eudeart
Just another WordPress.com weblogUntukmu Mutiara Hati..
Kekasihku tercinta,
Suatu hari kau akan berkelana di dunia maya. Entah sengaja, atau tidak. Dan mungkin engkau akan bertemu dengan tulisan ini.
Semoga saat kau membaca tulisan ini kabarmu baik-baik saja. Dan semoga semua berjalan sesuai dengan apa yang engkau inginkan.
Aku hanya ingin bercerita suatu pada suatu titik dalam hidupku ketika aku merasa harus menulis ini. Tulisan ini memang untukmu.
Hidup ini bagaikan air sungai yang mengalir. Airnya kadang akan bertemu dengan batuan kecil, sehingga akan menerjangnya. Kadang akan bertemu jurang sehingga mengisi ruang kosongnya sampai penuh dan kemudian akan terus mengalir lagi. Atau bertemu tebing sehingga alirannya terbelah. Tapi dia akan tetap mengalir menuju muaranya di ujung lautan.
Hidupmu akan terus mengalir dan waktu bukanlah sesuatu yang kita miliki. Dia akan terus bergulir hingga kemudian tak akan ada waktu kembali. Tapi pastikan kamu sudah melakukan yang terbaik hingga suatu saat nanti, jika kau sudah tua dan duduk di beranda bersama orang-orang yang paling engkau cintai, engkau dapat bercerita bahwa hidupmu penuh gairah. Tak ada satupun yang engkau sesali. Karena engkau sudah mencoba segalanya tanpa pernah takut gagal. Dan kau terus berpegang pada cita-cita dan keyakinan akan kekuatan cinta.
Cinta.. dia adalah kekuatan terbesar di dunia. Karena seluruh alam semesta diciptakan atas dasar cinta. Cinta Tuhan adalah cinta yang abadi. Namun dia menitipkannya di dalam hatimu. Dia juga menitipkan alat untuk berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh seluruh alam semesta. Bahasa yang tidak terucapkan. Bahasa cinta.
Hidupmu akan terus berjalan seperti angin. Terkadang pelan, terkadang cepat. Terkadang harus bertemu gunung, kadang harus bertemu lembah. Tapi dia tetap berjalan menuju arah yang pasti. Engkaulah sang penentu arah. Kemana arah hidupmu, adalah engkau yang menentukan. Takdir bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Karena takdir adalah sesuatu yang engkau kejar dan raih. Cita-cita adalah kekuatan yang mendorongmu mencapai mimpi dan kebahagiaanmu.
Jika suatu saat engkau terbangun dari tidurmu. Menangis karena bingung harus bagaimana. Atau jika suatu saat engkau merasa hidupmu berhenti. Cobalah untuk bertanya pada hatimu. Hati adalah tempat Tuhan bertahta. Dia bersabda melalui hati. Hati selalu berkata jujur. Dengarkan dengan seksama. Jangan gunakan akal dan segera lakukan apa yang hatimu inginkan. Jangan takut, karena hati selalu jujur.
Hati akan menuntunmu pada tempat yang engkau tak pernah ketahui. Terkadang mengejutkan, tapi dia adalah tempat yang ditakdirkan untukmu. Maka lakukanlah dan berjalanlah.
Aku titipkan kasihku pada angin. Kutitipkan cintaku pada cahaya rembulan dan matahari.
PS : aku merindukanmu dalam setiap tarikan napasku.
Tentang Sampul Buku
Zahirku.. Ijinkan aku bercerita tentang sampul buku.
Pada awalnya saat keluar dari percetakan, sampul buku masih bertaut. Keduanya bersatu dan saling melindungi bagian dalamnya. Seluruhnya bekerja sama dalam harmoni yang indah.
Kemudian sang penyair datang dan membuka buku tersebut. Kedua sampul terpisah sejauh kemungkinan.
Sang menyair menuliskan kata-kata indah dan puisi sejuk di dalam halamannya. Sesekali merenung dan menggumam. Sesekali menulis lagi. Tapi buku itu tidak pernah tertutup. Sang sampul buku pun tidak pernah bertaut.
