eudeart
Just another WordPress.com weblogArchive for July, 2007
Belajar Tawadhu’ Dari Sahabat
Kemarin…
Belajar mengaji pada ustadz Satori. Seorang ustadz di pondok pesantren Darul di bilangan Pogung. Tumben.. memang sedikit tumben. Ah.. ndak usah dibahas tumbennya. Pada intinya, saya ingin mencari ketenangan batin. Ombak kehidupan yang menampar pantai hati saya sedemikian besarnya sehingga meluluh lantakkan semuanya. Saya harus mengumpulkan serpihan-serpihan omah gubug hati saya. Tidak menyusun omah gubug baru. Saya mengumpulkan serpihan-serpihannya saja. Berharap masih ada sisa-sisanya.
Hari itu, pelajaran utamanya adalah tawadhu‘. Bersikap rendah diri dihadapan Allah. Dan bersikap rendah hati pada makhlukNya. Rendah hati di hadapan makhluk adalah cerminan tawadhu yang berhasil di hadapan Allah. Kenapa begitu ? Sebagai seorang makhluk, apa yang harus dibanggakan ? Harta ? Tubuh ? Pangkat ? Kecerdasan ? Wong itu cuma titipan Allah. Wong cuma dipinjami kok umuk. Analoginya sederhana. Jika kita dipinjami sebuah motor baru oleh seorang teman dan diijinkan untuk menggunakannya kapan saja. Apa yang sebaiknya kita lakukan ? Menjaganya dengan hati-hati tentu saja. Memakainya hanya jika kepepet. Takut jika nanti ada apa-apa kita harus bertanggung jawab ngganti toh ? Dan jika ada seseorang kemudian menanyakan “Wah.. motor e anyar ik. Apik tenaaannn.” Maka biasanya jawaban kita adalah “Wong mung disilihi je.” Ya ndak isa umug toh ? Ndak bisa bangga. Wong bukan punya kita. Demikian pula dengan atribut keduniawian yang menempel di diri kita. Sebuah barokah dan nikmat Allah ke kita itu tak lebih dari titipan saja. Kapan saja bisa diambil kembali.
Terbayang di mata saya betapa sombongnya saya berjalan di muka bumi. Dada ditegapkan. Semua asesoris lengkap dipakai. Handphone model PDA. Jam tangan. Motor mengkilap. Semua kebanggaan semu saya terbayang di muka. Teringat semuanya itu langsung mbleret saya. Mbrebes mili. Tergenang air mata di pelupuk mata. Betapa sombongnya saya ya Allah. Saya memohon untuk diampuni. Mohon diangkat kesombongan di hati saya.
Padahal sebelumnya baru saja bercengkerama dengan seorang sahabat. Dia merasa hidupnya jauh dari Tuhan. Kotor dan gelap. Dengan bangganya saya meyakinkan dia bahwa dia akan lebih cepat tobat daripada saya. Dengan perumpamaan sebuah kamar. Jika dia adalah kamar yang gelap, dan saya adalah kamar yang sedikit terang. Tentu akan lebih mudah menengok cahaya di dalam sebuah kamar gelap dibandingkan dengan kamar yang sedikit terang. Intensitas cahaya yang diperlukan untuk menarik perhatian di sebuah kamar gelap tentu lebih sedikit dibandingkan ruang yang ada cahaya. Demikian analogi dari saya. Tidak sadar betapa sombongnya saya menyatakan saya berada di kamar yang bercahaya. Tidak sadar betapa tinggi hatinya saya.
Padahal sahabat saya ini dengan tawadhu’nya dan ikhlasnya menginsyafi bahwa dia adalah kamar yang gelap dan kotor. Menundukkan dirinya tidak membuatnya kehilangan izzah (kemuliaan) di mata saya. Makin saya tersadar betapa saya harus banyak belajar ilmu tawadhu’ dari sahabat saya ini.
Kepada sahabatku, terima kasih sudah membuka hatiku akan kesombonganku. Maafkan atas kesombonganku. Sekali lagi, terima kasih….
Berdialog dengan Tuhan
Beberapa hari ini berat sekali rasanya. Rasanya ada yang ingin berontak dan keluar dari dalam dada. Serasa dihimpit dua tembok raksasa dan tidak kuasa menahan.
