Bapak Tukang Becak – Alasan mengapa saya memilih Jokowi

Tags

, , , ,

Saya tidak mengenal Jokowi secara pribadi. Saya belum pernah bertemu dengan Jokowi sampai saat ini. Dan tidak seperti testimonial lain, saya belum pernah melihat Jokowi secara langsung. Tulisan ini akan bercerita tentang keyakinan saya pribadi. Karena berdasar pengalaman pribadi saya. Mungkin akan berbeda denganmu teman-teman yang punya pengalaman yang berbeda. 

Keyakinan saya untuk memilih Jokowi justru berasal dari seorang tukang becak. Karena cerita seorang tukang becak inilah, saya merasa bahwa Jokowi pantas saya pilih di pemilu capres 9 Juli besok.

Ceritanya bermula di suatu pagi ketika saya harus mengantarkan istri saya ke Solo sekitar setahun yang lalu. Saat itu Pak Jokowi sudah menjadi gubernur Jakarta. Tidak lagi berada di Solo. Dan hingar-bingar pencapresan belum sampai pada titik seperti sekarang. Bahkan belum ada kabar bahwa Pak Jokowi akan maju sebagai capres pada pemilu kali ini.

Jadi ceritanya, kami harus ke sebuah supermarket di bilangan Solo Grand Mall untuk suatu keperluan. Dari rumah kami di Yogyakarta, kami naik kereta Pramex. Cukup 1 jam saja untuk tiba di Solo. Dan turunlah kami di Stasiun Solo Balapan. Dan untuk menuju Solo Grand Mall kami harus berganti moda transportasi. Dan karena waktu masih banyak, akhirnya kami memilih untuk naik becak saja. Sekalian menikmati hawa kota Solo yang menghanyutkan.

Saya lupa bertanya siapa nama dari Bapak Tukang Becak yang kami pilih becaknya. Selama perjalanan kami banyak ngobrol. Sampai suatu ketika, saya melihat sebuah proyek yang sedang berjalan. Dan percakapan ini terjadilah. Untuk mempermudahnya, cerita percakapan ini saya tuliskan dalam bahasa Indonesia. Aslinya sih dalam bahasa jawa.

“Wah.. ada calon bangunan apa itu Pak ? Kok sepertinya besar ? Supermarket baru ya ?” Saya bertanya begitu sebab lokasinya masih dekat dengan stasiun Solo Balapan dan disitu tidak nampak ada pusat perbelanjaan modern.

“Bukan mas. Sepertinya sih hotel. Soalnya kalau supermarket sudah tidak boleh dibangun sama Pak Jokowi.” Pak Tukang Becak di belakang kami menyahut.

“Loh Pak Jokowi kan sudah ndak di Solo lagi Pak. Kok masih diteruskan kebijakannya ?”

“Nah itulah Mas. Di Solo ini semua senang dengan kebijakan Pak Jokowi. Orang kecil seperti saya ini jadi tentram. Sodara-sodara saya yang hidupnya berjualan di pasar tradisional juga tenang karena tetap bisa laku di pasar.” Dari nadanya saya tangkap kebahagiaan besar ketika menceritakan mantan Walikotanya ini.

Saya termangu diam. Bagaimana bisa seorang yang sudah tidak memimpin suatu daerah, masih meninggalkan sebuah euforia kepemimpinan yang sedemikian kuatnya. Menimbulkan kepercayaan diri kepada masyarakat yang sudah ditinggalkannya bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Seolah-olah Pak Jokowi sendiri masih ada di Solo. Bagaimana mungkin ? Saat itu saya cuma menyimpan kesan itu dalam hati saya saja. 

Hingga kini di saat seluruh hingar bingar pemilu capres ini mencapai puncaknya. Saya meyakinkan diri bahwa ini adalah sebuah kesempatan untuk bercerita. Pak Jokowi bukan solusi yang akan menjawab seluruh permasalahan bangsa ini. Tapi meyakini bahwa ada pemerintah yang hadir dalam kehidupan bermasyarakat adalah sebuah kebutuhan yang penting untuk bangsa ini. Rasa kehadiran bahwa ada orang yang bekerja keras untuk bangsa ini dan percaya bahwa dia sungguh bekerja. Dia yang menjadi presiden kita untuk 5 tahun ke depan. Dan jika suatu saat nanti dia sudah tidak lagi memimpin bangsa ini, kita sebagai rakyatnya masih akan merasa, bahwa ada orang yang sudah bekerja keras untuk kita. Dan kita dengan senang hati meneruskan cita-citanya membangun negeri ini.

Negeri ini sudah terlalu lama kehilangan pemerintahan. Sehingga teman-teman saya sering bilang : teruslah bekerja, lupakanlah negara. Karena tidak ada kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat kita. Pemerintahan kita autopilot. Dan pemerintahan autopilot sama saja dengan bunuh diri sebagai sebuah bangsa. Terjun bebasnya bisa terjadi kapan saja.

Sudah saatnya rakyat punya rasa percaya, bahwa apapun yang mereka lakukan selama itu benar dan baik, maka negara ada di belakang mereka. Percaya bahwa mereka tidak sendiri dalam berkarya. Percaya bahwa negara ini ada di bawah kaki-kaki kecil dan tangan-tangan mungil rakyat yang berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.

Dan saya belajar dari tukang becak di kota Solo itu. Pak Jokowi memberikan kita rasa percaya itu. Karenanya, saya akan berada di barisan nomer 2. Kami akan berada 2 langkah di belakang Anda Pak. Untuk menjaga agar Anda tidak main-main dengan kepercayaan kami.

Saya sudah menentukan pilihan. Kalau kamu ?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,973 other followers