eudeart

Just another WordPress.com weblog

Archive for July 22, 2007

Filosofi Sholat

sholat1.jpg

Hari ini adalah hari dimana hati ini terasa begitu berat. Terhempas sampai pada titik terendah. Hancur lebur.

Pasca sholat Subuh, televisi kamar tamu atas aku nyalakan. Sengaja mencari siraman rohani. Semoga saja bisa meringankan beban di hati. RCTI menyiarkan siraman rohani dengan tema sholat. Dinyatakan bahwa sholat adalah satu-satunya amalan yang diberikan Allah kepada Rasulullah secara langsung. Tidak melalui perantara. Ini adalah salah satu sebab mengapa sholat itu sangat penting. Aku masih belum sadar …..

Turun ke bawah. Mencari mama. Ternyata sedang menyeduh teh. Aku nyalakan televisi di bawah. Di TVRI kali ini siraman rohaninya. Dosen IAIN. Bapak Tulus namanya seingatku. Dan bahasannya juga mengenai sholat. Hanya dari sisi pandang yang berbeda. Bahwa sholat itu tidak boleh ditinggalkan. Bahkan dalam bepergian sekalipun. Dan akupun masih belum sadar juga ….

Hari ini adalah hari yang berat untukku. Karenanya aku putuskan untuk ikut mama papa pengajian di Solo. Daripada di rumah sendiri. Berpikir yang tidak-tidak. Mungkin lebih baik aku mengaji. Siapa tahu dapat ilmu untuk menenangkan hati.

Di pengajian haji mama papa, ustadz yang dipanggil ternyata ustadz Satori. Ustadz yang sudah sangat familiar namanya. Namun belum pernah sekalipun aku ikuti pengajiannya. Dan temanya kali inipun sholat. Dilihat dari sisi pandang filosofi gerakan sholat.

Dimulai dari niat yang berarti mempersiapkan hati. Takbir. Adalah sebuah pengakuan akan kebesaran Allah. Menggambarkan pengumuman ke”sholat”an kita. Mereferensi kelahiran kita di muka bumi.

Sholat dilakukan pada posisi berdiri. Berdiri bermakna bahwa otak yang merepresentasikan ego berada di atas hati yang merepresentasikan nurani. Ini adalah fase dimana ego lebih mengendalikan nurani. Contoh hidup manusia pada fase ini adalah fase anak-anak. Diberi gambaran bahwa betapa sulitnya anak kecil berbagi pada sesamanya adalah gambaran betapa anak kecil masih didominasi kesadaran ego dibandingkan kesadaran nurani. Sering ditemui anak kecil yang tidak mau berbagi permen yang dimilikinya pada adiknya sekalipun. Karena takut jatahnya berkurang. Ini adalah fase dmana ego masih berada di atas nurani.

Gerakan berikutnya adalah ruku’. Adalah gerakan yang menggambarkan bahwa ego dan nurani berada dalam posisi yang sama. Sejajar. Fase ini menggambarkan fase kehidupan manusia sebagai seorang remaja. Terkadang antara nurani dan egonya bertentangan. Pernahkah anda merasakan betapa enggannya kita berbagi tempat duduk di bis kota pada seorang ibu tua ? Atau enggannya berbagi uang jajan kepada seorang peminta-minta di lampu merah ? Dalam hati ada pertentangan. Jika diberi uang kita habis, kalau tidak diberi kok kasihan. Inilah fase yang digambarkan oleh gerakan ruku’. Seringkali pertentangan itu kemudian dimenangkan oleh ego kita. Ketidakstabilan fase ini ditegaskan lagi adanya gerakan berdiri sebelum sujud. Ini menandakan betapa seringkali pertentangan batin ini dimenangkan oleh ego.

Gerakan sujud. Adalah gerakan yang menggambarkan bahwa kini ego berada di bawah nurani. Adalah penggambaran fase kehidupan manusia berada di fase pencerahan. Fase kedewasaan. Cerita hikayat tentang Syaidina Ali bin Abi Thalib. Suatu hari beliau harus membelanjakan uang sebesar 6 dirham ke pasar untuk membeli roti bagi anak-anak beliau. Namun ditengah jalan, beliau bertemu dengan seorang fakir yang sungguh perlu dibantu. Jika beliau masih berada di fase ruku’, tentu bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan beliau. Namun beliau memberikan semua uang itu kepada fakir tersebut dengan ikhlas. “Semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadamu.” Demikian doa dari sang fakir tersebut. Saat beliau dalam perjalanan pulang, beliau bertemu dengan seorang sahabat yang sedang berlebihan makanan. Dan beliau kemudian dibagi yang jumlahnya lebih dari jumlah yang bisa dibeli dengan uang 6 dirham. Itulah gambaran fase sujud dari seorang Ali bin Abi Thalib.