Namun, ternyata itu adalah sebuah rahasia dari Tuhan. Dan rentetan ini adalah sebuah rentetan panjang panggilan Tuhan kepadaku. Panggilan besar ini pun ternyata dilakukan pada bulan Rajab. Bulannya Allah. Syahrulloh… Bulan dimana perintah shalat pun disampaikan Allah kepada Rasulullah tercintanya langsung di sidratul muntaha.
Kegundahanku dan kebingunganku mulai memperoleh jawaban pasca pengajian haji mama papa di Solo. 3 kali dalam sehari memperoleh peringatan melalui pengajian tentang sholat membuatku tersadar bahwa pasti ada yang salah dengan sholatku. Dan aku pun mulai mencari.
Via mister google.com aku dipertemukan dengan sebuah blog review sebuah buku berjudul Pelatihan Sholat Khusyu’ karya Abu Sangkan. Dari blog itu aku membaca betapa indahnya sholat yang khusyu’ dan ihsan. Bertemu dengan Tuhannya. Berdialog dengan Tuhannya. Kembalinya ruh kita pada kesadaran tertinggi untuk mencapai kedamaian.
Sholat dhuhur kemarin menjadi sebuah awal kunci pembuka hati. Saat pertama kakiku kembali ke rumah Allah. Aku memulainya dengan kepasrahan. Aku tidak mencari khusyu’. Khusyu’ tidak usah dicari. Khusyu’ adalah karunia. Karenanya kita hanya bisa mempersiapkan diri untuk menerimanya. Dia akan datang bagi yang pasrah dan menerima. Aku tidak berkonsentrasi. Aku berserah diri seluruhnya kepada Allah. Aku akan berhadapan dengan penciptaku. Aku ajak ruhku untuk kembali ke rumah. Rumah Allah..
Aku baca takbir dengan perlahan. Seperti memanggil Allah. Pelan dan hikmat.
Dan tiba-tiba terdengar suara. “Ya hambaKu.. masuklah.. Aku sudah menunggumu.. lama sekali.. Aku rindu padamu.”
Air mata langsung membanjir dimataku. Dialog ini kemudian dimulai.
Aku baca doa Iftitah sebagaiman diajarkan Rasulullah tercinta. Aku mohon pada Allah untuk dibersihkan dosa dan dosa yang menempel di seluruh ragaku. Aku menangis. Aku mengakui betapa kotornya dan tidak pantasnya aku berada disitu. Berdialog denganNya.
Namun Tuhan ternyata Maha Pengampun. Sungguh Maha Pengampun. Kurasakan belaian lembut dikepalaku. Laksana belaian seorang ayah pada anak kesayangannya.
“Aku akan memaafkanmu, asal kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi”
“Tapi aku mungkin akan mengulanginya lagi.” Demikian kataku.
“Aku akan menjagamu dari hal-hal seperti itu, selama engkau mau mengingatKu seperti ini”
“Dan jika aku ternyata masih mengulanginya lagi?” Sahutku pelan.. Takut..
“Dan jika kemudian kau datang lagi padaKu seperti ini, Aku niscaya akan memaafkanmu. Tapi berjanjilah untuk berusaha menjauhinya. Karena aku sungguh tidak menyukainya.”
Tangisku pun makin deras mengalir. Tuhanku masih mengampuniku. Setelah banyak dosa yang aku lakukan kepadaNya.
“Baik ya Allah. Aku berjanji.” Aku berjanji dengan sepenuh hatiku.
Al-Fatihah kubaca perlahan. Surat Pembuka. Kubaca setiap ayatnya dengan hikmat. Kucermati artinya. Kurasakan maknanya. Sampai pada ayat Arrahmaan nir rahiim. Aku bersyukur dengan segala nikmat yang diberikan Tuhan. Kasih sayangnya melimpah ruah disetiap hari-hariku.
Tubuhku mulai bergetar hebat saat kubaca ayat ke empat. Maaliki yaumiddiin. Yang memiliki hari Pembalasan. Rasa takut itu hebat sekali. Tubuhku menggigil. Aku ketakutan luar biasa. Dosaku terhampar di depan mata. Aku berteriak memanggil namanya. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah… Aku takut ya Allah… Aku bagai anak kecil yang ketakutan sambil memanggil nama ayahnya.