Halaman terakhir dari buku itu selesai. Sang penyair memandang puas. Dibolak-baliknya buku itu. Dan akhirnya buku itu ditutup. Menjadi sebuah buku puisi yang indah dan bermakna. Sang sampul pun bertaut lagi. Mereka bertemu lagi dalam keabadian.
Itulah kita, terpisah jarak, waktu dan kejadian. Bukan karena keinginan, tapi karena memang ditakdirkan berpisah. Yakinlah ini hanya sementara. Karena buku pasti selesai. Hujan pasti berhenti. Dan matahari akan bersinar lagi.
Bagiku, engkau sudah menjadi kekasihku, istriku, ibuku, kakakku, adikku dan sahabatku. Maka kita akan bertemu lagi entah disini, atau disana.
Dan aku selalu menunggumu di Ithaca. Di padang rumput sunyi yang indah. Bersama mentari dan langit yang selalu biru. Karena engkau adalah Zahir bagiku. Dan aku yakin demikian pula aku bagimu…
Menjadi Lilin
Ayah.. Bagaimana mencintai dengan benar ?
Anakku.. Untuk mencintai dengan benar, jadilah seperti lilin… Biarkan cahayamu menerangi hatinya dan menerangi setiap hari-hari yang dilaluinya walaupun itu memakan habis seluruh dirimu.. Itulah makna cinta sejati
Ayah.. Apakah lilin tidak berharap sama sekali ?
Anakkku.. Apakah lilin pernah menolak saat engkau nyalakan dia ?
Ayah.. Bagaimana jika aku menjadi lilin tapi yang memegangku orang buta ?
Anakku.. Sekalipun dia buta, dia akan merasakan hangatnya cahayamu di tangannya. Usah kau risau bahwa dia tidak mengerti. Sekalipun orang buta, dia akan tetap merasakan keberadaanmu di hari-harinya lewat hangatnya sinarmu..
Ayah.. setiap lilin tentu ada waktunya habis. Jika sudah cintaku sudah habis, lalu bagaimana ? Bukankah mereka jadi tidak bisa merasakan cintaku lagi ?
Anakku.. kali ini aku tidak bisa menjawab. Hanya dirimu yang bisa menjawab, selama apa engkau akan berpijar sebagai lilin ?…
Mohon Maaf Untuk Tidak Menulis
Mohon maaf untuk tidak menulis dalam beberapa waktu terakhir.
Bukan tidak ingin menulis, tapi sedang bingung apa yang mau ditulis. Rasanya tidak ada sumbangsihnya bagi anda-anda yang membaca sekalian selain keluh kesah dan gerutuan saya semata.
Ijinkan saya merenung sejenak, untuk dapat menulis dengan lebih baik di kemudian hari. Dan semoga tulisan saya juga jadi bermanfaat untuk anda sekalian.
PS : yang aku inginkan hanya melihatnya tertawa bahagia.. lagi..
Indahnya Bertauhid
Tauhid secara mudah diartikan sebagai menuhankan hanya satu Tuhan. Yaitu Allah.
Implementasinya ?
Kalimat tauhid yang kita kenal adalah La Ilaha Ilallah.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi tiada Tuhan selain Allah.
Jadi tidak terasa adanya ketinggian dari kalimat ini. Padahal, kalimat ini adalah kalimat awal yang akan diucapkan oleh seorang yang memasuki gerbang muslim saat bersyahadat. Kalimat ini diturunkan langsung oleh Allah. Lalu dimana letak keluarbiasaannya kalau hanya seperti ini ?
Jika kita ingin mengerti ketinggian makna dari kalimat ini, mari kita ikuti tata bahasa dimana kalimat ini berasal. Kita mengikuti tata bahasa Arab ya.
La dalam bahasa arab berarti tidak
Ila dalam bahasa arab mempunyai 3 makna. Yaitu : yang dicintai, yang diharapkan, dan ditakuti.
Jadi dalam bahasa arab, kalimat La Ila saja berarti tidak ada yang pantas dicintai, diharapkan dan ditakuti.
Kalimat ini berarti bahwa selama masih ada yang dicintai, diharapkan dan ditakuti selain Allah, maka cara bertauhidnya masih belum sempurna. Kenapa belum sempurna ?
