eudeart
Just another WordPress.com weblogArchive for August, 2007
Belajar Ridha
QS. Al Fajr Ayat 27 – 30
[27] Hai jiwa yang tenang. [28] Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. [29] Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, [30] dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Nafsun Muthmainah, wahai jiwa-jiwa yang tenang. Ya Allah, semoga Engkau jadikan aku salah satu dari hamba-hambaMu dengan jiwa yang tenang. Aku ingin kembali kepadaMu ya Allah. Dengan ridho dan Engkau ridhoi aku.
Ridho. Yup. Ridho. Apa itu ridha ? Sekali lagi ini sebuah pelajaran yang saya ambil dari pengajian di Daarul Shalihah bersama ustadz Satory. Kamis sore kemarin. Membahas tangga menuju iman yang ke 8. Yaitu ridho.
Ridha kemudian didefinisikan sebagai kesukacitaan menerima kepahitan yang diberikan Allah. La apa iya ? Masak pahit trus bersuka cita ? Apa ndak salah kaprah ? Nanti apa malah ndak dikira orang gila ?
Kesukacitaan itu wujud dari sebuah harapan dan keikhlasan kepada Allah. Sungguh semua kejadian di dunia ini adalah kehendak dan atas ijinMu ya Allah. Dan aku yakin Engkau memiliki rencana atasku. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sungguh semua ini adalah milik Allah dan Allah adalah tempatku kembali. Kata-kata itu tidak hanya ditujukan jika ada orang meninggal. Tapi lebih tepat disebutkan sebagai sebuah sikap mental dalam menghadapi segala sesuatu di dunia. Baik senang maupun susah. Semuanya adalah milik Allah. Semua hidupku, matiku dan ibadahku adalah untukmu ya Allah. Kami hanya hambaMu. Dan kami akan tunduk pada semua keinginanMu akan kami.
Ridha dibagi menjadi 4 kriteria besar dan pembahasan.
1. Ridho atas musibah atau ujian yang sudah terjadi. Dengan cara berusaha untuk keluar dari musibah itu dengan jalan ikhtiyar. Inilah yang membedakan sebuah ridha dengan putus asa. Putus asa akan berhenti pada titik saat beban itu dirasakan berat. Ridha, akan terus mencoba pada beban tersebut sampai akhir (sampai Allah memanggil kita bila memang memungkinkan). Ikhtiyar tiada henti adalah bukti ridha kita atas keputusan Allah. Melamar pertama di tolak ? Ikhtiyar. Memperbaiki diri, kemudian lamar lagi. Sampai 100 kali ditolak pun tak apa. Demikian canda ustadz Satory. Wew..
2. Ridho atas musibah atau ujian Allah yang mungkin akan terjadi. Dengan cara mempersiapkan diri untuk menerima ujian tersebut. Ibarat pepatah sedia payung sebelum hujan. Saat cuaca mendung, kemudian tidak membawa payung saat bepergian. “Ya kalo Allah ridha, kehujanan pun tak apa, tidak sakit juga. Kalo Allah ridha.” Dengan alasan seperti ini, namanya bukan ridho, tapi cari penyakit.
3. Ridho atas anugerah atau rejeki Allah yang sudah terjadi. Dengan cara menggunakannya rejeki tersebut secukupnya, dan mengembalikan sisanya kepada Allah. Ibarat seorang ibu memberikan uang saku kepada anaknya 5000 rupiah di pagi hari. Sore harinya sang anak berkata. “Bunda, tadi aku jajan habis 2000. Ini sisanya aku kembalikan ke bunda.” Kira-kira besoknya apakah uang saku anak tersebut dikurangi, ditambah, atau tetap ? Kemungkinan besar ditambah. Seorang ibu pasti akan berpikir “Inilah anakku yang sangat ridha padaku, dan aku pun ridha kepadanya, aku tambah uang sakunya, toh nanti jika berlebih akan dikembalikannya padaku.” Demikian juga analogi tersebut kepada Allah. Allah akan menambah nikmat kita jika kita hanya mengambil seperlunya, dan mengembalikannya kepada Allah sisanya.
