eudeart
Just another WordPress.com weblogArchive for August 18, 2007
Mencari Arti Kebebasan
Kemarin, tanggal 17 Agustus 2007, Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke 62. Banyak komentar yang menyatakan bahwa kita sudah merdeka, tapi apa benar-benar kita sudah merdeka ?
Merdeka atau dengan kata lain bebas. Bebas sebebas-bebasnya.
Apa sebenarnya makna kebebasan ?
Pengajian hari Kamis lalu bersama ustadz Satori di Daarul Sholihat menyatakan hal ini. Apa arti kemerdekaan bagi seorang manusia. Apakah bisa dia benar-benar bebas ? Apa konsep bebas itu sebenarnya ?
Kita mulai dengan pembahasan status. Manusia mempunyai status yang melekat pada dirinya. Status ini akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungan, kondisi dan person yang ditemui. Ini gambarannya : seorang lelaki yang menjadi kepada bagian di kantornya, akan memperkenalkan diri sebagai seorang kepala bagian jika itu berkaitan dengan pekerjaan atau lingkungan sosialnya. Kepala bagian itu adalah status yang melekat di dirinya. Namun, ketika dia tiba di rumah, bagi istrinya, dia itu suami. Statusnya berubah menjadi suami. Tidak bisa lagi menggunakan status kepala bagian di hadapan istrinya. Demikian pula di hadapan putra-putrinya. Ia berubah status lagi menjadi ayah. Personnya sama, tapi statusnya berubah.
Pertanyaan berikutnya, apa status kita di hadapan Allah ? Dengan semangat dan jelas, tentu kita akan menjawab, kita ini hamba Allah. Apa benar ? Apakah definisi hamba itu ?
Hamba. Bisa dikatakan juga sebagai budak. Hanya berniat mengikuti perintah dari Maula (Tuannya). Jika ia di suruh membeli baju di pasar berwarna hijau, ya dia akan ikuti. Tidak lantas protes dan membeli baju warna merah. Karena dia hanya hamba. Sampai di sini, mulai keringat dingin mengucur di dahi saya. Betapa banyak perintah Allah yang saya bantah, tidak saya lakukan bahkan saya tolak. Apa saya masih bisa disebut hamba Allah ? Astaghfirullah hal adziieem..
Allah mengaruniakan kita dua kecenderungan. Saat kita lahir pun kita diberikan dua kecenderungan. Seperti disabdakan di Surah Asy Syams ayat 7 – 10
wanafsin wamaa sawwaahaa
[91:7] dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa
[91:8] maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
qad aflaha man zakkaahaa
[91:9] sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
waqad khaaba man dassaahaa
[91:10] dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Allah memberikan kecendurangan kepada jiwa kita yaitu kefasikan (keburukan) dan ketaqwaan. Bisa saja Allah memberikan kebaikan saja pada hati kita. Ketaqwaan saja. Tapi apa artinya ? Taqwa akan disebut taqwa jika ada pembandingnya yaitu fasik. Seperti halnya putih akan nampak putih jika ada pembandingnya yaitu hitam. Dua pertentangan ini akan selalu ada di dalam manusia. Manakah yang akan menang ? Semua tergantung pada bagian mana manusia memberi “makan”. Saat ia lebih banyak mengumbar nafsu duniawinya, hasilnya tentu akan bisa ditebak. Kefasikan akan lebih banyak bermukim di hatinya. Dan sebaliknya, saat ia lebih banyak mengingat Allah, Insyaallah akan lebih banyak sifat taqwa yang datang.
Sampai disini saya masih belum bisa menerima apa artinya kemerdekaan. Apa artinya bebas jika dikaitkan dengan rangkaian di atas. Masih gamang hati saya. Saya belum tahu makna merdekanya dimana. Sayang, pengajian harus berakhir karena adzan maghrib akan segera berkumandang.
Setelah sholat Maghrib, saya membuka buku Berguru kepada Allah karangan Ustadz Abu Sangkan. Ada hal yang menarik hati saya. Jika kita merasa sedih, gelisah atau merasa kesal terhadap sesuatu. Saat kita merasa kecewa. Saat rasanya semua orang ingin mengatur kita dan kita ingin merasa bebas. Apa yang ingin kita rasakan ? Kita ingin berteriak. Kita ingin mengeluarkan sesuatu dari dada kita. Kita ingin merasa tenang. Apa itu yang ingin kita keluarkan ? Siapa yang ingin keluar ?
Itulah ruh kita. Itulah esensi hidup kita yang ingin keluar dari tubuh kita. Ruh kita ingin merasa tenang. Dia ingin kembali ke Allah. Dia ingin kembali kepada penciptanya yang Maha Tenang. Dia ingin kebahagiaan. Dia ingin terbebas dari beban-beban yang menghimpitnya. Dia benar-benar ingin kembali kepada Allah. Karena hanya Dia yang mampu memberikan kebahagiaan dan kebebasan kepada ruh kita.
Ternyata, merdeka berarti kembali kepada Allah. Ruh kita sendiri yang meminta. Tanyakan pada ruh kita sendiri. Saat sebelum sholat. Pegang hati kita, dada kita. Katakan perlahan. “Wahai ruh… apakah yang engkau inginkan itu kembali ke Allah ?”. Dengarkan perlahan-lahan kata ruh kita. Jawabannya tentu kita tahu.
Maka dirikanlah sholat. Benar-benar didirikan. Karena sholat pada hakekatnya adalah komunikasi kita kepada Allah. Secara individu. Sangat personal. Kita akan dapat berdialog dengan Allah. Tanyakan saja apa yang harus kita lakukan pada Allah saat sujud. Nikmati saja proses sujud yang lama itu. Proses sholat seharusnya memang tidak cepat. Pelan dan nikmati saja saat sujud. Saat kita mengakui kebesaran Allah dan mengagungkannya. Saat itulah Allah paling dekat dengan hambanya. Saat wajah menyentuh tanah tempat kita berjalan.
Subhana robbial a’la wabi hamdih.
Bacalah 3 kali. Perlahan saja. Nikmati setiap katanya. Setelah itu, silakan bertanya kepada Allah apa yang kita ingin ketahui. Perlahan pula. Tapi yakinlah, bahwa Allah akan menjawab. Dia akan menjawab dengan caraNya. Bagi saya, jawabannya bisa jadi dada terasa sangat lapang, bisa pula bisikan dalam hati saya. Jelas dan tenang.
Apakah saya sudah merasa merdeka ? Wallahu alam. Saya tidak tahu apakah saya sudah merdeka juga ? Yang saya tahu, saya cuma merasa ingin dekat dengan Tuhan saya. Saya ingin kembali padanya setiap waktu. Saya ingin merasakan damai dan tentram saat berada di dalam rumahNya. Saya ingin berkomunikasi dengannya. Saya cuma ingin dekat denganNya. Bagi saya itu sudah cukup. Saya tidak merasa perlu merdeka untuk bisa melakukan apa yang saya inginkan. Karena keinginan saya kini hanya satu. Dekat dengan Allah. Apa perintahnya, ingin saya lakukan semampu saya. Mungkin tidak sempurna. Tapi ternyata Allah maha Mengetahui, tidak pula Dia memaksakan di luar kemampuan saya. Saat saya mengadu saya tidak mampu, Dia pun tersenyum. Memeluk saya dengan hangat. Melebarkan hati dan dada saya. Sungguh Dia maha mengerti.
Dan kini saya bisa mengatakan. Saya punya Allah.
As hadu Allah illaha illallah. Wa as hadu ana Muhammadar rasulullah.