Ibarat membangun rumah. Jika kita sudah memiliki bangunan lama, kemudian ingin dibangun bangunan baru yang lebih megah dan mewah dengan segala perabotannya, maka bangunan yang lama harus dirubuhkan terlebih dahulu. Dapatkan sebuah rumah mewah menggunakan pondasi dari bangunan lama yang lebih ringan ? Tentu tidak.
Untuk membuat supaya rumah tersebut menjadi sempurna, maka pondasi yang dibangun juga harus menyesuaikan dengan bentuk bangunannya. Jika bangunannya baru, maka pondasinyapun harus baru.
Maka apabila kita ingin menuhankan Allah saja, maka semua yang menjadi “Ila” harus dihancurkan.
Apakah Ila itu ? Yaitu segala sesuatu yang membuat hati kita takut, berharap dan mencintainya sedemikian kuat sehingga cemas. Apapun itu. Pernah takut kehilangan dompet ? Itulah Ila. Pernah takut kehilangan handphone ? Itulah Ila. Pernah berharap lulus ujian sampai cemas ? Itulah Ila. Semua yang membuat hati kita menjadi cemas karena takut, takut karena terlalu berharap dan takut karena terlalu mencintai, itu adalah Ila.
Bagaimana menghancurkan Ila sehingga tidak ada lagi Ila selain Ilallah ?
Pernahkah anda mencoba untuk melafadzkan dzikir tersebut di sela waktu-waktu anda tanpa henti ? Seingat anda saja. Dengan mengerti makna dari kalimat tersebut, dan kemudian melafadzkannya (berdzikir), maka anda akan terkejut ketika menemukan betapa mudahnya bertauhid.
Jangan berpikir… hanya rasakan saja. Karena Allah berbicara melalui hati. Ilham akan datang langsung pada hati anda, tidak melewati pikiran. Ilham akan datang lebih cepat dari kemampuan pikiran manusia. Anda akan mengetahuinya jika sudah datang.
Doa Rasulullah
Allahumma arinal haqqa haqqan warzuq nattiba’ah wa arinal batila batilan warzuqnajtinabah
Ya Allah, tampakkan kepada kami yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya.
Ya Allah, semoga Engkau tunjukkan kepada kami mana yang benar dan mana yang salah. Dan kuatkan hati kami menuju pada yang benar. Amien ya robbal aalamiin.
Please.. Help Me..
Ever feels like your live now is a nightmare and you can not wake up ?
Frightening isn’t it?
Huff… I tried to understand every single moment that came to me lately. Try to figure out every light on every sorrow that came. Try to understand every words you’ve said even the truth is somehow contrarian. Try to believe even seems everything to be lied upon me. Try to understand from your point of view even it confusing me. Try to follow your even your torrent drown me.
Try to stay strong by myself even the I have to crawl to move ahead. Try to keep my faith that there is hope somewhere even the darkness wrap me slowly. Keep struggle to move to the hope even the hope itself is getting farther to get. Huff..
Please.. Somebody wake me up if this is just a nightmare. I can’t take it anymore.
Pleasee….
I Need You
I don’t need a lot of things
I can get by with nothing
Of all the blessings life can bring
I’ve always needed something
But I’ve got all I want
When it comes to loving you
You’re my only reason
You’re my only truth
I need you like water
Like breath, like rain
I need you like mercy
From heaven’s gate
There’s a freedom in your arms
That carries me through
I need you
You’re the hope that moves me
To courage again
You’re the love that rescues me
When the cold winds, rage
And it’s so amazing
’cause that’s just how you are
And I can’t turn back now
’cause you’ve brought me too far
I need you like water
Like breath, like rain
I need you like mercy
From heaven’s gate
There’s a freedom in your arms
That carries me through
I need you
Oh yes I do
I need you like water
Like breath, like rain
I need you like mercy
From heaven’s gate
There’s a freedom in your arms
That carries me through
I need you
Oh yes I do
I need you
I need you
Mengambil Hikmah Kehidupan dalam 2 Hari Ini
Seorang teman datang jauh-jauh dari Jakarta untuk membantuku mengatasi problem yang sudah menggantung selama 3 bulan lebih ini. Banyak nasehat yang disampaikan yang membuatku melihat di luar dari problem yang aku alami. Banyak cerita yang ternyata membuatku mampu melihat ada hal baik dalam setiap kejadian. Bahkan dalam keterpurukan sekalipun. Beberapa di antaranya akan kuceritakan ulang.
