eudeart

Just another WordPress.com weblog

Bercengkerama Dengan Genduk

Percengkeramaan ini terjadi saat makan malam di sebuah warung tenda yang tadinya menjual capcay, kwetiaw, mie, dan nasi dengan segala bentuk masakannya, mau di goreng, direbus bahkan nyemek, namun kini malih rupo menjual belut, ayam dan dua serangkai tahu-tempe dengan tetep segala bentuk masakannya. Was, warung ini menjadi warung favorit Genduk karena kualitas kwetiaw gorengnya yang miroso. Bumbunya lebih nendang dan nggajul dibandingkan kwetiaw serupa di tempat lain. Berbeda dengan kwetiaw bumbu kanton atau tio ciu, bumbu kwetiaw di sini sangat njawani. Njawani yang berarti manis, gurih dan mlekoh. Bawang putihnya sangat terasa, mericanya pun mencuat semburat yang cantik di sela-sela mie tebal yang rasanya mak legender. Bumbu kemirinya pun tidak pula pelit.

Pencengkeramaan ini berkisah tentang protesnya Genduk terhadap desain yang saya kirimkan ke detikinet (lagi).

Sebagai sebuah gambaran, Genduk tercinta saya ini berbackground mahasiswi jurusan Farmasi. Tidak pernah menyentuh dunia pendesainan dengan sengaja. Sehingga kemudian pencengkeramaan ini menjadi pantas saya tulis karena tutur kata Genduk saya ini merupakan manifestasi betapa briliannya dia membantu saya dan menginspirasi saya untuk membuat desain dengan lebih lagi dan beyond the border.

“Mas, itu nek desainnya bikin lagi gmana ?”

Saya yang lagi menikmati nitili belut plus sambel goreng, jadi langsung menengok dan diem takzim. Mirsani dan memperhatikan dengan siap sedia bak PNS mendengar berita kenaikan gaji.

“Desainnya kenapa emang e nduk ?

“La kan selama ini mas bikin e desain slalu dengan background putih. Nek ganti background piye ? Biru laut po ungu enom gitu. Kan cocok sama temane detikinet toh ? Kan dari 2 desain itu, yang ngejreng warnane cuma sek nomer 2 itu. Itu juga ndak semua backgroundnya jadi merah. Cuma pas desainnya aja.”

“La mas pikir kie nek putih kan gampang diproduksinya toh nduk. Kan desain selain memperhatikan keapikan dan originalitas, juga harus memperhatikan kemudahan produksi. Mbok menowo ternyata para juri di detinet juga memperhatikan aspek kemudahan memproduksi itu.”

“Iyo sih, tapi maksud e nduk kie gini. Kan internet itu media informasi. Selalu berubah dengan waktu. Namanya juga www.detik.com loh. Brati kan luwes dan dinamis. Kalo putih kie asumsi nduk kok ya warna yang kalem, mung mandeg. Diam dan mbegegeg. Tidak dinamis. Makane nduk protes supaya warnanya dibuat yang lebih ngejreng. Soal e kan dari sisi tulisan www.detik.com nya saja sudah paten. Boleh diganggu tapi ndak boleh digugat. Padahal pengen e kan nduk ngganti jenis font typenya sama yang lebih dinamis dan fancy gitu.”

Sampai disini saya cuma bisa ternganga. Woh.. kok Genduk saya ini tiba-tiba memberi informasi bak sinar senter ditengah malam buta. Mak clorot. Wong dari pembicaraan enteng kok tiba-tiba jadi berbobot gini.

Dan kemudian pembicaraan dilanjutkan lagi dengan pembicaraan yang lebih teknis lagi. Bagaimana genduk saya ini mengungkapkan bahwa dia ingin desain yang lebih brutal dengan menabrak pakem. Jangan terkungkung pada besarnya media. Hajar saja, yang penting informasinya masih tertangkap dan desainnya orisinil. Dan saya pun makin ternganga saja melihat genduk saya dengan lincahnya berbicara tentang desain yang dia inginkan dan bayangkan.

Dan malam itu kemudian, setelah acara makan malam itu slesei, serasa ide desain itu menjadi makin menggunung dan meminta segera direalisasikan. Bak wudun yang sudah mateng dan minta segera dipecothot. Dan inilah hasilnya. 3 desain secara maraton.

Sumonggo….

kaoskeempat.jpg

kaoskelima.jpg

kaoskeenam.jpg

No comments yet »

Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>