4. Ridho atas anugerah atau rejeki Allah yang mungkin terjadi. Dengan cara menunggunya dengan mengamalkan amalan dan perbuatan yang paling di sukai Allah. Jika seorang pedagang ingin dagangannya laku, apa yang kira-kira dia lakukan ? Memperbaiki tatanan dagangannya, atau malah ongkang-ongkang kaki ? Tentu memperbaiki tatanan dagangannya bukan ? Supaya orang tertarik untuk membeli. Demikian pula dengan Allah. Saat kita menunggu rahmat dan rejekinya, barokah dan hidayahnya, mari kita songsong dengan memperbaiki amalan dan ibadah kita. Supaya Allah ridha saat memberikan anugerahnya tersebut. Jika seorang pedagang memaksa seseorang membeli dagangannya, bisa jadi orang tersebut membeli, tapi pasti tidak dengan ridho. Besar kemungkinan saat membeli, barang tersebut kemudian dibuang di depan sang pedagang. Demikian juga dengan Allah. Jika kita memohon kepada Allah, tapi masih melakukan perbuatan yang dibenci Allah, bisa jadi Allah memberikan permohonan kita, tapi bukan dengan ridha, tapi sebuah bentuk kebencian Allah kepada kita. Naudzubillah.. Ya Allah, semoga saat aku menerima anugerahmu kelak, itu bukan bentuk kebencianmu kepadaku ya Allah. Ampuni dosa-dosaku ya Allah.
Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari dari sekarang. Semoga saat itu kita bisa memohon semua yang terbaik untuk kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai, dengan amalan-amalan terbaik yang dicintaiNya. Ya Allah, semoga Engkau pertemukan kami dengan bulanMu yang mulia. Bulan Ramadhan tercinta. Agar kami bisa memohon ampun atas dosa kami selama ini, bermunajat kepadamu, dan mendekatkan diri kami yang hina ini kepadaMu. Dan belajar ridhaMu dalam semua keputusanMu atas kami. Amien ya robbal alamin..
Mencari Arti Kebebasan
Kemarin, tanggal 17 Agustus 2007, Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke 62. Banyak komentar yang menyatakan bahwa kita sudah merdeka, tapi apa benar-benar kita sudah merdeka ?
Merdeka atau dengan kata lain bebas. Bebas sebebas-bebasnya.
Apa sebenarnya makna kebebasan ?
Pengajian hari Kamis lalu bersama ustadz Satori di Daarul Sholihat menyatakan hal ini. Apa arti kemerdekaan bagi seorang manusia. Apakah bisa dia benar-benar bebas ? Apa konsep bebas itu sebenarnya ?
Kita mulai dengan pembahasan status. Manusia mempunyai status yang melekat pada dirinya. Status ini akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungan, kondisi dan person yang ditemui. Ini gambarannya : seorang lelaki yang menjadi kepada bagian di kantornya, akan memperkenalkan diri sebagai seorang kepala bagian jika itu berkaitan dengan pekerjaan atau lingkungan sosialnya. Kepala bagian itu adalah status yang melekat di dirinya. Namun, ketika dia tiba di rumah, bagi istrinya, dia itu suami. Statusnya berubah menjadi suami. Tidak bisa lagi menggunakan status kepala bagian di hadapan istrinya. Demikian pula di hadapan putra-putrinya. Ia berubah status lagi menjadi ayah. Personnya sama, tapi statusnya berubah.
Pertanyaan berikutnya, apa status kita di hadapan Allah ? Dengan semangat dan jelas, tentu kita akan menjawab, kita ini hamba Allah. Apa benar ? Apakah definisi hamba itu ?
Hamba. Bisa dikatakan juga sebagai budak. Hanya berniat mengikuti perintah dari Maula (Tuannya). Jika ia di suruh membeli baju di pasar berwarna hijau, ya dia akan ikuti. Tidak lantas protes dan membeli baju warna merah. Karena dia hanya hamba. Sampai di sini, mulai keringat dingin mengucur di dahi saya. Betapa banyak perintah Allah yang saya bantah, tidak saya lakukan bahkan saya tolak. Apa saya masih bisa disebut hamba Allah ? Astaghfirullah hal adziieem..