Dan Dia kemudian memelukku. Menenangkanku.
Ihdinas shirotol mustaqiiem.. Tunjukkan lah aku jalan yang lurus ya Allah. Aku menangis lagi. Menangis dalam pelukanNya. Aku takut lagi. Aku tersesat selama ini. Jalan berliku-liku. Dan aku tersesat.
Dan Dia menggandeng tanganku. Laksana ayah yang menggandeng anaknya menyeberang jalan. Aku merasa tanganku meraihNya. Aku pasrah. Aku akan ikut kemanapun Dia membawaku. Jalan didepanku pun terbentang lurus. Panjang memang. Namun lurus.
Aku membaca surat pendek Al Ikhlas. Aku ingin mengagungkanNya. Dia adalah satu-satunya bagiku. Dia Tuhanku. Dia penolongku. Dia tempat aku menggantungkan semua harapanku.
Saat membaca doa ruku’. Aku menangis lagi. Ya Tuhanku. Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi. Aku mengakui kelemahanku sebagai makhluknya. Aku tidak berdaya apa-apa dihadapanMu.
Sami Allahu liman hamidah. Semoga Allah mendengarkanku.
“Ya Allah. Kanjeng mirsani kulo toh ?” Aku bertanya dengan perasaan takut. Aku bertanya bak seorang rakyat kecil kepada rajanya.
“Ya.. aku melihatmu.” Demikian Dia menjawabku.
Sujud. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku pasrah. Aku serata tanah. Tidak ada kecongkakan dan kesombongan yang bisa aku banggakan di depanNya. Aku lemah selemah-lemahnya. DihadapanNya aku tidak berarti apa-apa. Dan Dia masih mau berdialog denganku. Aku menangis… lama sekali.
Duduk antara dua sujud. Allahummaghfirli. Ya Allah kasihanilah aku. Aku mengemis padanya. Nyuwun duko kanjeng Gusti. Dan aku menangis lagi. War hamni. Sayangilah aku. Aku memohon untuk disayangi. Tanpamu aku tidak akan bisa hidup ya Allah. Airmata itu makin membanjir. Wajburni… War faqni. Warzuqni.. Berilah aku rejeki. Kulo nyuwun paring-paring Gusti Pangeran. Nyuwun rejeki. Dan Dia tersenyum. Wahdinii. Tunjukilah aku. Aku yang sedang bingung ini ya Allah. Tumpah semua uneg-uneg dihati ini. Rasanya ingin sekali menangis keras-keras. Wa afinii. Sehatkan aku ya Allah. Wa fu’anni. Dan maafkanlah hambaMu yang berdosa ini. Lama sekali aku duduk meresapi setiap arti dari kata-kata itu. Rasa kotor ini makin terasa dan makin membesar. Tumpah semua bak air bah keluar dari tanggul.
Dan dialog itu berulang setiap raka’at. Rasanya dialog ini menjadi sebuah privasi antara aku dan Tuhanku. Sebuah priviledge yang hanya bisa dimiliki antara aku dan Tuhanku. Maksudnya, inilah komunikasi 2 arah yang khusus antaraku dan Tuhanku. Akan mungkin sekali berbeda dengan komunikasi yang terjadi antara anda sekalian dengan Allah. Akan berbeda untuk setiap individu.
Pada sebelum sujud terakhir, aku bertanya padaNya.
“Paring mboten kulo nyuwun peparingan ?”
“Mintalah.. Niscaya Aku akan mengabulkannya.”
Dan tumpahlah semua persoalanku di sujud terakhir ini. Semua kegundahan hati ini tertumpah basah di sajadah. Aku mengadu. Aku memohon. Aku paring-paring kepadaNya. Terutama dengan masalah Genduk yang membuatku luluh lantak.
“Itukah permintaanmu ?” Dia tersenyum. “Aku akan mengabulkannya.”
Mendengarnya aku langsung menangis sejadi-jadinya. Ucapan terima kasihku tak henti-hentinya terucapkan. Bebanku serasa diangkat. Tembok besar yang menghimpitku serasa dipindahkan. Dada ini terasa lapang.
