eudeart

Just another WordPress.com weblog

Archive for August 31, 2007

Belajar Ridha

QS. Al Fajr Ayat 27 – 30

al-fajr.png

[27] Hai jiwa yang tenang. [28] Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. [29] Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, [30] dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Nafsun Muthmainah, wahai jiwa-jiwa yang tenang. Ya Allah, semoga Engkau jadikan aku salah satu dari hamba-hambaMu dengan jiwa yang tenang. Aku ingin kembali kepadaMu ya Allah. Dengan ridho dan Engkau ridhoi aku.

Ridho. Yup. Ridho. Apa itu ridha ? Sekali lagi ini sebuah pelajaran yang saya ambil dari pengajian di Daarul Shalihah bersama ustadz Satory. Kamis sore kemarin. Membahas tangga menuju iman yang ke 8. Yaitu ridho.

Ridha kemudian didefinisikan sebagai kesukacitaan menerima kepahitan yang diberikan Allah. La apa iya ? Masak pahit trus bersuka cita ? Apa ndak salah kaprah ? Nanti apa malah ndak dikira orang gila ?

Kesukacitaan itu wujud dari sebuah harapan dan keikhlasan kepada Allah. Sungguh semua kejadian di dunia ini adalah kehendak dan atas ijinMu ya Allah. Dan aku yakin Engkau memiliki rencana atasku. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sungguh semua ini adalah milik Allah dan Allah adalah tempatku kembali. Kata-kata itu tidak hanya ditujukan jika ada orang meninggal. Tapi lebih tepat disebutkan sebagai sebuah sikap mental dalam menghadapi segala sesuatu di dunia. Baik senang maupun susah. Semuanya adalah milik Allah. Semua hidupku, matiku dan ibadahku adalah untukmu ya Allah. Kami hanya hambaMu. Dan kami akan tunduk pada semua keinginanMu akan kami.

Ridha dibagi menjadi 4 kriteria besar dan pembahasan.

1. Ridho atas musibah atau ujian yang sudah terjadi. Dengan cara berusaha untuk keluar dari musibah itu dengan jalan ikhtiyar. Inilah yang membedakan sebuah ridha dengan putus asa. Putus asa akan berhenti pada titik saat beban itu dirasakan berat. Ridha, akan terus mencoba pada beban tersebut sampai akhir (sampai Allah memanggil kita bila memang memungkinkan). Ikhtiyar tiada henti adalah bukti ridha kita atas keputusan Allah. Melamar pertama di tolak ? Ikhtiyar. Memperbaiki diri, kemudian lamar lagi. Sampai 100 kali ditolak pun tak apa. Demikian canda ustadz Satory. Wew..

2. Ridho atas musibah atau ujian Allah yang mungkin akan terjadi. Dengan cara mempersiapkan diri untuk menerima ujian tersebut. Ibarat pepatah sedia payung sebelum hujan. Saat cuaca mendung, kemudian tidak membawa payung saat bepergian. “Ya kalo Allah ridha, kehujanan pun tak apa, tidak sakit juga. Kalo Allah ridha.” Dengan alasan seperti ini, namanya bukan ridho, tapi cari penyakit.

3. Ridho atas anugerah atau rejeki Allah yang sudah terjadi. Dengan cara menggunakannya rejeki tersebut secukupnya, dan mengembalikan sisanya kepada Allah. Ibarat seorang ibu memberikan uang saku kepada anaknya 5000 rupiah di pagi hari. Sore harinya sang anak berkata. “Bunda, tadi aku jajan habis 2000. Ini sisanya aku kembalikan ke bunda.” Kira-kira besoknya apakah uang saku anak tersebut dikurangi, ditambah, atau tetap ? Kemungkinan besar ditambah. Seorang ibu pasti akan berpikir “Inilah anakku yang sangat ridha padaku, dan aku pun ridha kepadanya, aku tambah uang sakunya, toh nanti jika berlebih akan dikembalikannya padaku.” Demikian juga analogi tersebut kepada Allah. Allah akan menambah nikmat kita jika kita hanya mengambil seperlunya, dan mengembalikannya kepada Allah sisanya.

4. Ridho atas anugerah atau rejeki Allah yang mungkin terjadi. Dengan cara menunggunya dengan mengamalkan amalan dan perbuatan yang paling di sukai Allah. Jika seorang pedagang ingin dagangannya laku, apa yang kira-kira dia lakukan ? Memperbaiki tatanan dagangannya, atau malah ongkang-ongkang kaki ? Tentu memperbaiki tatanan dagangannya bukan ? Supaya orang tertarik untuk membeli. Demikian pula dengan Allah. Saat kita menunggu rahmat dan rejekinya, barokah dan hidayahnya, mari kita songsong dengan memperbaiki amalan dan ibadah kita. Supaya Allah ridha saat memberikan anugerahnya tersebut. Jika seorang pedagang memaksa seseorang membeli dagangannya, bisa jadi orang tersebut membeli, tapi pasti tidak dengan ridho. Besar kemungkinan saat membeli, barang tersebut kemudian dibuang di depan sang pedagang. Demikian juga dengan Allah. Jika kita memohon kepada Allah, tapi masih melakukan perbuatan yang dibenci Allah, bisa jadi Allah memberikan permohonan kita, tapi bukan dengan ridha, tapi sebuah bentuk kebencian Allah kepada kita. Naudzubillah.. Ya Allah, semoga saat aku menerima anugerahmu kelak, itu bukan bentuk kebencianmu kepadaku ya Allah. Ampuni dosa-dosaku ya Allah.

Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari dari sekarang. Semoga saat itu kita bisa memohon semua yang terbaik untuk kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai, dengan amalan-amalan terbaik yang dicintaiNya. Ya Allah, semoga Engkau pertemukan kami dengan bulanMu yang mulia. Bulan Ramadhan tercinta. Agar kami bisa memohon ampun atas dosa kami selama ini, bermunajat kepadamu, dan mendekatkan diri kami yang hina ini kepadaMu. Dan belajar ridhaMu dalam semua keputusanMu atas kami. Amien ya robbal alamin..