Gerakan duduk. Adalah penggambaran dari kepasrahan. Pasrah dan tawakal atas semua keputusan Allah akan dirinya. Betapa bahwa manusia itu sudah dijamin semua kebutuhan hidupnya di dunia.

Dan gerakan salam. Adalah penggambaran betapa kita kelak akan meninggalkan dunia. Dengan berpamitan kepada orang-orang terdekat kita. Baik yang di kanan, maupun kiri. Dan memberikan doa, semoga engkau diberi keselamatan.

Dan kemudian akupun tersadar….

3 pengajian dengan tema sholat di hari yang sama. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah peringatan dan hikmah dari Allah. Ada hal yang kurang dalam aku memaknai sholatku.

Dan jadikanlah sholat dan doa sebagai senjatamu.
Ada sebuah kepasrahan yang kurang aku bisa maknai pada sholatku. Dalam ibadahku. Dan dalam keseharianku. Pasrah pada keputusanNya. Dan percaya bahwa Ia tidak akan memberikan kejadian yang hanya akan menyulitkanku. Karena hanya Dia yang paling mengerti aku sebagai penciptaKu. Dan hanya Dia yang sudah menyiapkan penyelesaian terbaik untukku.

Karenanya kemudian dengan semua kejadian ini. Aku pun berpasrah diri padaMu. Hanya kepadamu aku mohon pertolongan. Hanya kepadamu aku bermunajat. Dan hanya kepadamu aku minta perlindungan.

Ya Allah. Aku mengadu kepadaMu. Aku bersujud dihadapmu. Dengan segala kesalahan dan dosaku. Aku mohon ampun kepadaMu.

Hari ini aku merasa berada pada titik terendah. Aku yakin bahwa kejadian ini hanya bisa terjadi atas ijinMu ya Allah. Dan aku yakin tidak ada ijinMu yang bertujuan untuk menyulitkanku. Saat Engkau memberikanku ujian, telah Engkau siapkan pula jawaban. Maka aku berharap dan bermunajat, semoga Engkau mudahkan bagiku penyelesaian masalah ini. Semoga Engkau bukakan hatinya untuk memaafkanku. Semoga Engkau condongkan hatinya untuk mencintaiku karenaMu ya Allah. Hanya Engkaulah yang Maha Memiliki. Hanya Engkaulah Penguasa Hati setiap makhlukMu. Aku hanyalah hamba yang lemah. Yang hanya mampu memohon kepadaMu. Semoga Engkau mengabulkan doaku ya Allah. Amien ya robbal alamin….

Dan Malaikat Itu Kini Sendiri..

Alkisah seorang malaikat diciptakan oleh Tuhan dengan satu sayap. Sayap hanya ada di sebelah kirinya. Sebelah kanannya tidak tumbuh sayap. Sehingga kemudian dia bertanya kepada Tuhan.

“Ya Tuhanku yang Maha Mengetahui, mengapa engkau ciptakan aku dengan satu sayap saja. Aku tidak akan bisa terbang untuk mengerjakan tugasku. Padahal setiap hari aku harus menyusuri alam semesta dari selatan ke utara pada pagi hari dan kembali dari utara ke selatan pada sore harinya. Tapi dengan tanpa sayap ini aku hanya bisa menyusuri sepertiganya saja.”

Dan Tuhan pun berkata. “Malaikat selatanku yang baik, Aku menciptakanmu dengan satu sayap, agar dapat Kupertemukan kamu dengan pemilik sayap sebelahmu. Kelak kamu akan bertemu dengannya. Saat itu terjadi, semoga kamu menjaganya dengan baik. Dan semoga engkau makin pandai bersyukur”

Dan sang malaikat selatan pun terdiam dan patuh. Dia menunggu dan menunggu. Dia yakin akan janji Tuhan. Tetap mengerjakan tugasnya dengan baik, walaupun tidak bisa sempurna. Namun di usahakannya untuk tetap mengerjakan tugasnya. Bila pada awalnya dia hanya bisa mengerjakan sepertiga tugasnya, kini dia bisa berjalan separuh dari tugasnya. Tepat separuh dari perjalannya.

Sampai suatu ketika dia bertemu seorang malaikat yang mirip dengannya. Hanya memiliki sebelah sayap. Rupanya dia malaikat yang bertugas untuk sisi timur dan barat. Dan dia juga baru bisa berjalan separuh dari tugasnya. Sampai kemudian mereka bertemu.