Kini, aku menantikan setiap saat shalat. Karena itulah saat aku bertemu PenciptaKu. Tuhanku. Yang mencintaiku. Dan selalu Mencintaiku…. Walau sudah lama aku tidak berdialog dengannya. Betapa rindunya Dia padaku.
“Sudah pulang kau hambaKu ?”
“Sudah berapa lama aku tidak pulang ya Allah ?”
“Berapa umurmu sekarang hambaKu ? Jumlahkanlah dengan bulan saat kau dikandung ibumu. Karena saat itulah Aku meniupkan ruhKu ke dalam kandungan ibumu. Selama itulah Aku merindukanmu untuk berbincang denganmu lagi.”
Dan aku hanya bisa menangis. Memandangnya dengan linangan air mata. Dan Dia menatapku dengan senyuman. Senyuman terindah yang pernah aku lihat. Dan aku berjanji akan lebih sering pulang. Aku rindu padaNya. Sungguh rindu.
To Genduk : Semalam aku memimpikanmu. Aku bermimpi menjadi imammu dalam sholat. Bersama pulang ke Rumah Allah. Aku merindukanmu nduk…
Filosofi Sholat
Hari ini adalah hari dimana hati ini terasa begitu berat. Terhempas sampai pada titik terendah. Hancur lebur.
Pasca sholat Subuh, televisi kamar tamu atas aku nyalakan. Sengaja mencari siraman rohani. Semoga saja bisa meringankan beban di hati. RCTI menyiarkan siraman rohani dengan tema sholat. Dinyatakan bahwa sholat adalah satu-satunya amalan yang diberikan Allah kepada Rasulullah secara langsung. Tidak melalui perantara. Ini adalah salah satu sebab mengapa sholat itu sangat penting. Aku masih belum sadar …..
Turun ke bawah. Mencari mama. Ternyata sedang menyeduh teh. Aku nyalakan televisi di bawah. Di TVRI kali ini siraman rohaninya. Dosen IAIN. Bapak Tulus namanya seingatku. Dan bahasannya juga mengenai sholat. Hanya dari sisi pandang yang berbeda. Bahwa sholat itu tidak boleh ditinggalkan. Bahkan dalam bepergian sekalipun. Dan akupun masih belum sadar juga ….
Hari ini adalah hari yang berat untukku. Karenanya aku putuskan untuk ikut mama papa pengajian di Solo. Daripada di rumah sendiri. Berpikir yang tidak-tidak. Mungkin lebih baik aku mengaji. Siapa tahu dapat ilmu untuk menenangkan hati.
Di pengajian haji mama papa, ustadz yang dipanggil ternyata ustadz Satori. Ustadz yang sudah sangat familiar namanya. Namun belum pernah sekalipun aku ikuti pengajiannya. Dan temanya kali inipun sholat. Dilihat dari sisi pandang filosofi gerakan sholat.
Dimulai dari niat yang berarti mempersiapkan hati. Takbir. Adalah sebuah pengakuan akan kebesaran Allah. Menggambarkan pengumuman ke”sholat”an kita. Mereferensi kelahiran kita di muka bumi.
Sholat dilakukan pada posisi berdiri. Berdiri bermakna bahwa otak yang merepresentasikan ego berada di atas hati yang merepresentasikan nurani. Ini adalah fase dimana ego lebih mengendalikan nurani. Contoh hidup manusia pada fase ini adalah fase anak-anak. Diberi gambaran bahwa betapa sulitnya anak kecil berbagi pada sesamanya adalah gambaran betapa anak kecil masih didominasi kesadaran ego dibandingkan kesadaran nurani. Sering ditemui anak kecil yang tidak mau berbagi permen yang dimilikinya pada adiknya sekalipun. Karena takut jatahnya berkurang. Ini adalah fase dmana ego masih berada di atas nurani.