Allah mengaruniakan kita dua kecenderungan. Saat kita lahir pun kita diberikan dua kecenderungan. Seperti disabdakan di Surah Asy Syams ayat 7 – 10
wanafsin wamaa sawwaahaa
[91:7] dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa
[91:8] maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
qad aflaha man zakkaahaa
[91:9] sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
waqad khaaba man dassaahaa
[91:10] dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Allah memberikan kecendurangan kepada jiwa kita yaitu kefasikan (keburukan) dan ketaqwaan. Bisa saja Allah memberikan kebaikan saja pada hati kita. Ketaqwaan saja. Tapi apa artinya ? Taqwa akan disebut taqwa jika ada pembandingnya yaitu fasik. Seperti halnya putih akan nampak putih jika ada pembandingnya yaitu hitam. Dua pertentangan ini akan selalu ada di dalam manusia. Manakah yang akan menang ? Semua tergantung pada bagian mana manusia memberi “makan”. Saat ia lebih banyak mengumbar nafsu duniawinya, hasilnya tentu akan bisa ditebak. Kefasikan akan lebih banyak bermukim di hatinya. Dan sebaliknya, saat ia lebih banyak mengingat Allah, Insyaallah akan lebih banyak sifat taqwa yang datang.
Sampai disini saya masih belum bisa menerima apa artinya kemerdekaan. Apa artinya bebas jika dikaitkan dengan rangkaian di atas. Masih gamang hati saya. Saya belum tahu makna merdekanya dimana. Sayang, pengajian harus berakhir karena adzan maghrib akan segera berkumandang.
Setelah sholat Maghrib, saya membuka buku Berguru kepada Allah karangan Ustadz Abu Sangkan. Ada hal yang menarik hati saya. Jika kita merasa sedih, gelisah atau merasa kesal terhadap sesuatu. Saat kita merasa kecewa. Saat rasanya semua orang ingin mengatur kita dan kita ingin merasa bebas. Apa yang ingin kita rasakan ? Kita ingin berteriak. Kita ingin mengeluarkan sesuatu dari dada kita. Kita ingin merasa tenang. Apa itu yang ingin kita keluarkan ? Siapa yang ingin keluar ?
Itulah ruh kita. Itulah esensi hidup kita yang ingin keluar dari tubuh kita. Ruh kita ingin merasa tenang. Dia ingin kembali ke Allah. Dia ingin kembali kepada penciptanya yang Maha Tenang. Dia ingin kebahagiaan. Dia ingin terbebas dari beban-beban yang menghimpitnya. Dia benar-benar ingin kembali kepada Allah. Karena hanya Dia yang mampu memberikan kebahagiaan dan kebebasan kepada ruh kita.
Ternyata, merdeka berarti kembali kepada Allah. Ruh kita sendiri yang meminta. Tanyakan pada ruh kita sendiri. Saat sebelum sholat. Pegang hati kita, dada kita. Katakan perlahan. “Wahai ruh… apakah yang engkau inginkan itu kembali ke Allah ?”. Dengarkan perlahan-lahan kata ruh kita. Jawabannya tentu kita tahu.
Maka dirikanlah sholat. Benar-benar didirikan. Karena sholat pada hakekatnya adalah komunikasi kita kepada Allah. Secara individu. Sangat personal. Kita akan dapat berdialog dengan Allah. Tanyakan saja apa yang harus kita lakukan pada Allah saat sujud. Nikmati saja proses sujud yang lama itu. Proses sholat seharusnya memang tidak cepat. Pelan dan nikmati saja saat sujud. Saat kita mengakui kebesaran Allah dan mengagungkannya. Saat itulah Allah paling dekat dengan hambanya. Saat wajah menyentuh tanah tempat kita berjalan.
Subhana robbial a’la wabi hamdih.
Bacalah 3 kali. Perlahan saja. Nikmati setiap katanya. Setelah itu, silakan bertanya kepada Allah apa yang kita ingin ketahui. Perlahan pula. Tapi yakinlah, bahwa Allah akan menjawab. Dia akan menjawab dengan caraNya. Bagi saya, jawabannya bisa jadi dada terasa sangat lapang, bisa pula bisikan dalam hati saya. Jelas dan tenang.
