eudeart

Just another WordPress.com weblog

Belajar Tawadhu’ Dari Sahabat

Kemarin…

Belajar mengaji pada ustadz Satori. Seorang ustadz di pondok pesantren Darul di bilangan Pogung. Tumben.. memang sedikit tumben. Ah.. ndak usah dibahas tumbennya. Pada intinya, saya ingin mencari ketenangan batin. Ombak kehidupan yang menampar pantai hati saya sedemikian besarnya sehingga meluluh lantakkan semuanya. Saya harus mengumpulkan serpihan-serpihan omah gubug hati saya. Tidak menyusun omah gubug baru. Saya mengumpulkan serpihan-serpihannya saja. Berharap masih ada sisa-sisanya.

Hari itu, pelajaran utamanya adalah tawadhu‘. Bersikap rendah diri dihadapan Allah. Dan bersikap rendah hati pada makhlukNya. Rendah hati di hadapan makhluk adalah cerminan tawadhu yang berhasil di hadapan Allah. Kenapa begitu ? Sebagai seorang makhluk, apa yang harus dibanggakan ? Harta ? Tubuh ? Pangkat ? Kecerdasan ? Wong itu cuma titipan Allah. Wong cuma dipinjami kok umuk. Analoginya sederhana. Jika kita dipinjami sebuah motor baru oleh seorang teman dan diijinkan untuk menggunakannya kapan saja. Apa yang sebaiknya kita lakukan ? Menjaganya dengan hati-hati tentu saja. Memakainya hanya jika kepepet. Takut jika nanti ada apa-apa kita harus bertanggung jawab ngganti toh ? Dan jika ada seseorang kemudian menanyakan “Wah.. motor e anyar ik. Apik tenaaannn.” Maka biasanya jawaban kita adalah “Wong mung disilihi je.” Ya ndak isa umug toh ? Ndak bisa bangga. Wong bukan punya kita. Demikian pula dengan atribut keduniawian yang menempel di diri kita. Sebuah barokah dan nikmat Allah ke kita itu tak lebih dari titipan saja. Kapan saja bisa diambil kembali.

Terbayang di mata saya betapa sombongnya saya berjalan di muka bumi. Dada ditegapkan. Semua asesoris lengkap dipakai. Handphone model PDA. Jam tangan. Motor mengkilap. Semua kebanggaan semu saya terbayang di muka. Teringat semuanya itu langsung mbleret saya. Mbrebes mili. Tergenang air mata di pelupuk mata. Betapa sombongnya saya ya Allah. Saya memohon untuk diampuni. Mohon diangkat kesombongan di hati saya.

Padahal sebelumnya baru saja bercengkerama dengan seorang sahabat. Dia merasa hidupnya jauh dari Tuhan. Kotor dan gelap. Dengan bangganya saya meyakinkan dia bahwa dia akan lebih cepat tobat daripada saya. Dengan perumpamaan sebuah kamar. Jika dia adalah kamar yang gelap, dan saya adalah kamar yang sedikit terang. Tentu akan lebih mudah menengok cahaya di dalam sebuah kamar gelap dibandingkan dengan kamar yang sedikit terang. Intensitas cahaya yang diperlukan untuk menarik perhatian di sebuah kamar gelap tentu lebih sedikit dibandingkan ruang yang ada cahaya. Demikian analogi dari saya. Tidak sadar betapa sombongnya saya menyatakan saya berada di kamar yang bercahaya. Tidak sadar betapa tinggi hatinya saya.

Padahal sahabat saya ini dengan tawadhu’nya dan ikhlasnya menginsyafi bahwa dia adalah kamar yang gelap dan kotor. Menundukkan dirinya tidak membuatnya kehilangan izzah (kemuliaan) di mata saya. Makin saya tersadar betapa saya harus banyak belajar ilmu tawadhu’ dari sahabat saya ini.

Kepada sahabatku, terima kasih sudah membuka hatiku akan kesombonganku. Maafkan atas kesombonganku. Sekali lagi, terima kasih….

2 Comments »

  hio wrote @

kau membuatku menangis malam ini teman….menangisi apa yg telah kulakukan padamu selama ini…..inilah karma yg aku terima…

bukan karma kang. toh darimu aku justru belajar banyak. nyuwun terus diajari dan dibantu ya.

  erander wrote @

“Tentu akan lebih mudah menengok cahaya di dalam sebuah kamar gelap dibandingkan dengan kamar yang sedikit terang”

Good point ..

Kadang, barang2 yang sifatnya pinjaman, suka kita abaikan. Pinjam motor, waktu dipulangin dalam keadaan kotor. Pinjam buku, waktu dipulangi sudah dicoret2. Pinjam (sewa) rumah, waktu ditempati dibiarkan rusak.

Saya berencana menulis artikel tentang hal tersebut. Ijinkan saya untuk meng-link tulisan ini. Karena menjadi pencerahan buat saya terutama kata2 yang saya quote.

Salam kenal.

Silakan sahabat. Dengan senang hati. Semoga berguna.


Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>