Gerakan berikutnya adalah ruku’. Adalah gerakan yang menggambarkan bahwa ego dan nurani berada dalam posisi yang sama. Sejajar. Fase ini menggambarkan fase kehidupan manusia sebagai seorang remaja. Terkadang antara nurani dan egonya bertentangan. Pernahkah anda merasakan betapa enggannya kita berbagi tempat duduk di bis kota pada seorang ibu tua ? Atau enggannya berbagi uang jajan kepada seorang peminta-minta di lampu merah ? Dalam hati ada pertentangan. Jika diberi uang kita habis, kalau tidak diberi kok kasihan. Inilah fase yang digambarkan oleh gerakan ruku’. Seringkali pertentangan itu kemudian dimenangkan oleh ego kita. Ketidakstabilan fase ini ditegaskan lagi adanya gerakan berdiri sebelum sujud. Ini menandakan betapa seringkali pertentangan batin ini dimenangkan oleh ego.
Gerakan sujud. Adalah gerakan yang menggambarkan bahwa kini ego berada di bawah nurani. Adalah penggambaran fase kehidupan manusia berada di fase pencerahan. Fase kedewasaan. Cerita hikayat tentang Syaidina Ali bin Abi Thalib. Suatu hari beliau harus membelanjakan uang sebesar 6 dirham ke pasar untuk membeli roti bagi anak-anak beliau. Namun ditengah jalan, beliau bertemu dengan seorang fakir yang sungguh perlu dibantu. Jika beliau masih berada di fase ruku’, tentu bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan beliau. Namun beliau memberikan semua uang itu kepada fakir tersebut dengan ikhlas. “Semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadamu.” Demikian doa dari sang fakir tersebut. Saat beliau dalam perjalanan pulang, beliau bertemu dengan seorang sahabat yang sedang berlebihan makanan. Dan beliau kemudian dibagi yang jumlahnya lebih dari jumlah yang bisa dibeli dengan uang 6 dirham. Itulah gambaran fase sujud dari seorang Ali bin Abi Thalib.
Gerakan duduk. Adalah penggambaran dari kepasrahan. Pasrah dan tawakal atas semua keputusan Allah akan dirinya. Betapa bahwa manusia itu sudah dijamin semua kebutuhan hidupnya di dunia.
Dan gerakan salam. Adalah penggambaran betapa kita kelak akan meninggalkan dunia. Dengan berpamitan kepada orang-orang terdekat kita. Baik yang di kanan, maupun kiri. Dan memberikan doa, semoga engkau diberi keselamatan.
Dan kemudian akupun tersadar….
3 pengajian dengan tema sholat di hari yang sama. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah peringatan dan hikmah dari Allah. Ada hal yang kurang dalam aku memaknai sholatku.
Dan jadikanlah sholat dan doa sebagai senjatamu.
Ada sebuah kepasrahan yang kurang aku bisa maknai pada sholatku. Dalam ibadahku. Dan dalam keseharianku. Pasrah pada keputusanNya. Dan percaya bahwa Ia tidak akan memberikan kejadian yang hanya akan menyulitkanku. Karena hanya Dia yang paling mengerti aku sebagai penciptaKu. Dan hanya Dia yang sudah menyiapkan penyelesaian terbaik untukku.
Karenanya kemudian dengan semua kejadian ini. Aku pun berpasrah diri padaMu. Hanya kepadamu aku mohon pertolongan. Hanya kepadamu aku bermunajat. Dan hanya kepadamu aku minta perlindungan.
Ya Allah. Aku mengadu kepadaMu. Aku bersujud dihadapmu. Dengan segala kesalahan dan dosaku. Aku mohon ampun kepadaMu.
Hari ini aku merasa berada pada titik terendah. Aku yakin bahwa kejadian ini hanya bisa terjadi atas ijinMu ya Allah. Dan aku yakin tidak ada ijinMu yang bertujuan untuk menyulitkanku. Saat Engkau memberikanku ujian, telah Engkau siapkan pula jawaban. Maka aku berharap dan bermunajat, semoga Engkau mudahkan bagiku penyelesaian masalah ini. Semoga Engkau bukakan hatinya untuk memaafkanku. Semoga Engkau condongkan hatinya untuk mencintaiku karenaMu ya Allah. Hanya Engkaulah yang Maha Memiliki. Hanya Engkaulah Penguasa Hati setiap makhlukMu. Aku hanyalah hamba yang lemah. Yang hanya mampu memohon kepadaMu. Semoga Engkau mengabulkan doaku ya Allah. Amien ya robbal alamin….