Apakah saya sudah merasa merdeka ? Wallahu alam. Saya tidak tahu apakah saya sudah merdeka juga ? Yang saya tahu, saya cuma merasa ingin dekat dengan Tuhan saya. Saya ingin kembali padanya setiap waktu. Saya ingin merasakan damai dan tentram saat berada di dalam rumahNya. Saya ingin berkomunikasi dengannya. Saya cuma ingin dekat denganNya. Bagi saya itu sudah cukup. Saya tidak merasa perlu merdeka untuk bisa melakukan apa yang saya inginkan. Karena keinginan saya kini hanya satu. Dekat dengan Allah. Apa perintahnya, ingin saya lakukan semampu saya. Mungkin tidak sempurna. Tapi ternyata Allah maha Mengetahui, tidak pula Dia memaksakan di luar kemampuan saya. Saat saya mengadu saya tidak mampu, Dia pun tersenyum. Memeluk saya dengan hangat. Melebarkan hati dan dada saya. Sungguh Dia maha mengerti.
Dan kini saya bisa mengatakan. Saya punya Allah.
As hadu Allah illaha illallah. Wa as hadu ana Muhammadar rasulullah.
Doa Untuk Bunda di Hari Ulang Tahun
Teruntuk Bundaku :
“Ya Allah.. Ampunilah kedua orang tuaku. Kasihilah mereka. Sebagai mana mereka mengasihi aku sewaktu aku kecil.”
Bunda. Selamat ulang tahun ke 48. Semoga panjang umur.
Ya Allah, panjangkan umur bundaku. Sehingga aku masih Engkau beri waktu, untuk menyenangkan hatinya.
Bunda, ijinkan aku bersimpuh di kakimu. Memohonkan ampunanmu. Menyenangkan hatimu. Ijinkan aku mencium takzim punggung tanganmu setiap saat.
Ya Allah. Ampunilah aku. Kasihanilah aku. Sungguh aku tak akan kuat membayangkan Bunda harus menungguku di gerbang Surgamu kelak di hari itu. Jika aku harus menerima nerakamu, biarlah aku sendiri yang menerima. Jangan biarkan Bundaku menungguku. Sebagaimana bunda selalu menunggu kala malam saat aku belum pulang.
Ya Allah. Sehatkan bundaku selalu. Bahagiakan hatinya selalu. Janjikan beliau surgaMu. Ampun ya Allah.. Ammpuuunnn… Berikan aku ampunanmu ya Allah…
Bunda, semoga engkau bahagia selalu.
Yang mencintaimu selalu,
Putramu…
Jangan Hanya Melihat Dengan Mata
Diambil dari sebuah blog seorang temen.
http://surrender2god.wordpress.com
Mengingatkanku untuk tidak melihat semua kejadian yang terjadi padaku, terutama yang akhir-akhir ini sebagai sebuah kesulitan semata. Allah pasti punya cara dan rencana terindah untukku. Aku hanya perlu berpasrah diri pada setiap kesulitan yang aku rasa aku sulit melewatinya. Karena Allah pasti akan menolongku.
Pun dalam kesulitan kali ini, Allah mengirimkan banyak sahabat untuk mengingatkanku. Untuk melihat dengan lebih bijak. Menguatkan hatiku. Menuntunku menjadi lebih baik. Membuka mataku. Membukakan jalanku. Mengingatkanku akanMu.
Teruntuk sahabat dan guruku, semoga Allah menetapkan tali sitaturahmi kita tetap langgeng selamanya. Sampai di surgaNya semoga kita tetap berkumpul. Amien.
Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota, singgah pada rumah seorang yang kaya raya. Keluarga tersebut kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat tersebut tidur di dalam rumah besar mereka. Sebagai gantinya, mereka menyuruh kedua malaikat tersebut tinggal di gudang bawah tanah mereka yang dingin, kotor, tanpa pemanas. Ketika sedang menyiapkan tempat tidur mereka, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding, dan lalu memperbaikinya. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya, malaikat yang tua itu menjawab: “Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya.”
Malam berikutnya, kedua malaikat tersebut menginap di sebuah keluarga petani yang miskin, tetapi sangat ramah. Setelah berbagi makanan yang serba sedikit, pasangan petani tersebut mempersilahkan kedua malaikat tersebut tidur di tempat tidur mereka, sedangkan mereka sendiri tidur di lantai.
