eudeart

Just another WordPress.com weblog

Ayahku Dementia

Sudah beberapa saat ini aku merasa Papa mulai kurang dalam mengingat. Mulai hal-hal kecil seperti tempat kacamata, handphone dan kunci mobil. Sampai hal-hal besar seperti jadwal kedatangan Mme. Pauline dari Perancis. Aku tidak tega menyebutnya dengan kata kasar itu. Dia ayahku. Orang yang paling aku banggakan. Orang yang menjadi panutanku dalam bertingkah laku. Aku menyebut gejala ini sebagai Dementia.

Diperoleh dari Wikipedia.

Dementia (from Latin de- “apart, away” + mens (genitive mentis) “mind”) is the progressive decline in cognitive function due to damage or disease in the brain beyond what might be expected from normal aging.

Dementia berarti kurang lebih adalah proses penurunkan fungsi kognitif karena kerusakan area otak, atau penyakit atau karena gejala penuaan.

Umur papa memang sudah tidak muda, sudah di atas 50. Namun gejala ini mulai sangat terasa pasca serangan diabetes papa hampir setahun yang lalu kala lebaran. Liburan Lebaran yang biasanya disibukkan dengan kedatangan saudara-saudara ke rumah, pada waktu itu kami sekeluarga justru berkutat dengan sakitnya papa. Berusaha tabah menerima kabar bahwa papa yang perkasa dan selalu sigap menjadi kepala rumah tangga, menderita diabetes. Betapa beban psikis tentang esok menjadi beban bagi kami sekeluarga. Terutama papa. Terbayang betapa sulitnya papa menerima vonis diabetes ini. Sungguh, kami tidak mencari penyakit, kami berusaha hidup sehat. Namun Allah menentukan takdir lain. Pasti ada hikmahnya. Salah satunya mungkin supaya kami diingatkan untuk kembali ke rumahNya. Memperbaiki keluarga kami sendiri. Yang kadang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Dan proses itu masih berjalan hingga kini. Semoga kami bisa menjadi keluarga yang lebih baik. Semoga aku bisa mulai menggeser peran dan membantu tanggung jawab Papa. Semoga Allah meridhoi.

Saat papa di rumah sakit itu pulalah, pertama kali aku membawa Genduk bertemu mama papa. Setelah 2 tahun lebih berjibaku dengan hati dan keragu-raguanku. Aku memutuskan untuk membawa Genduk bertemu mama papa. Teringat jelas betapa Genduk malu-malu saat itu. Sungkan dan jengah. Huff… memang salahku. Terlalu lama aku berkutat dalam keragu-raguan ini. Apakah Genduk orangnya ? Itu pertanyaan dalam hatiku setiap saat. Sifatku yang sering menunda sesuatu menjadi masalah besar kali ini. Nanti sajalah. Nanti.. Nanti… Nanti..

Kini, hanya bayang Genduk saja yang tertinggal. Seandainya aku lebih cepat. Namun aku tak kuasa memutar waktu. Kini aku tak bisa bertanya lagi tentang masalah papa. Bagaimana menghadapi Dementia Papa. Aku berlari sendiri.. sendiri.. Sungguh aku merindukannya. Aku merindukan Genduk. Semuanya… semua tentangnya adalah indah. Dia karuniaNya untukku.

Ya Allah. Sungguh hamba makhluk yang dzalim. Menyakiti diri sendiri. Tidak menjaga amanahmu. Ujian kali ini berat sekali untukku. Kuserahkan nasibmu padaMu. Hanya kepadamu aku memohon. Jika semua ini adalah ijinMu. Namun jika boleh kulo nyuwun kepadaMu. Aku ingin kembali padanya. Pada Genduk. Jika dia mau memaafkanku (untuk yang kesekian kali).

2 Comments »

  hio wrote @

sik sabar yo le……:)

iya kang. semoga ayahku bisa sembuh.

  kecowakmanja wrote @

mas’e akhir-akhir ini kok banyak masalah ye?

bukan masalah, cuma sedang diingatkan untuk kembali kepadaNya. mudah-mudahan semua ini berarti Dia masih sayang sama saya. dan semoga ini bukan adzabnya. amien.


Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>