Dan Malaikat Itu Kini Sendiri..
Alkisah seorang malaikat diciptakan oleh Tuhan dengan satu sayap. Sayap hanya ada di sebelah kirinya. Sebelah kanannya tidak tumbuh sayap. Sehingga kemudian dia bertanya kepada Tuhan.
“Ya Tuhanku yang Maha Mengetahui, mengapa engkau ciptakan aku dengan satu sayap saja. Aku tidak akan bisa terbang untuk mengerjakan tugasku. Padahal setiap hari aku harus menyusuri alam semesta dari selatan ke utara pada pagi hari dan kembali dari utara ke selatan pada sore harinya. Tapi dengan tanpa sayap ini aku hanya bisa menyusuri sepertiganya saja.”
Dan Tuhan pun berkata. “Malaikat selatanku yang baik, Aku menciptakanmu dengan satu sayap, agar dapat Kupertemukan kamu dengan pemilik sayap sebelahmu. Kelak kamu akan bertemu dengannya. Saat itu terjadi, semoga kamu menjaganya dengan baik. Dan semoga engkau makin pandai bersyukur”
Dan sang malaikat selatan pun terdiam dan patuh. Dia menunggu dan menunggu. Dia yakin akan janji Tuhan. Tetap mengerjakan tugasnya dengan baik, walaupun tidak bisa sempurna. Namun di usahakannya untuk tetap mengerjakan tugasnya. Bila pada awalnya dia hanya bisa mengerjakan sepertiga tugasnya, kini dia bisa berjalan separuh dari tugasnya. Tepat separuh dari perjalannya.
Sampai suatu ketika dia bertemu seorang malaikat yang mirip dengannya. Hanya memiliki sebelah sayap. Rupanya dia malaikat yang bertugas untuk sisi timur dan barat. Dan dia juga baru bisa berjalan separuh dari tugasnya. Sampai kemudian mereka bertemu.
Malaikat itu begitu takjub melihat sosok malaikat lain seperti yang dijanjikanNya. Malaikat timur itu begitu anggun, rupawan dan begitu cantik. Dan malaikat itupun mulai bertanya.
“Apakah Tuhan pernah menjanjikanmu untuk bertemu dengan seorang malaikat lain yang hanya memiliki sebelah sayap ?”
“Iya, Tuhan saat menciptakanku berkata bahwa aku akan menemukan sayap sebelah kiriku pada malaikat lain. Dan saat itu terjadi, semoga aku bisa menjaganya dengan sekuat tenaga.”
“Mungkinkah malaikat yang dimaksud oleh Tuhan itu aku ?”
“Mungkin saja, bagaimana kalau kita mencoba terbang bersama ?”
“Tapi tugasku dari selatan ke utara, sedangkan kamu dari timur ke barat. Bagaimana bisa ?”
“Berpikirlah positif. Dengan terbang bersamamu bersamamu, mudah-mudahan kita bisa menunaikan tugas kita bersama dengan baik. Mungkin inilah maksud Tuhan jika aku bertemu denganmu.” Demikian ucapan malaikat timur itu.
Dan mulailah kemudian mereka terbang berpasangan. Kini semua nampak begitu indah. Lebih mudah. Letih tak lagi terasa karena saat bersama. Saat malaikat selatan kelelahan, maka malaikat timur membimbing dan menenangkannya. Semua tampak menjadi sangat mudah bagi malaikat selatan. Begitu menyenangkan dan menenangkan batinnya.
Sampai suatu waktu, malaikat timur tidak lagi terbang secepat dulu. Malaikat selatan bertanya. “Kenapa engkau tak lagi terbang secepat dulu ?”
“Aku terlalu lelah. Sayapku mulai koyak. Bulu-buluku mulai rontok. Aku tidak kuat lagi terbang bersamamu.”
“Kenapa bisa begitu ?”
“Aku harus melindungimu dari sinar matahari saat pagi saat kita terbang dari selatan ke utara. Dan melindungimu dari matahari sore saat terbang dari utara ke selatan. Sayapku harus bekerja dua kali lebih keras. Dan jika kemudian engkau terlalu lelah untuk membantuku terbang dari timur ke barat, aku harus melalukannya sendiri. Aku berjalan lagi sendiri untuk menyelesaikan tugasku.”