Malaikat itu begitu takjub melihat sosok malaikat lain seperti yang dijanjikanNya. Malaikat timur itu begitu anggun, rupawan dan begitu cantik. Dan malaikat itupun mulai bertanya.

“Apakah Tuhan pernah menjanjikanmu untuk bertemu dengan seorang malaikat lain yang hanya memiliki sebelah sayap ?”

“Iya, Tuhan saat menciptakanku berkata bahwa aku akan menemukan sayap sebelah kiriku pada malaikat lain. Dan saat itu terjadi, semoga aku bisa menjaganya dengan sekuat tenaga.”

“Mungkinkah malaikat yang dimaksud oleh Tuhan itu aku ?”

“Mungkin saja, bagaimana kalau kita mencoba terbang bersama ?”

“Tapi tugasku dari selatan ke utara, sedangkan kamu dari timur ke barat. Bagaimana bisa ?”

“Berpikirlah positif. Dengan terbang bersamamu bersamamu, mudah-mudahan kita bisa menunaikan tugas kita bersama dengan baik. Mungkin inilah maksud Tuhan jika aku bertemu denganmu.” Demikian ucapan malaikat timur itu.

Dan mulailah kemudian mereka terbang berpasangan. Kini semua nampak begitu indah. Lebih mudah. Letih tak lagi terasa karena saat bersama. Saat malaikat selatan kelelahan, maka malaikat timur membimbing dan menenangkannya. Semua tampak menjadi sangat mudah bagi malaikat selatan. Begitu menyenangkan dan menenangkan batinnya.

Sampai suatu waktu, malaikat timur tidak lagi terbang secepat dulu. Malaikat selatan bertanya. “Kenapa engkau tak lagi terbang secepat dulu ?”

“Aku terlalu lelah. Sayapku mulai koyak. Bulu-buluku mulai rontok. Aku tidak kuat lagi terbang bersamamu.”

“Kenapa bisa begitu ?”

“Aku harus melindungimu dari sinar matahari saat pagi saat kita terbang dari selatan ke utara. Dan melindungimu dari matahari sore saat terbang dari utara ke selatan. Sayapku harus bekerja dua kali lebih keras. Dan jika kemudian engkau terlalu lelah untuk membantuku terbang dari timur ke barat, aku harus melalukannya sendiri. Aku berjalan lagi sendiri untuk menyelesaikan tugasku.”

“Kenapa tidak engkau sampaikan, kalau aku tidak menjagamu dengan baik ?”

“Aku berharap suatu hari kau akan berubah. Menengok ke arahku. Ke arah sayapku. Namun melihatmu bahagia bisa terbang, membuatku tak tega mengatakannya padamu. Yang aku bisa hanya menjagamu. Terbang bersamamu. Karena titah Tuhan adalah menjagamu dengan segenap kemampuanku.”

“Namun kini, sepertinya aku tidak lagi mampu terbang bersamamu. Sayapku terlalu lelah untuk terbang. Sayapku telah terkoyak.”

“Kenapa baru kau katakan sekarang. Saat semuanya menjadi serba terlambat ?”

“Aku tidak ingin melihatmu sedih. Karena menjagamu dengan segenap kemampuanku adalah mimpiku saat aku berjalan sendiri dahulu.”

“Aku sudah menyakitimu. Bahkan tidak mengetahui bahwa aku telah menyakitimu jika kau tidak mengatakannya padaku hari ini. Aku sudah mengingkari titah Tuhan untuk menjagamu. Aku berdosa padamu dan Tuhan.” Malaikat selatan mulai terisak-isak. Terbayang betapa kesendiriannya sewaktu dia berjalan seorang diri. Tanpa sepasang sayap. Ketakutannya untuk berjalan sendiri membuatnya tidak kuat untuk melepaskan malaikat timur.

“Tolong jangan pergi. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Aku tak bisa, aku harus pergi. Aku harus memperbaiki sayapku. Aku harus pergi. Semoga suatu saat kita bertemu lagi.”

Hari malaikat selatan kini sepi lagi. Dia harus berjalan lagi untuk menyelesaikan tugasnya. Dan kini sendiri. Tanpa pasangan.

Dia berharap semoga malaikat timur dapat kembali terbang bersamanya. Namun entah kapan… Jika Tuhan mengizinkan….

*teruntuk Genduk. Malaikat pemilik sayap sebelahku. Maafkan aku….*