Pernahkah ke pasar tradisional di daerah Kranggan Jogja dan membeli penganan tradisional sebangsa kipo, jadah bakar, lemet, lepet, cothot dan lainnya ? Biasanya panganan-penganan dan nyamikan kecil seperti ini dijual oleh seorang ibu yang sudah cukup berumur. Yang biasanya saat kita ingin membelinyapun beliau sudah sripat sripit matanya, terkantuk-kantuk karena harus mulai berdagang sejak jam 3 pagi. Itupun terkadang kita masih dengan sadisnya menawar barang dagangannya pula. Sehingga kemudian keluarlah ungkapan halus dan nada yang pasrah dari bibir beliau “Nggih sak kersane njenengan kemawon”.
Artinya kurang lebih “terserah saja kepada anda”. Dalam hal ini, anda bukan selalu berarti saya, kamu atau kalian loh ternyata. Jika diperhatikan, bentuk ungkapan terserah beliau merupakan penyerahan beliau-beliau ini lebih pada kuasa yang lebih besar. Kepada Sang Pemberi Rejeki. Bukan hanya terserah kepada pembelinya saja. Beliau dan kalangan beliau sangat percaya bahwa urip-pati lan rejeki sudah ada yang mengatur secara rapi. Well planned. Jadi saat kita menawarpun, bagi beliau itu sudah beliau pasrahkan kepadaNya. “Silakan saja ditawar, rejeki kawulo sudah ada yang mengatur setiap harinya.”
Bentuk rasa syukur dan ikhtiar yang luar biasa besar. Penerimaan dan kebesaran hati beliau untuk menerima semua keputusanNya atas hidupnya luar biasa. Jika dalam usahanya beliau hanya menerima cukup bahkan kurang, pun beliau tetep mengucap “Ngalkamdulilah.. Matur nuwun Gusti Pangeran.” Dan jika kemudian berlebih, maka itupun dianggap sebuah rejeki yang kemudian akan dibagi-bagi rata pada semua anak dan sanak keluarganya. Sebuah bentuk dan manifestasi dari kelegaan hidup. Karena hidup tak harus mengejar sesuatu. Hidup hanya numpang mampir minum. Sak klebat, banjur lungo meneh.
Jadi saat pulang kantor kemarin, dan saat hati ini bungah karena akan segera bertemu Genduk tercinta. Sudah siap mandi dan berdandan ngganteng bin bagus. Namun tiba-tiba ada bunyi dering terlpon. Dan ternyata ada telpon dari Genduk dan berkata “Mas, ke ndalemnya besok saja ya, barusan pulang kuliah kie, kesel banget“. Maka kemudian saya pun harus menjawab “Nggih sampun, sak kersane sliramu mawon nduk”. Pasrah.. tanpa bisa protes. Tapi kok ya di hati ya masih gerundelan gak karu-karuan. Woooo.. kok ndak reti nek dikangeni po yo…. Aahhh… Ternyata ambane samudro ati saya masih jelas kalah dibandingkan ibu-ibu pejuang pedagang kuwih di Pasar Kranggan…




ngerti ko kalo dikangeni…ben tambah le kangen..xixiix
dan kini, aku makin merindukanmu nduk. semakin… semakin…