“Kenapa tidak engkau sampaikan, kalau aku tidak menjagamu dengan baik ?”
“Aku berharap suatu hari kau akan berubah. Menengok ke arahku. Ke arah sayapku. Namun melihatmu bahagia bisa terbang, membuatku tak tega mengatakannya padamu. Yang aku bisa hanya menjagamu. Terbang bersamamu. Karena titah Tuhan adalah menjagamu dengan segenap kemampuanku.”
“Namun kini, sepertinya aku tidak lagi mampu terbang bersamamu. Sayapku terlalu lelah untuk terbang. Sayapku telah terkoyak.”
“Kenapa baru kau katakan sekarang. Saat semuanya menjadi serba terlambat ?”
“Aku tidak ingin melihatmu sedih. Karena menjagamu dengan segenap kemampuanku adalah mimpiku saat aku berjalan sendiri dahulu.”
“Aku sudah menyakitimu. Bahkan tidak mengetahui bahwa aku telah menyakitimu jika kau tidak mengatakannya padaku hari ini. Aku sudah mengingkari titah Tuhan untuk menjagamu. Aku berdosa padamu dan Tuhan.” Malaikat selatan mulai terisak-isak. Terbayang betapa kesendiriannya sewaktu dia berjalan seorang diri. Tanpa sepasang sayap. Ketakutannya untuk berjalan sendiri membuatnya tidak kuat untuk melepaskan malaikat timur.
“Tolong jangan pergi. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Aku tak bisa, aku harus pergi. Aku harus memperbaiki sayapku. Aku harus pergi. Semoga suatu saat kita bertemu lagi.”
Hari malaikat selatan kini sepi lagi. Dia harus berjalan lagi untuk menyelesaikan tugasnya. Dan kini sendiri. Tanpa pasangan.
Dia berharap semoga malaikat timur dapat kembali terbang bersamanya. Namun entah kapan… Jika Tuhan mengizinkan….
*teruntuk Genduk. Malaikat pemilik sayap sebelahku. Maafkan aku….*
Sak Kersane Mawon
Pernahkah ke pasar tradisional di daerah Kranggan Jogja dan membeli penganan tradisional sebangsa kipo, jadah bakar, lemet, lepet, cothot dan lainnya ? Biasanya panganan-penganan dan nyamikan kecil seperti ini dijual oleh seorang ibu yang sudah cukup berumur. Yang biasanya saat kita ingin membelinyapun beliau sudah sripat sripit matanya, terkantuk-kantuk karena harus mulai berdagang sejak jam 3 pagi. Itupun terkadang kita masih dengan sadisnya menawar barang dagangannya pula. Sehingga kemudian keluarlah ungkapan halus dan nada yang pasrah dari bibir beliau “Nggih sak kersane njenengan kemawon”.
Artinya kurang lebih “terserah saja kepada anda”. Dalam hal ini, anda bukan selalu berarti saya, kamu atau kalian loh ternyata. Jika diperhatikan, bentuk ungkapan terserah beliau merupakan penyerahan beliau-beliau ini lebih pada kuasa yang lebih besar. Kepada Sang Pemberi Rejeki. Bukan hanya terserah kepada pembelinya saja. Beliau dan kalangan beliau sangat percaya bahwa urip-pati lan rejeki sudah ada yang mengatur secara rapi. Well planned. Jadi saat kita menawarpun, bagi beliau itu sudah beliau pasrahkan kepadaNya. “Silakan saja ditawar, rejeki kawulo sudah ada yang mengatur setiap harinya.”
Bentuk rasa syukur dan ikhtiar yang luar biasa besar. Penerimaan dan kebesaran hati beliau untuk menerima semua keputusanNya atas hidupnya luar biasa. Jika dalam usahanya beliau hanya menerima cukup bahkan kurang, pun beliau tetep mengucap “Ngalkamdulilah.. Matur nuwun Gusti Pangeran.” Dan jika kemudian berlebih, maka itupun dianggap sebuah rejeki yang kemudian akan dibagi-bagi rata pada semua anak dan sanak keluarganya. Sebuah bentuk dan manifestasi dari kelegaan hidup. Karena hidup tak harus mengejar sesuatu. Hidup hanya numpang mampir minum. Sak klebat, banjur lungo meneh.
