Alkisah seorang malaikat diciptakan oleh Tuhan dengan satu sayap. Sayap hanya ada di sebelah kirinya. Sebelah kanannya tidak tumbuh sayap. Sehingga kemudian dia bertanya kepada Tuhan.
“Ya Tuhanku yang Maha Mengetahui, mengapa engkau ciptakan aku dengan satu sayap saja. Aku tidak akan bisa terbang untuk mengerjakan tugasku. Padahal setiap hari aku harus menyusuri alam semesta dari selatan ke utara pada pagi hari dan kembali dari utara ke selatan pada sore harinya. Tapi dengan tanpa sayap ini aku hanya bisa menyusuri sepertiganya saja.”
Dan Tuhan pun berkata. “Malaikat selatanku yang baik, Aku menciptakanmu dengan satu sayap, agar dapat Kupertemukan kamu dengan pemilik sayap sebelahmu. Kelak kamu akan bertemu dengannya. Saat itu terjadi, semoga kamu menjaganya dengan baik. Dan semoga engkau makin pandai bersyukur”
Dan sang malaikat selatan pun terdiam dan patuh. Dia menunggu dan menunggu. Dia yakin akan janji Tuhan. Tetap mengerjakan tugasnya dengan baik, walaupun tidak bisa sempurna. Namun di usahakannya untuk tetap mengerjakan tugasnya. Bila pada awalnya dia hanya bisa mengerjakan sepertiga tugasnya, kini dia bisa berjalan separuh dari tugasnya. Tepat separuh dari perjalannya.
Sampai suatu ketika dia bertemu seorang malaikat yang mirip dengannya. Hanya memiliki sebelah sayap. Rupanya dia malaikat yang bertugas untuk sisi timur dan barat. Dan dia juga baru bisa berjalan separuh dari tugasnya. Sampai kemudian mereka bertemu.
Malaikat itu begitu takjub melihat sosok malaikat lain seperti yang dijanjikanNya. Malaikat timur itu begitu anggun, rupawan dan begitu cantik. Dan malaikat itupun mulai bertanya.
“Apakah Tuhan pernah menjanjikanmu untuk bertemu dengan seorang malaikat lain yang hanya memiliki sebelah sayap ?”
“Iya, Tuhan saat menciptakanku berkata bahwa aku akan menemukan sayap sebelah kiriku pada malaikat lain. Dan saat itu terjadi, semoga aku bisa menjaganya dengan sekuat tenaga.”
“Mungkinkah malaikat yang dimaksud oleh Tuhan itu aku ?”
“Mungkin saja, bagaimana kalau kita mencoba terbang bersama ?”
“Tapi tugasku dari selatan ke utara, sedangkan kamu dari timur ke barat. Bagaimana bisa ?”
“Berpikirlah positif. Dengan terbang bersamamu bersamamu, mudah-mudahan kita bisa menunaikan tugas kita bersama dengan baik. Mungkin inilah maksud Tuhan jika aku bertemu denganmu.” Demikian ucapan malaikat timur itu.
Dan mulailah kemudian mereka terbang berpasangan. Kini semua nampak begitu indah. Lebih mudah. Letih tak lagi terasa karena saat bersama. Saat malaikat selatan kelelahan, maka malaikat timur membimbing dan menenangkannya. Semua tampak menjadi sangat mudah bagi malaikat selatan. Begitu menyenangkan dan menenangkan batinnya.
Sampai suatu waktu, malaikat timur tidak lagi terbang secepat dulu. Malaikat selatan bertanya. “Kenapa engkau tak lagi terbang secepat dulu ?”
“Aku terlalu lelah. Sayapku mulai koyak. Bulu-buluku mulai rontok. Aku tidak kuat lagi terbang bersamamu.”
“Kenapa bisa begitu ?”
“Aku harus melindungimu dari sinar matahari saat pagi saat kita terbang dari selatan ke utara. Dan melindungimu dari matahari sore saat terbang dari utara ke selatan. Sayapku harus bekerja dua kali lebih keras. Dan jika kemudian engkau terlalu lelah untuk membantuku terbang dari timur ke barat, aku harus melalukannya sendiri. Aku berjalan lagi sendiri untuk menyelesaikan tugasku.”
“Kenapa tidak engkau sampaikan, kalau aku tidak menjagamu dengan baik ?”
“Aku berharap suatu hari kau akan berubah. Menengok ke arahku. Ke arah sayapku. Namun melihatmu bahagia bisa terbang, membuatku tak tega mengatakannya padamu. Yang aku bisa hanya menjagamu. Terbang bersamamu. Karena titah Tuhan adalah menjagamu dengan segenap kemampuanku.”
“Namun kini, sepertinya aku tidak lagi mampu terbang bersamamu. Sayapku terlalu lelah untuk terbang. Sayapku telah terkoyak.”
“Kenapa baru kau katakan sekarang. Saat semuanya menjadi serba terlambat ?”
“Aku tidak ingin melihatmu sedih. Karena menjagamu dengan segenap kemampuanku adalah mimpiku saat aku berjalan sendiri dahulu.”
“Aku sudah menyakitimu. Bahkan tidak mengetahui bahwa aku telah menyakitimu jika kau tidak mengatakannya padaku hari ini. Aku sudah mengingkari titah Tuhan untuk menjagamu. Aku berdosa padamu dan Tuhan.” Malaikat selatan mulai terisak-isak. Terbayang betapa kesendiriannya sewaktu dia berjalan seorang diri. Tanpa sepasang sayap. Ketakutannya untuk berjalan sendiri membuatnya tidak kuat untuk melepaskan malaikat timur.
“Tolong jangan pergi. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Aku tak bisa, aku harus pergi. Aku harus memperbaiki sayapku. Aku harus pergi. Semoga suatu saat kita bertemu lagi.”
Hari malaikat selatan kini sepi lagi. Dia harus berjalan lagi untuk menyelesaikan tugasnya. Dan kini sendiri. Tanpa pasangan.
Dia berharap semoga malaikat timur dapat kembali terbang bersamanya. Namun entah kapan… Jika Tuhan mengizinkan….
*teruntuk Genduk. Malaikat pemilik sayap sebelahku. Maafkan aku….*