Pasca gempa setahun silam di Jateng dan DIY. Beliau sedang berada di Klaten untuk membantu korban gempa. Hari ke 5 pasca gempa. Pagi-pagi dan sedang berusaha untuk sarapan dari roti bakeri seharga 1000 rupiah yang rasanya sudah agak telat masa kadaluarsanya. Baru 2 gigit dan terasa bahwa roti tersebut sudah agak apek. Tiba-tiba datang seorang anak kecil dan bertanya “Bapak makan apa ?”. Beliau kemudian memandang anak kecil tersebut dan mengangsurkan roti tersebut. “Kamu mau?”. Dia mengangguk kecil. Kemudian dia memanggil teman-teman bermainnya yang berjumlah 10 orang. Ucapnya kala itu “Ojo akeh-akeh yo, ben komanan kabeh“. Jangan banyak-banyak ya, biar kebagian semua. Apakah anda pernah bayangkan berbagi roti kecil seukuran diameter 10 cm dengan 10 orang sahabat anda ? Bahkan roti tersebut sempat akan dibuang karena sudah bau apek. Apa anda tahu bahwa anak kecil tersebut baru saja kehilangan seluruh anggota keluarganya ? Dia tidak menangis, tidak bersedih, dan kemudian dia bermain lagi dengan teman-temannya.
Anak ini adalah gambaran tentang kekuatan ikhlas dan kemauan untuk memilih. Dia memilih untuk melangkah ke depan dan menjadikan yang sudah lewat sebagai sebuah hikmah yang harus diambil tapi tidak menjadikannya sebagai beban dan alasan untuk bersedih terus menerus. Cerita ini menegur saya untuk berhentilah menyakiti diri sendiri. Bangkitlah dan melangkahlah. Kamu bisa menjadi lebih baik dengan berusaha. Kamu bisa menunjukkan pada orang yang kamu sayangi bahwa kamu bisa berubah.
Masih di daerah gempa. Daerah lain di Klaten. Beliau lagi-lagi sedang makan. Kali ini snack ringan model stik. Bisa anda bayangkan seperti apa bentuknya. Harganya dalam rupiah tak lebih dari 1500 kalo tidak salah. Seorang ibu tua sedang melihat beliau. Beliau mengangsurkan snack tersebut. Dan ibu tersebut mengambil. Tapi hanya 3 batang. Kemudian disimpannya dibalik stagen yang dipakainya. “Kok ndak dimakan bu ?” “Saya sudah kenyang kok pak.. ini buat nanti saja” Apakah anda pernah merasa cukup dengan 3 batang stik snack ? Ibu itu hanya mengambil apa yang dia butuhkan saja. Tidak lebih. Biarlah sisanya untuk orang lain yang lebih membutuhkan.
Ibu ini adalah sebuah gambaran betapa kita sering serakah untuk mengambil lebih dari yang kita butuhkan tanpa melihat orang lain. Betapa egoisnya kita jika hanya melihat dari sisi kita sedangkan kita tidak melihat orang lain. Cerita ini mengingatkan saya untuk cobalah mengerti akan kebutuhan dan keinginan orang lain. Bukan dari sisimu semata, tapi dari cara mereka melihatmu. Tanyakan jika kamu tidak mengerti. Jangan menganggap dia akan mengerti maksudmu kita kamu diam. Dan jangan menganggap diam itu berarti menerima. Tanyakan dengan jelas maksudnya, agar kamu mengerti apa yang dia inginkan dan rasanya
Seorang ibu penjual di Pasar Beringharjo Jogjakarta. Setiap hari harus berjalan 10 kilometer untuk berjualan dan mengantungi keuntungan tak lebih dari 10 ribu per hari. Pakaiannyapun hanya 2 pasang. 1 untuk berjualan, dan 1 untuk di rumah. Tahukah anda bahwa ibu penjual ini mempunyai 5 orang anak yang 4 di antaranya bergelar Doktor dan 1 orang lagi baru saja lulus Fakultas Kedokteran sebuah Universitas terkemuka di Jogjakarta ? Beliau memilih untuk tidak memberatkan anak-anaknya dan tetap bekerja, karena dia ingin menghargai hidupnya. Inilah caranya untuk tetap bersyukur atas karunia Allah padanya.