Jadi saat pulang kantor kemarin, dan saat hati ini bungah karena akan segera bertemu Genduk tercinta. Sudah siap mandi dan berdandan ngganteng bin bagus. Namun tiba-tiba ada bunyi dering terlpon. Dan ternyata ada telpon dari Genduk dan berkata “Mas, ke ndalemnya besok saja ya, barusan pulang kuliah kie, kesel banget“. Maka kemudian saya pun harus menjawab “Nggih sampun, sak kersane sliramu mawon nduk”. Pasrah.. tanpa bisa protes. Tapi kok ya di hati ya masih gerundelan gak karu-karuan. Woooo.. kok ndak reti nek dikangeni po yo…. Aahhh… Ternyata ambane samudro ati saya masih jelas kalah dibandingkan ibu-ibu pejuang pedagang kuwih di Pasar Kranggan…
Looking For CulinaryMan
Looking for culinaryman alias mencari sosok pencinta kuliner. Siapakah gerangan dia ?
Berawal dari pemeksonan (berasal dari kata pekso) saya terhadap seorang teman untuk mengisi kuesioner skripsi saya. Dan karena kuesioner saya itu berkaitan dengan pola dan minat makan seseorang, maka kemudian ada salah satu pertanyaan yang berisi bahwa : Jenis makan manakah yang paling sering anda lakukan di luar rumah. Dan dari semua jenis makan (sarapan, makan siang, after lunch alias makan sore pasca pulang kantor, makan malam dan supper alias makan tengah malah), beliau memilih semuanya. Amazingkah ? La yah jelas donk.. luar binasa pokokmen. Walaupun sebenernya beliau hanya mewakili orang-orang sejenis beliau yang tresno banget kaliyan kuliner Indonesia.
Beliau adalah salah satu contoh dari beribu-ribu contoh orang yang sangat mencintai masakan Indonesia. Jika kemudian di cari, golongan manakah yang paling culinest diantara semua golongan di Indonesia. Maka, beliau dan golongannya adalah golongan kulinariman. Beliau adalah anggota golongan cowok (semoga benar adanya beliau), berpenghasilan tinggi (tidak peduli darimana mengalirnya uangnya), dan ngekost. Golongan ini adalah golongan yang tidak bisa masak, suka makan sehingga harus makan di luar rumah. Sehingga setiap kali makan, mereka harus menghabiskannya di luar rumah. Bayangkan kecintaan mereka terhadap warung tetangga mereka, dan warung makan yang nikmat lan ngangeni lidah sensitif mereka. Jika mereka sehari makan 5 kali (sesuai hasil kuesioner saya), dikalikan jumlah hari dalam 1 tahun yaitu 365. Maka, paling tidak mereka makan 1825 kali di tempat berbeda. Pernah kah anda menghitung Pak Bondan Winarno sang Pakar Kuliner itu makan berapa kali dalam setiap tayangannya ? Cuma 3 kali. Itupun hanya hari Senin sampai Jumat maksimum. Cuma sebanyak 624 kali dalam setahun, Pak Bondan sang Pakar Kuliner itu makan di luar. Teman saya itu 3 kali lipat lebih rajin mengelana dan menikmati kuliner Indonesia dibandingkan Pak Bondan.
Maka, kemudian saya sampaikan salam SALUT dan HORMAT. Andalah orang yang cocok dinobatkan sebagai Kulinariman. Dan jika temen-temen ingin melihat cerita beliau, silakan mampir di www.otakudang.org. Inilah sosok seorang kulinariman yang sebener-benernya. Bahkan dari judul blognya pun menyiratkan kecintaan beliau terhadap makanan yang berasal dari Otak Udang. Anda bisa bayangkan betapa sulitnya mencari otak dari udang. Jadi mungkin buat beliau, otak udang adalah contoh makanan eksotis nan bergizi tinggi sebagai bentuk apresiasi beliau terhadap kekayaan rasa dan sensasi makanan.