Ketika matahari muncul di ufuk timur keesokan paginya, mereka menemukan pasangan petani tersebut sedang menangis sedih. Ternyata, sapi yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan mereka, yang memberikan susu setiap pagi, tergeletak mati di pinggir ladang mereka. Malaikat muda menjadi marah dan mencaci maki malaikat tua, katanya: “Mengapa engkau tega melakukan semua ini kepada mereka? Mengapa engkau membiarkan semua ini terjadi? Kemarin kita mendapat kesempatan untuk menginap di rumah seorang kaya raya. Kita dibiarkan tidur di gudang yang kotor dan dingin, tetapi kamu masih membantu mereka dengan memperbaiki dindingnya yang bolong. Malam ini kita menginap di rumah seorang petani miskin yang begitu ramah dan mau berbagi, tetapi apa yang kamu lakukan? Kamu biarkan sapi yang merupakan satu-satunya sumber hidup, mati. Apa maumu wahai malaikat tua? “
Malaikat tua menjawab singkat: “Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya.” Ketika malaikat muda mendesak untuk menjelaskan, malaikat tua berkata: “Waktu kita menginap di tempat orang kaya kemarin, aku melihat sebuah lubang di dinding. Di dalamnya ada kepingan emas. Tetapi karena orang kaya tersebut sangat tamak, tidak mau berbagi, dan tidak bisa ramah kepada orang lain, maka dinding tersebut kututup. Biar mereka tidak tahu dan tidak dapat mengambil emas tersebut. Lalu malam ini, ketika kita tidur di ranjang Pak Tani, dan mereka mengalah tidur di lantai, malaikat maut datang hendak mengambil isteri petani itu. Tetapi aku belokkan dan sebagai gantinya, malaikat maut itu mengambil sapi Pak Tani.
Tidak semua hal itu seperti bagaimana tampaknya. Terkadang kejadian di sekitar kita juga begitu. Jika kamu memiliki iman, kamu harus percaya bahwa semua hal merupakan keberuntunganmu, meskipun mungkin kita tidak menyadarinya.
Teruntuk Genduk, semoga Allah menguatkanmu dari semua ini. Sungguh aku tahu ini berat. Karena ini berat untukku pula. Tapi percayalah bahwa Allah sudah mengatur sebuah rencana yang indah untukmu dan untukku. Tetaplah bersama Allah dalam setiap hal. Dan Dia akan membimbing hatimu. Amien.
Bunda Dan Gaji Pertama
Bulan ini gajian pertama.
Akhirnya ada hasil dari keringat sendiri. Terbayang mau pulang dengan senang dan mempersembahkan gaji ini untuk mama. Sudah terlalu banyak biaya yang mama keluarkan untuk membesarkanku. Bahkan sampai sekarang, mungkin tidak ada yang bisa aku berikan ke mama sebagai balasan. Gaji ini tidak setara dengan semua pengorbanannya untukku. Tapi paling tidak, ini yang bisa aku persembahkan kepadanya sekarang. Baru ini ….
“Ma… gajian ma. Buat mama.” Tanganku mengangsurkan amplop ke mama.
“Buat apa ?” Tanya mama.
“Buat mama.” Sahutku gembira.
Mama tersenyum saat memandangku. “Buat kamu aja le. Ditabung. Jangan lupa dikeluarkan dzakatnya. Suatu hari kamu akan memerlukannya. Mama sudah cukup.”
Gaji pertamaku ditolak mama. Hik..hik… Aku sungguh tahu mama sayang padaku. Dibandingkan untuk dirinya, dia ingin gaji itu lebih untuk anaknya. Padahal sungguh aku ingin membanggakannya. Ingin memberikannya sesuatu. Ingin membalas semua jasa dan jerih payahnya selama ini.
Sebentar lagi mama ulang tahun. 15 Agustus. Mungkin saat itu aku bisa memberikan sesuatu untuk mama. Sebuah penghargaan teramat kecil dan ucapan terima kasih atas semua yang telah ia berikan selama ini. Any idea ?
Teruntuk bundaku. Sungguh aku ini anak yang lalim dan dzalim. Menyusahkanmu setiap saat. Membebanimu setiap waktu. Tidak cukup berterima kasih. Sungguh aku anak yang tidak berguna. Dan demikianpun engkau masih mengasihi aku. Ya Allah, mohon beri aku waktu dan kesempatan untuk membanggakan bundaku. Bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Dan tidak membebani jalan bundaku ke surgamu kelak. Sungguh aku bukan hamba yang pantas menuju surgamu, namun hamba pun tak akan kuat menanggung nerakamu. Ijinkan hamba bertobat kepadaMu dan menebus semua dosaku. Agar tidak membebani jalan bundaku menuju surgamu kelak. Hanya Engkau yang maha Pengampun. Hanya Engkau tempat bergantung dan memohon. Jika tak Engkau dengar doaku ya Allah, kepada siapa hamba harus memohon. Semoga Engkau kabulkan doaku ya Allah.