Ketiga cerita tersebut di atas adalah kisah-kisah orang-orang yang tidak menyerah. Masalah akan selalu datang dalam kehidupan kita. Pilihan kita adalah lari dari masalah atau menghadapinya. Dan orang yang lari dari masalah tidak akan pernah dapat bahagia karena akan selalu dikejar oleh masalah tersebut. Dan orang yang menghadapi masalahnya akan menjadi orang yang belajar. Belajar dari kesalahan dan kemudian melangkah menuju hal yang lebih baik.
Kemarin aku mengalami 2 pernikahan. Dengan 3 kejadian. Pernikahan pertama adalah pernikahan di masjid kampus saat tidak sengaja aku sedang ingin sholat dhuhur di masjid kampus sebelum datang ke perhelatan pernikahan seorang rekan.
Tampak berbahagia sekali pasangan yang baru menikah tersebut. Air mata tidak henti-hentinya menetes dari kedua mempelai. Mereka baru saja mengambil keputusan berat untuk menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim).
Saat seorang muslim laki-laki atau perempuan memutuskan untuk menikah, berarti dia siap berikrar di depan Allah untuk memasuki sebuah fase yang tidak dia ketahui sama sekali akan seperti apa dan hanya berharap kepada Allah atas pertolonganNya untuk menjaganya. Mereka memilih untuk keluar dari comfort zone yang selama ini mereka alami di dalam keluarga untuk kemudian berikhtiar dengan ikhlas kepada Allah tentang apa yang akan mereka terima dan akan mereka lakukan. Ibarat akan nyemplung ke dalam lubang yang gelap, kita tidak tahu seberapa dalam lubangnya, dan apa yang akan menyambut kita di dalam lubang itu. Kita hanya bisa berharap akan janji Allah untuk selalu memberi kebahagian pada umatnya yang menikah. Dan Allah Maha Menepati Janji.
2 kejadian berikutnya adalah di acara perhelatan pernikahan rekan saya. Salah seorang tamunya adalah sahabat beliau. Dan saya banyak berbincang-bincang. Dari beliaulah saya mengetahui bahwa rekan saya ini menikah untuk kedua kalinya.
“Oh.. ini yang kedua toh mas.. Saya ndak tau jeh”
“Iya.. ini yang kedua kalinya. Jodoh memang susah ditebak. Bukan ilmu matematika”
“Matematikanya Tuhan kan memang tidak sama dengan matematikanya manusia Mas”
“Iya, maunya kita sih jodohnya cuma sekali.. Tapi kadang kenyataan berkata lain”
“Maksudnya mas ?”
“Saya juga sudah mengalaminya kok Yud, saya juga sudah bercerai”
Dan saya kemudian terdiam …. Dalam hati saya berkata. Efek cerai itu sedemikian parahnya. Nampak betapa beratnya saat dia mengatakan saya sudah bercerai. Benar sekali kata teman saya. Paling susah dalam menjaga hubungan adalah untuk tidak terucap kata cerai atau putus. “Jangan sekali-kali terucap kata itu, karena bila kemudian terucap, maka hubungan itu jadi tidak bermakna lagi. Jika ada masalah lagi, maka akan muncul kata-kata itu lagi.. dan lagi …” Begitu kata teman saya tersebut.
Tindakan yang halal tapi paling Allah benci adalah bercerai. Karena efeknya ternyata akan sangat luar biasa. Baik bagi kedua belah pihak. Akan sangat tersakiti yang akan dibawa sampai mati. Dan akan merapuhkan kepribadian yang mengalaminya.
Kita bisa memilih… Sungguh kita bisa memilih. Apakah mau menjadikan masa lalu sebagai cara memperbaiki diri dan melangkah lagi, ataukah menjadikan masa lalu sebagai beban yang akan terus kita hindari. Pilihlah dengan bijak. Karena saya, anda, dan kita semua berhak bahagia…
Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Berusahalah melakukan yang terbaik hari ini. Apapun hasilnya, kita sudah berusaha.
