. Seorang ibu tua sedang melihat beliau. Beliau mengangsurkan snack tersebut. Dan ibu tersebut mengambil. Tapi hanya 3 batang. Kemudian disimpannya dibalik stagen yang dipakainya. “Kok ndak dimakan bu ?” “Saya sudah kenyang kok pak.. ini buat nanti saja” Apakah anda pernah merasa cukup dengan 3 batang stik snack ? Ibu itu hanya mengambil apa yang dia butuhkan saja. Tidak lebih. Biarlah sisanya untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Ibu ini adalah sebuah gambaran betapa kita sering serakah untuk mengambil lebih dari yang kita butuhkan tanpa melihat orang lain. Betapa egoisnya kita jika hanya melihat dari sisi kita sedangkan kita tidak melihat orang lain. Cerita ini mengingatkan saya untuk cobalah mengerti akan kebutuhan dan keinginan orang lain. Bukan dari sisimu semata, tapi dari cara mereka melihatmu. Tanyakan jika kamu tidak mengerti. Jangan menganggap dia akan mengerti maksudmu kita kamu diam. Dan jangan menganggap diam itu berarti menerima. Tanyakan dengan jelas maksudnya, agar kamu mengerti apa yang dia inginkan dan rasanya

Seorang ibu penjual di Pasar Beringharjo Jogjakarta. Setiap hari harus berjalan 10 kilometer untuk berjualan dan mengantungi keuntungan tak lebih dari 10 ribu per hari. Pakaiannyapun hanya 2 pasang. 1 untuk berjualan, dan 1 untuk di rumah. Tahukah anda bahwa ibu penjual ini mempunyai 5 orang anak yang 4 di antaranya bergelar Doktor dan 1 orang lagi baru saja lulus Fakultas Kedokteran sebuah Universitas terkemuka di Jogjakarta ? Beliau memilih untuk tidak memberatkan anak-anaknya dan tetap bekerja, karena dia ingin menghargai hidupnya. Inilah caranya untuk tetap bersyukur atas karunia Allah padanya.

Ketiga cerita tersebut di atas adalah kisah-kisah orang-orang yang tidak menyerah. Masalah akan selalu datang dalam kehidupan kita. Pilihan kita adalah lari dari masalah atau menghadapinya. Dan orang yang lari dari masalah tidak akan pernah dapat bahagia karena akan selalu dikejar oleh masalah tersebut. Dan orang yang menghadapi masalahnya akan menjadi orang yang belajar. Belajar dari kesalahan dan kemudian melangkah menuju hal yang lebih baik.

Kemarin aku mengalami 2 pernikahan. Dengan 3 kejadian. Pernikahan pertama adalah pernikahan di masjid kampus saat tidak sengaja aku sedang ingin sholat dhuhur di masjid kampus sebelum datang ke perhelatan pernikahan seorang rekan.

Tampak berbahagia sekali pasangan yang baru menikah tersebut. Air mata tidak henti-hentinya menetes dari kedua mempelai. Mereka baru saja mengambil keputusan berat untuk menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).

Saat seorang muslim laki-laki atau perempuan memutuskan untuk menikah, berarti dia siap berikrar di depan Allah untuk memasuki sebuah fase yang tidak dia ketahui sama sekali akan seperti apa dan hanya berharap kepada Allah atas pertolonganNya untuk menjaganya. Mereka memilih untuk keluar dari comfort zone yang selama ini mereka alami di dalam keluarga untuk kemudian berikhtiar dengan ikhlas kepada Allah tentang apa yang akan mereka terima dan akan mereka lakukan. Ibarat akan nyemplung ke dalam lubang yang gelap, kita tidak tahu seberapa dalam lubangnya, dan apa yang akan menyambut kita di dalam lubang itu. Kita hanya bisa berharap akan janji Allah untuk selalu memberi kebahagian pada umatnya yang menikah. Dan Allah Maha Menepati Janji.

2 kejadian berikutnya adalah di acara perhelatan pernikahan rekan saya. Salah seorang tamunya adalah sahabat beliau. Dan saya banyak berbincang-bincang. Dari beliaulah saya mengetahui bahwa rekan saya ini menikah untuk kedua kalinya.

“Oh.. ini yang kedua toh mas.. Saya ndak tau jeh”

“Iya.. ini yang kedua kalinya. Jodoh memang susah ditebak. Bukan ilmu matematika”

“Matematikanya Tuhan kan memang tidak sama dengan matematikanya manusia Mas”

“Iya, maunya kita sih jodohnya cuma sekali.. Tapi kadang kenyataan berkata lain”

“Maksudnya mas ?”

“Saya juga sudah mengalaminya kok Yud, saya juga sudah bercerai”

Dan saya kemudian terdiam …. Dalam hati saya berkata. Efek cerai itu sedemikian parahnya. Nampak betapa beratnya saat dia mengatakan saya sudah bercerai. Benar sekali kata teman saya. Paling susah dalam menjaga hubungan adalah untuk tidak terucap kata cerai atau putus. “Jangan sekali-kali terucap kata itu, karena bila kemudian terucap, maka hubungan itu jadi tidak bermakna lagi. Jika ada masalah lagi, maka akan muncul kata-kata itu lagi.. dan lagi …” Begitu kata teman saya tersebut.

Tindakan yang halal tapi paling Allah benci adalah bercerai. Karena efeknya ternyata akan sangat luar biasa. Baik bagi kedua belah pihak. Akan sangat tersakiti yang akan dibawa sampai mati. Dan akan merapuhkan kepribadian yang mengalaminya.

Kita bisa memilih… Sungguh kita bisa memilih. Apakah mau menjadikan masa lalu sebagai cara memperbaiki diri dan melangkah lagi, ataukah menjadikan masa lalu sebagai beban yang akan terus kita hindari. Pilihlah dengan bijak. Karena saya, anda, dan kita semua berhak bahagia…

Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Berusahalah melakukan yang terbaik hari ini. Apapun hasilnya, kita sudah berusaha.

PS : Cerita ini belum berakhir, karena ini barulah awal dari sebuah proses perbaikan diri setelah 100 hari menderita dan menderitakan diri. Mungkin inilah cara Allah memanggil, memperbaiki dan menyiapkanku menjadi manusia yang lebih baik.

No comments yet »

Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>