Yaa arhamarraahimiin… Yaa arhamarraahimiin…. Yaa arhamarraahimiiin.
Ayahku Dementia
Sudah beberapa saat ini aku merasa Papa mulai kurang dalam mengingat. Mulai hal-hal kecil seperti tempat kacamata, handphone dan kunci mobil. Sampai hal-hal besar seperti jadwal kedatangan Mme. Pauline dari Perancis. Aku tidak tega menyebutnya dengan kata kasar itu. Dia ayahku. Orang yang paling aku banggakan. Orang yang menjadi panutanku dalam bertingkah laku. Aku menyebut gejala ini sebagai Dementia.
Diperoleh dari Wikipedia.
Dementia (from Latin de- “apart, away” + mens (genitive mentis) “mind”) is the progressive decline in cognitive function due to damage or disease in the brain beyond what might be expected from normal aging.
Dementia berarti kurang lebih adalah proses penurunkan fungsi kognitif karena kerusakan area otak, atau penyakit atau karena gejala penuaan.
Umur papa memang sudah tidak muda, sudah di atas 50. Namun gejala ini mulai sangat terasa pasca serangan diabetes papa hampir setahun yang lalu kala lebaran. Liburan Lebaran yang biasanya disibukkan dengan kedatangan saudara-saudara ke rumah, pada waktu itu kami sekeluarga justru berkutat dengan sakitnya papa. Berusaha tabah menerima kabar bahwa papa yang perkasa dan selalu sigap menjadi kepala rumah tangga, menderita diabetes. Betapa beban psikis tentang esok menjadi beban bagi kami sekeluarga. Terutama papa. Terbayang betapa sulitnya papa menerima vonis diabetes ini. Sungguh, kami tidak mencari penyakit, kami berusaha hidup sehat. Namun Allah menentukan takdir lain. Pasti ada hikmahnya. Salah satunya mungkin supaya kami diingatkan untuk kembali ke rumahNya. Memperbaiki keluarga kami sendiri. Yang kadang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Dan proses itu masih berjalan hingga kini. Semoga kami bisa menjadi keluarga yang lebih baik. Semoga aku bisa mulai menggeser peran dan membantu tanggung jawab Papa. Semoga Allah meridhoi.
Saat papa di rumah sakit itu pulalah, pertama kali aku membawa Genduk bertemu mama papa. Setelah 2 tahun lebih berjibaku dengan hati dan keragu-raguanku. Aku memutuskan untuk membawa Genduk bertemu mama papa. Teringat jelas betapa Genduk malu-malu saat itu. Sungkan dan jengah. Huff… memang salahku. Terlalu lama aku berkutat dalam keragu-raguan ini. Apakah Genduk orangnya ? Itu pertanyaan dalam hatiku setiap saat. Sifatku yang sering menunda sesuatu menjadi masalah besar kali ini. Nanti sajalah. Nanti.. Nanti… Nanti..
Kini, hanya bayang Genduk saja yang tertinggal. Seandainya aku lebih cepat. Namun aku tak kuasa memutar waktu. Kini aku tak bisa bertanya lagi tentang masalah papa. Bagaimana menghadapi Dementia Papa. Aku berlari sendiri.. sendiri.. Sungguh aku merindukannya. Aku merindukan Genduk. Semuanya… semua tentangnya adalah indah. Dia karuniaNya untukku.
Ya Allah. Sungguh hamba makhluk yang dzalim. Menyakiti diri sendiri. Tidak menjaga amanahmu. Ujian kali ini berat sekali untukku. Kuserahkan nasibmu padaMu. Hanya kepadamu aku memohon. Jika semua ini adalah ijinMu. Namun jika boleh kulo nyuwun kepadaMu. Aku ingin kembali padanya. Pada Genduk. Jika dia mau memaafkanku (untuk yang kesekian kali).