PS : Cerita ini belum berakhir, karena ini barulah awal dari sebuah proses perbaikan diri setelah 100 hari menderita dan menderitakan diri. Mungkin inilah cara Allah memanggil, memperbaiki dan menyiapkanku menjadi manusia yang lebih baik.
Bulan Syawal kok begini ya ?
Bulan syawal seharusnya umat Islam bergembira. Berpesta. Karena terbebas dari api neraka. Ramadhan yang sebulan itu seharusnya menggembleng kita menjadi insan yang bertaqwa. Menjadi manusia yang kembali kepada kesadaran akan ruhnya. Akan dirinya yang sebenarnya. Dan berlega hati karena saling memaafkan dan saling berbagi.
Tapi kenapa justru malah seperti ini ya ? Kemenangan dan kegembiraan yang Engkau janjikan berlalu begitu saja ya Allah. Justru kesedihan karena ditinggalkan bulan dimana Engkau pasti mengijabahi setiap doaku.
Dan kenapa rasanya hadiahMu akan ibadahku tak juga datang ? Justru badai itu datang terulang ? Menggulung hari-hariku. Memendungkan hatiku. Tepat saat aku bahagia akan segera melangkah lagi, kau uji lagi aku dengan persoalan yang sama. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Sesungguhnya kita ini berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya.
Ya Rabbiku… Apakah ada puasaku yang kurang sempurna ? Apakah ada amal ibadahku yang ternoda riya ? Apakah ada sodaqohku yang tercemar ketidakikhlasan ? Dan hampir pasti jawabannya iya… Ya Allah.. sungguh tak akan mampu aku menjaga hatiku senantiasa ikhlas dan tawadhu jika tanpa pertolongan dan ijinMu. Sungguh aku hanya manusia yang lemah dan tanpa daya dihadapanMu…
Ku buka Al QuranMu ya Allah.. Ya Rabbi..
Kau ingatkan aku untuk bertaqwa… kubuka lagi lembar yang lain.. dan Kau ingatkan lagi aku untuk bertaqwa… Dan aku merenung kembali, apakah aku masih belum cukup bertaqwa ? Jawabannya tentu saja belum. Ya Allah, kuatkan hatiku untuk selalu bertapak di titianMu. Kuatkan imanku untuk selalu bersyukur atas qadarMu.
Ku buka lembar lain.. dan Kau ingatkan aku untuk berikhtiar. Sungguh aku berikhtiar ya Allah. Engkau Maha Melihat, dan Engkau Maha Mendengar.. Tak henti ikhtiarku untuk memperbaiki semuanya. Tak hentinya aku berusaha dan berusaha.. Ya Rabbiku, kuatkan hatiku untuk selalu berikhtiar dengan ikhtiar yang Engkau ridhoi.
Ku buka lembarMu yang lain.. dan kini Engkau inginkan aku untuk bersabar. Dan kini aku pun pasrah. Meluruh dan melemah. Sudah sampailah aku pada tahap dimana aku sudah merasa ini bukan lagi areaku. Sudah terhentilah semua ikhtiarku. Hanya tinggal bersabar menunggu pertolonganMu. Sungguh ku yakin bahwa pertolonganMu amatlah dekat.
Kini hanya tinggal takdirMu yang akan menuntun langkahku. Sudah habis usahaku. Sudah terhenti cara pikirku. Telah meluruh seluruh hatiku padaMu. Hanya tinggal pertolonganMu yang aku nantikan. Dan bersabar adalah senjataku yang terakhir. Sungguh aku yakin pertolonganMu amatlah dekat.
Ya Allah.. Ya Rabbi.. Engkau sungguh Maha Melihat lagi Maha Mendengar, dan atas sifat-sifatmu aku yakin Engkau melihat kesedihanku dan mendengar doaku. Dan aku yakin Engkau tidak akan tega melihatku terus mengemis pertolonganMu.
Dan kini.. kutunggu sodaqohMu atasku ya Allah..
PS : teruntuk genduk yang amat aku sayangi, aku masih tidak mengerti apa yang engkau inginkan sampai saat ini. apa maksud dari semua perlakuan ini ?



